AKTUAL

Bahaya, Generasi Milenial Lebih Pilih Sewa daripada Beli Rumah

Administrator | Kamis, 13 September 2018 - 13:47:52 WIB | dibaca: 15 pembaca

Foto: Istimewa

Minimnya ketertarikan generasi milenial untuk membeli properti bukan sekedar masalah kemampuan saja, tapi justru lebih kepada kemauan. Dorongan terbesarnya adalah kurangnya edukasi.

Generasi milenial yang rata-rata berusia 25-35 tahun merupakan kelompok produktif yang merupakan angkatan kerja terbesar saat ini di Indonesia. Kelompok ini memiliki penghasilan memadai dan sadar terhadap gaya hidup. Namun sayangnya, sebagian besar kelompok ini menurut survei enggan membeli rumah dan lebih memiliki sewa rumah guna memenuhi tuntutan gaya hidup.

Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil riset perusahaannya generasi milenial memiliki tren yang berbeda mengenai hunian. Mereka lebih mengedepankan upaya mencari pengalaman dan hiburan antara lain belanja barang mewah atau pergi plesiran. Apalagi saat ini tiket pesawat dan hotel murah cukup mudah diperoleh.

Berdasarkan survei Rumah123, belanja gadget dan traveling menjadi prioritas pembelian generasi milenial yang memiliki gaji sekitar Rp 3 juta hingga Rp juta per bulan, kemudian baru menyusul properti.

“Namun mereka lupa bahwa faktanya kenaikan harga properti lebih cepat dari kenaikan penghasilan mereka. Ini yang banyak dilupakan kelompok milenial,” ungkap Untung dalam sebuah diskusi dengan media di Jakarta, baru-baru ini.

Oleh karena itu, berulang kali dia menyarankan generasi milenial untuk membeli rumah daripada menyewa. Menurut Untung, selisih harga biaya sewa dan cicilan rumah tidak berbeda jauh. Sebagai contoh biaya sewa rumah di area Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang berkisar 36 persen hingga 56 persen dari cicilan.

Rumah123 telah melakukan pemetaan di enam daerah, dimana terlihat dari enam daerah itu biaya sewa rumah termahal ada di daerah Bintaro dan terendah di Depok. Harga cicilan rumah di wilayah Bintaro tercatat 0,56 kali harga rumah, sementara di Bekasi 0,47 kali, Depok 0,36 kali, Tangerang 0,46 kali, Tangerang Selatan 0,48 kali, dan BSD 0,42 kali.

“Kami menilai kondisi enggannya generasi milenial membeli rumah itu karena minimnya edukasi mengenai pentingnya properti, terutama edukasi mengenai kredit pemilikan rumah (KPR). Selama ini banyak yang tidak tahu atau menilai rumit cara perhitungan KPR. Ini salah satu faktor yang membuat mereka jadi enggan membeli rumah,” papar dia.

Kalau kondisi keengganan itu terus berlanjut, Untung menilai industri properti dalam kondisi bahaya. Padahal idealnya membeli properti harus dilakukan selambat-lambatnya tiga tahun sebelum menikah. Dia mengimbau kelompok produktif ini agar lebih peka dan sadar dengan pentingnya memiliki hunian.

“Kami juga menyarankan developer untuk mulai membangun satu hunian yang memberi perhatian terhadap kebutuhan-kebutuhan generasi milenial ini baik dari sisi konsep, maupun fasilitas khususnya jaringan internet,” saran dia.

Jangan Tunda Membeli
Untung menambahkan, kerugian akan didapat generasi milenial jika menunda beli properti. Karena setiap menunda satu tahun pembelian properti, maka mereka akan kehilangan 4%-8% ukuran properti yang bisa dibeli.

“Misalnya ingin membeli rumah seluas 100 meter persegi, jika ditunda belinya tahun depan maka yang bisa dibeli hanya yang berukuran 92 meter persegi. Begitu terus kalau ditunda-ditunda, maka ukuran rumah yang mampu dibeli semakin kecil,” papar dia. 

Sebaliknya, ada keuntungan yang dapat dirasakan kelompok milenial ini kalau membeli properti di kisaran usia 25 tahun hingga 35 tahun, yakni memperoleh return yang menjanjikan. Menurut Untung, membeli properti merupakan cara paling cepat untuk meningkatkan kekayaan, dapat membantu pengaturan belanja secara keseluruhan, dan dapat mengembalikan daya beli awal selama tiga tahun.

Diperkirakan pada 2030, sekitar 70% dari usia produktif di Indonesia adalah generasi milenial. Jadi, tidak berlebihan kalau kelompok ini merupakan aset masa depan Indonesia, sekaligus kelompok pembeli terbesar di Tanah Air.

Butuh Edukasi
Sementara itu, menurut Wakil Ketua Umum DPP REI Ikang Fawzi, dibutuhkan edukasi yang terus-menerus kepada generasi milenial mengenai investasi properti, dan untung-rugi membeli rumah dengan menyewa rumah.

“Anak-anak muda itu perlu diedukasi yang benar mengenai investasi. Ini tanggungjawab kita semua, karena rumah itu penting. Bukan hanya sekadar tempat berteduh, namun juga tempat dan lingkungan untuk membangun karakter,” papar Ikang kepada Majalah RealEstat, baru-baru ini.

Sebagai contoh informasi mengenai perbedaan antara sewa dan beli. Beli rumah, ungkap Ikang, sifatnya adalah investasi. Sedangkan sewa sifatnya biaya (cost). Ini dua hal yang berbeda. Sewa tidak berkaitan dengan investasi, karena rumah kontrakan bukan aset milik dia dan tentunya tidak punya nilai (value). Berbeda dengan membeli, karena setiap penambahan investasi (yang dimiliki), maka dia juga akan memperoleh tambahan nilai yang signifikan.

“Jadi sayang sekali kalau mereka terus menyewa properti orang dan tidak berpikir untuk memiliki sendiri. Kita perlu berikan informasi yang jelas kepada generasi milenial soal ini,” kata artis yang juga pengembang tersebut.

Untuk generasi milenial yang mobile, tinggal di apartemen berkonsep Transit Oriented Development (TOD) adalah yang paling tepat, karena aksesnya mudah. RIN