RISET

Bisnis F&B Diprediksi Masih Ekspansif Hingga 2023

Administrator | Selasa, 09 Oktober 2018 - 10:18:44 WIB | dibaca: 23 pembaca

Bisnis makanan dan minuman atau food & beverage (F&B) masih akan menguasai permintaan ruang ritel di pusat-pusat perbelanjaan di Indonesia khususnya di Jabodetabek hingga lima tahun ke depan. Demikian diungkap konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia, baru-baru ini.

Head of Retail JLL Indonesia, Cecilia Santoso, menyebutkan sektor F&B terlihat ramai dan semakin ekspansif sejak kuartal III 2017. Tren ini berkaitan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan di Indonesia yang suka mengobrol bahkan bekerja sambil makan dan minum di pusat-pusat perbelanjaan.

“Konsep F&B makin ekspansif di kuartal III 2017, meski di luar negeri ini sudah lama sekali trennya. Kami prediksi tren ini akan bertahan setidaknya hingga lima tahun ke depan,” papar Cecilia kepada wartawan, baru-baru ini.

Akibat konsep yang berubah, kecenderungan orang ke mal yang awalnya untuk berbelanja juga akan berubah. Ke depan, masyarakat akan lebih memilih mal yang memiliki masakan yang enak, tempat yang nyaman, dan instragramable karena tempat tersebut akan menjadi tempat rapat atau ruang pertemuan.

Selain perubahan konsep, tren pembangunan pusat ritel di tahun ini juga diprediksi akan berubah. Arahnya diperkirakan menuju ke timur atau lokasi-lokasi yang banyak dibangun sarana transportasi massal, seperti LRT yang sudah mulai dikerjakan baik oleh pemerintah pusat maupun swasta. Dengan arah pembangunan yang berbeda, maka pusat perbelanjaan atau mal juga akan berubah secara konsep. Ke depan mal-mal yang dibangun akan cenderung mengarah mixed use atau Transit Oriented Development (TOD).

“Ke depan konsep-konsep departement store akan berubah dan akan berganti dengan fast fashion, F&B dan kids entertaiment. Selain itu, juga akan berkembang di area residensial dan gedung perkantoran,” ungkap Cecilia.

Selain itu, banyaknya tren online yang berkembang secara bertahap mulai diantisipasi oleh para pengembang pusat perbelanjaan dengan membuat komposisi tenant yang lebih menarik masyarakat untuk mengunjungi mal tersebut.

Okupasi Masih Tinggi
Sepanjang 2017, terutama pada kuartal terakhir dengan ruang ritel yang terbatas, tenant-tenant memang tidak memiliki banyak pilihan.

Berdasarkan data JLL, penambahan ruang ritel baru di Jabodetabek pada 2017 hanya dikontribusikan oleh Aeon Mal Jakarta Garden City.

Akibatnya, tahun lalu penyerapan pasar ruang ritel sangat terendah yaitu kurang dari 50 ribu meter persegi. Padahal, sejak 2014, rata-rata penyerapan ruang ritel mencapai 56 ribu meter persegi.

“Meski begitu, okupansi pada 2017 masih cukup tinggi, yaitu 90% dan angka tersebut masih akan bertahan hingga lima tahun ke depan,” tutur Cecilia.

Kabar buruknya, dengan okupansi yang sudah tinggi tersebut, tenant baru terutama untuk kelas primer akan sangat kesulitan mendapatkan ruang ritel. Hingga akhir 2017, ruang ritel di Jabodetabek mencapai 2,9 juta meter persegi dengan pasokan di masa depan sebesar 106 ribu meter persegi.

Sedangkan harga sewa saat ini masih bertahan di Rp 494.717 per meter persegi dengan kenaikan yang masih sesuai dengan tingkat inflasi tahunan.

Tahun Politik
Menurut riset JLL, 2017 menjadi tahun yang memberikan kesan bahwa bisnis properti masih menarik. Hal tersebut dapat dilihat dari tingkat permintaan yang mulai membaik dan beberapa investor dari Singapura, China, Hongkong, dan Jepang masih masuk ke Indonesia.

“Dari segi pasokan, pada 2017 sangat baik terutama untuk sektor perkantoran, logistik, dan residensial. Menjelang tahun politik, diharapkan realisasi investasi tidak terganggu dan tetap stabil,” jelas Country Head JLL Indonesia, Todd Lauchlan.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi pada 2017 yang di atas 5%, pembangunan infrastruktur, dan peringkat kemudahan berbisnis dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pengembang properti membuat akhir tahun 2017 cukup bergairah untuk sektor properti.

“2018 akan lebih tricky, pengembang harus jeli membaca peluang dan permintaan pasar, namun juga tetap waspada menjelang tahun politik yang makin mendekat,” jelas Vivin Harsanto, Head of Advisory JLL Indonesia.

Sementara itu, konsultan properti lainnya, Colliers Internasional menyebutkan bahwa pertukaran tenant dan penutupan pusat perbelanjaan pada 2017 adalah hal yang lumrah terjadi pada bisnis ritel.

Meski begitu, sepanjang 2017, okupansi pusat perbelanjaan di Jabodetabek masih baik bahkan dari sisi sewa masih ada kenaikan hingga 5%. Meski kecil, sepanjang 2018, dengan ruang ritel yang terbatas masih ada pertumbuhan bagi sektor ritel di 1% hingga 2%. TPW