Jalan-Jalan

Berpelesir di Sejuknya Kota Bukittinggi

Administrator | Rabu, 10 Januari 2018 - 14:03:07 WIB | dibaca: 271 pembaca

Bukittinggi merupakan salah satu kota indah yang layak diperhitungkan untuk masuk ke dalam daftar tujuan wisata keluarga. Berlokasi sekitar 90 kilometer di utara kota padang, kota terbesar kedua di sumatera barat ini pernah menjadi ibu kota negara indonesia semasa pemerintahan darurat republik indonesia (pdri) pada tahun 1948.

Keberadaannya pada ketinggian 909 hingga 941 meter di atas permukaan laut (mdpl) telah menjadikan kota tempat bernaungnya komandan militer ke-25 Kempetai pada masa pendudukan Jepang ini berhawa sejuk. Kondisi ini tentu semakin menjadikan Bukittinggi sebagai salah satu destinasi favorit untuk berpelesir. Dengan luas sekitar 25 km persegi, Kota Bukittinggi memiliki tujuan wisata yang berjarak tidak terlalu jauh antara satu dengan yang lainnya. Berikut beberapa obyek wisata yang sayang untuk dilewatkan saat berkunjung ke Parijs van Sumatra ini.

JAM GADANG
Jam Gadang, dalam bahasa Indonesia berarti jam besar. Objek ini merupakan ikon Kota Bukittinggi, bahkan menjadi ikon untuk obyek wisata Provinsi Sumatera Barat. Jam tersebut pertama kali dibangun pada 1926, sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Sekretaris atau Controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Meskipun hadiah dari Belanda, arsitektur Jam Gadang dirancang oleh arsitektur pribumi, Yazid Abidin Rajo Mangkuto.

Selain bisa melihat landmark Kota Padang, pengunjung bisa berwisata kuliner di sekitar jam raksasa tersebut. Hari-hari ini, Jam Gadang juga jadi spot swafoto favorit saat berkunjung ke Kota Bukittinggi.

JANJANG AMPEK PULUAH
Janjang adalah tangga, sedangkan ampek puluah berarti 40, sehingga bisa diartikan Janjang Ampek Puluah adalah tangga 40. Objek wisata ini terletak di kelurahan Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi. Tangga 40 menghubungkan antara Pasar Atas, Pasar Bawah, dan Pasar Banto di Bukittinggi.

Janjang Ampek Puluah dahulu dibangun untuk menghubungkan setiap pasar di Bukittinggi, janjang ini berfungsi sebagai penataan pasar. Keunikan Jenjang 40 telah menjadi daya tarik sendiri, begitu pula latar belakang sejarahnya. Sehingga sangat layak untuk dikunjungi.

Selain Jenjang Empat Puluh, beberapa jenjang lainnya juga dibangun, di antaranya Janjang Gudang, Janjang Kampuang Cino, dan jenjang di Pasa Lereng yang bersambung dengan Janjang Gantuang, yang jadi jembatan penyeberangan pertama di Indonesia.

BENTENG FORT DE KOCK
Benteng peninggalan era Kolonial Belanda ini dibangun pada 1825, kemudian direnovasi pada 2002 oleh pemerintah daerah setempat dan berubah menjadi Taman Kota Bukittinggi Bukittinggi City Park) dan Taman Burung Tropis (Tropical Bird Park). Benteng yang terletak di puncak Bukit Jirek ini menjadi saksi kegigihan pasukan Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol dalam melawan pasukan Hindia Belanda.

Meski telah direnovasi, benteng tersebut tetap bercat putih-hijau setinggi 20 meter. Sekarang, selain bisa melihat benteng tersebut, pengunjung juga bisa mengamati berbagai macam satwa dan belajar sejarah di museum dapat dinikmati sekaligus.

Tempat yang berhawa sejuk dan rindang ini, sering dijadikan tempat piknik keluarga atau tujuan bagi rombongan siswa TK maupun SD untuk mengenal alam, sejarah dan budaya sekaligus.

LUBANG JEPANG
Bukittinggi bisa jadi adalah kota sejarah, setelah beberapa objek wisata dari peninggalan Belanda, kini adalah objek wisata dari era penjajahan Jepang. Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan.

Terowongan di Lubang Jepang mencapai 1.400 meter dan berkelokkelok serta memiliki lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus terdapat di terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata. Namun, pada 1984 mulai jadi objek wisata dengan beberapa pintu masuk yang terletak di kawasan Ngarai Sianok, Taman Panorama, di samping Istana Bung Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi.

NGARAI SIANOK
Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan Kota Bukittinggi, di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dan menjadi objek wisata andalan di Sumatera Barat. Jurang Ngarai Sianok sedalam 100 meter dan membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 meter.

Jurang ini sangat indah meski bertebing curam, Airnya yang cukup jernih ini bermuara di Samudera Hindia. Pada 2007, Ngarai Sianok mendapatkan The Best Tourism Object dengan keindahan alam yang dimilikinya. TPW