Selamat datang pengunjung |
Realestat Indonesia
Berita&Liputan

Laporan Utama

Pengembang Bukan Spekulan Tanah

JAKARTA - Banyak pihak yang belum paham, menganggap pengembang properti itu tidak ada bedanya dengan para spekulan tanah. Memborong tanah di mana-mana, untuk kemudian menjual kembali dengan harga berlipat-lipat.
Bergabung Dengan Facebook Kami

 


BERITA

Pasar Properti Mewah di Singapura Diproyeksi Kolaps

JAKARTA - Pasar properti mewah di Singapura diprediksi memasuki masa kolaps. Kebijakan coolling yang dilakukan pemerintah Singapura yang menetapkan pajak penjualan properti sebesar 18 persen untuk para ekspatriat atau asing ditengarai memukul pasar properti mewah di Singapura.

Dilansir dari CNBC, Selasa (24/2/2015), salah satu kawasan elit di Singapura yang terkena dampak perlambatan tersebut adalah Sentosa Cove. Kawasan ini merupakan rumah para ekspatriat dari China, Singapura, dan Indonesia.

"Sejauh ini, Sentosa Cove adalah kawasan elit yang paling parah terkena imbas dari perlambatan ini," kata Analis dari Maybank Kim Eng Securities, Wee Siang Ng.

Dirinya menyebut, pasar properti mewah di Singapura mulai melejit pada tahun 2004, setelah krisis moneter dan wabah SARS melanda Asia. Pada waktu itu, pemerintah Singapura menawarkan insentif pajak dan kebijakan menguntungkan lainnya untuk memikat perusahaan asing. Namun, seiring dengan kemudahan yang diberikan membuat pembangunan apartemen dan kondominium mewah di Singapura kian masiv.

Setelah Pemilu pada 2011, salah satu partai penguasa di Singapura, Partai Aksi Rakyat berhasil memenangkan pemilu. Setelah itu, pemerintah pun segera mengambil langkah untuk mengurangi investasi asing.

"Ada kekhawatiran pada pemilu tersebut asing yang berpartisipasi dalam pasar properti membuat harga menjadi tinggi," jata Direktur Jones Lang LaSalle kawasan Asi Tenggara, Christopher Fossick.

Kini, di Singapura, siapa saja yang mau menjual properti yang baru ditempati satu tahun harus membayar pajak 16 persen dari harga jual. Sementara properti yang baru ditempati dua tahun akan kena pajak 12 persen, dan begitu seterusnya. Tak sampai disana, pemerintah juga mulai membatasi jumlah pinjaman kepada nasabah yang mau meminjam uang.

Sejak saat itu, penjualan properti di Singapura pun menjadi anjlok. Tahun 2014 tercatat harga rumah di Singapura turun hingga empar persen. Bahkan, untuk tahun ini, beberapa analis memperkirakan penurunan harga rumah di Singapura akan memasuki angka dua digit.

"Sebaiknya langkah cooling ini dihapus, dan harga diprediksi akan kembali pulih," tutup dia

pasar propti.

Post : Selasa, 24 Februari 2015