Sajian Utama

Agar Bersaing, Manfaatkan DIRE

Administrator | Senin, 04 April 2016 - 15:42:31 WIB | dibaca: 1149 pembaca

Era pasar tunggal ASEAN atau lebih dikenal dengan MEA memberikan banyak dampak positif bagi dinamika bisnis properti. MEA telah membuka mata bahwa banyak jalan dan terobosan yang bisa dilakukan untuk pesat berkembang. Dalam kancah bisnis Internasional, pembiayaan melalui DIRE sudah sangat familiar.

Di banyak negara DIRE sangat diminati karena menjadi terobosan pendanaan yang efektif. Reksa dana jenis DIRE akan digunakan untuk membeli tanah, bangunan, gedung, perkantoran, hotel, apartemen, rumah sakit, saham dan obligasi perusahaan pengembang.

Jadi sederhananya patungan uang, dikelola secara profesional oleh manajer investasi untuk dikelola ke dalam properti. Sammy Luntungan, Wakil Ketua Umum REI Bidang Pasar Modal dan DIRE, punya argumen terkait DIRE, harapannya bahwa pembiayaan dengan memanfaatkan dana masyarakat ini bisa dioptimalkan. Berikut perbincangannya dengan majalah REI medio Januari 2016 :

Apa yang menjadi kendala sulitnya DIRE berkembang di Indonesia?

Kendala utama masih soal perpajakan yang membuat skema DIRE kurang menarik di Indonesia. DIRE ini bentuknya kontrak investasi kolektif dana investasi realestat (KIK-DIRE). Artinya ada pengalihan aset dari perusahaan properti yang akan dibeli oleh masyarakat umum.

Nantinya perusahaan properti tersebut akan membentuk perusahaan atau PT baru yang namanya Special Purpose Company (SPC). Aset ini akan dialihkan ke SPC, yang menjadikannya tidak menarik karena perusahaan yang menjual akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPH) dan pajak BPHTB yang masing-masing besarnya lima persen.

Bukankah pemerintah sudah menurunkan pajak untuk DIRE ini?


Memang sudah diturunkan menjadi satu persen dan untuk itu kami sangat mengapresiasi. Tetapi untuk BPHTB, karena ini pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah masih diberlakukan sebesar lima persen. Makanya kami mengusulkan kepada pemerintah, khusus untuk DIRE ini pajak BPHTB bisa ditangguhkan supaya transaksinya lebih menarik.

Gambarannya begini, kalau perusahaan properti menjual asetnya, dia akan mendapatkan dana dari pasar modal. Dana ini akan digunakan untuk membangun properti lagi sehingga akan ada potensi pajak besar yang akan bisa digali dan efeknya bisa berlipat ganda. Jadi dikurangi di BPHTB tetapi pemerintah akan memperoleh pajak dari pengembangan yang lainnya.

Apakah investasi ini cukup menarik, artinya apakah masyarakat maupun investor akan tertarik untuk membeli?

Kami ambil contoh di Singapura yang regulasi mengenai investasi ini sudah sangat pro pasar. Di sana BPHTB yang diberlakukan hanya tiga persen sehingga instrumen DIRE ini sangat diminati. Masyarakat bisa membeli saham mal besar, hotel, maupun properti komersial lainnya yang sudah sangat maju misalnya hanya dengan Rp 50 juta, tentu ini sangat menarik. Pengembang juga mendapatkan alternatif pendanaan non konvensional untuk bisa berekspansi lebih besar lagi.

Apakah pernah dihitung berapa  potensi dana yang bisa ditarik dari instrumen DIRE di Indonesia?

Untuk dihitung persis berapa potensi dana yang bisa diraih dari instrumen DIRE memang belum pernah kami lakukan. Tetapi untuk gambarannya, perusahaan Indonesia yang melakukan DIRE di Singapura asetnya saat ini mencapai Rp30 triliun. Ini baru dari satu perusahaan, kalau aset ini bisa ditarik ke Indonesia pasti dampaknya akan sangat luar biasa.

Jadi sekali lagi pajak yang satu persen sudah cukup menarik, tetapi yang BPHTB ini belum menarik. Menurut kami, pemerintah daerah juga harus memerhatikan ini, kalau sudah oke tentunya kami akan mulai dari Jakarta yang pasar propertinya sudah lebih matang.