Kilas Berita

Apartemen di Sentul Alaya Dipasarkan Tahun Ini

Administrator | Rabu, 18 September 2019 - 16:27:50 WIB | dibaca: 151 pembaca

Foto: Istimewa

Pengembang PT Karya Bintang Gemilang (KBG) berencana memasarkan apartemen setinggi 13 lantai di kawasan hunian Sentul Alaya, Bogor. Apartemen ini hanya mencakup 10 unit per lantai, dengan tipe studio seluas 34 meter persegi. Harganya dibanderol sekitar Rp 500 juta hingga Rp 600 jutaan per unit.

“Tapi ada unit yang paling mahal yang kami jual kurang dari Rp 1 miliar. Apartemen ini ditujukan untuk konsumen yang ingin memiliki hunian di Sentul Alaya namun dengan harga lebih kompetitif,” kata Direktur Marketing KBG Syukurman Larosa, di Sentul, baru-baru ini.

Saat ini, KBG masih melakukan proses uji pasar guna melihat preferensi, sehingga didapat strategi yang tepat dalam mengantisipasi tren yang dibutuhkan pasar. Namun demikian, Syukurman yakin apartemen ini dapat diserap mengingat kinerja tiga klaster hunian tapak sebelumnya yang telah terjual mencapai 95 persen dari total 437 unit.

Selain itu, tahun ini KBG juga akan meluncurkan klaster keempat Perumahan Sentul Alaya, tepatnya pada akhir Semester II-2019. Total yang dipasarkan sekitar 300 unit hunian dengan harga mulai Rp 3 miliar ke atas.

“Klaster keempat ini menyasar segmen pasar lebih tinggi dari tiga klaster sebe-lumnya. Jadi ini untuk kelas atas. Sebelumnya Allegro, Grandioso, dan Cadenza menyasar kelas menengah atas,” ujar Syukurman.

Syukurman mengatakan, konsumen yang meminati Sentul Alaya memiliki profil yang unik dan berbeda. Sebagian besar merupakan warga Jakarta, dan sedikit sekali investor. Sebagian besar adalah end user meski ada yang hanya seminggu sekali berada di kawasan hunian seluas 34 hektar tersebut. “Hunian di Sentul Alaya ini tidak hanya menjadi aset sebagai instrumen investasi melainkan benar-benar ditempati oleh pemiliknya,” jelas dia.

Pertumbuhan harga ketiga klaster di Sentul Alaya sangat signifikan yakni rata-rata naik 50 persen sejak dikembangkan pada 2012. Kebutuhan dan penjualan rumah tetap ada, meski krisis sekali pun. (Taria Dahlan)