Berita

Aturan LTV Perlu Diikuti Sinkronisasi Kebijakan Perpajakan

Administrator | Jumat, 27 Juli 2018 - 11:31:52 WIB | dibaca: 96 pembaca

Jakarta - Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) menyambut positif kebijakan relaksasi Loan to Value (LTV) yang dilakukan Bank Indonesia. Langkah ini dinilai sebagai kebijakan jitu di tengah lesunya industri properti di Tanah Air.

Asosiasi memperkirakan relaksasi tersebut akan mendorong pertumbuhan penjualan setidaknya 10% secara year on year di segmen menengah. “Khususnya untuk hunian dengan harga Rp 200 juta hingga Rp 500 juta per unit,” ungkap Ketua Umum DPP REI, Soelaeman Soemawinata dalam siaran persnya, Senin (16/7).

Namun, REI mengharapkan terobosan yang dimaksudkan untuk menggerakkan kembali sektor properti itu perlu disempurnakan dengan sinkronisasi dengan beberapa kebijakan lain.
 
Contohnya, peninjauan sejumlah peraturan perpajakan yang selama ini kurang ramah terhadap perkembangan industri properti. Antara lain isu penerapan PPN Final, pajak lahan terlantar, PPnBM dan jenis-jenis pajak lainnya yang sudah tidak relevan.

“Contoh PPnBM sebesar 20% untuk rumah tapak mewah seharga Rp 20 miliar dan rumah vertikal strata-title seharga Rp 10 miliar per unit, menurut saya sebaiknya di tax holiday atau dihilangkan kan saja dulu. Karena ini menghambat secara psikologis, dimana pengembang akhirnya memilih untuk tidak membangun hunian seharga itu, padahal pasarnya ada,” kata Soelaeman.

Dia juga menyoroti maraknya isu penerapan pajak final non final dan penerapan pajak progresif untuk tanah terlantar beberapa waktu lalu yang cukup mengganggu psikologis pengembang. Banyak pelaku usaha properti yang sudah mau bergerak akhirnya memilih untuk menyetop dulu pembangunan. 
 
 
Sumber: kontan.co.id