RESENSI

Building a Ship While Sailing

Administrator | Kamis, 08 November 2018 - 13:54:04 WIB | dibaca: 25 pembaca

Foto: Istimewa

Penulis : S.D. Darmono
Isi : 208 Halaman
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan : Pertama, Juni 2017
ISBN : 978-602-42-4343-2

Judul buku ini diinspirasi oleh ceramah Prof. Emil Salim beberapa tahun lalu ketika meresmikan Botanical Garden di Jababeka Cikarang, Bekasi. Menurut penuturan sang penulis Setyono Djuandi Darmono atau lebih dikenal publik dengan S.D. Darmono, sambil bergurau ketika itu Prof Emil Salim mengatakan bahwa kita ini membangun negeri seperti membangun kapal sambil berlayar. Yah, Building a Ship While Sailing.

Penulis mengakui kedalaman berpikir, kebijaksanaan dan kebenaran dari kalimat tersebut, sehingga muncullah inspirasi untuk membuat buku dengan judul tadi, yang seperti buku yang kini Anda pegang dan baca. Diakui buku ini lahir dari sebuah semangat untuk membangkitkan keinginan para pembaca supaya dengan sekuat tenaga membantu saudara-saudara sebangsa kita yang masih belum sejahtera.

Ini adalah buku yang kesekian kali ditulis S.D Darmono, seorang pengusaha sukses dan pencinta budaya yang sangat mencintai Indonesia. Sebelumnya sejumlah buku beliau sudah diterbitkan yang memperlihatkan pemikiran kritis penulis terhadap kondisi ekonomi dan kesejahteraan anak bangsa seperti buku Think Big Start Small Move Fast, Menembus Batas, 100 New Cities Indonesia, dan One City One Factory.

Buku Building a Ship While Sailing ini seakan menjadi wadah untuk menuangkan hasil pengamatannya mengenai apa yang sudah dikerjakan bangsa ini selama hampir 72 tahun sejak Indonesia merdeka. Serta bagaimana seluruh rakyatnya merasa terlibat sebagai kru dalam membangun kapal besar bernama Republik Indonesia (RI) yang belum selesai dibangun, dan tak akan pernah selesai.

Oleh karena itu, Pak Darmono mengingatkan semua anak bangsa untuk selalu mawas diri, mengkaji ulang, melihat ke belakang apa yang sudah dilakukan, sekaligus menyiapkan langkah di masa mendatang.

Penulis juga menceritakan bagaimana kerja keras dan pandangan visionernya dalam membangun sekoci atau kapal yang lebih kecil yakni PT Jababeka dalam membangun kota baru. Dia mengaku belajar dan menyontek cerita sukses dari negeri jiran Singapura dalam membangun negara kota. “Bagaimana city state itu sukses menjadi begitu makmur dalam tempo pendek. Ini sebuah poin penting yang perlu dicontoh Indonesia,” ungkapnya.

Dalam rentang waktu tiga dekade terakhir, penulis telah mengundang banyak sahabat dan investor untuk mengembangkan kota otonom di Cikarang yang diberinama Kota Jababeka. Sebuah daerah yang kini sudah menjelma menjadi salah satu kota baru dengan kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Pak Darmono pun mengibaratkan Jababeka atau Cikarang tak ubahnya seperti microchip yang terintegrasi dengan kapal induk RI.

“Sambil bekerja, sambil memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lampau, sambil mendidik generasi muda, sambil terus membangun, sambil bermimpi dan bekerja ulet membangun kapal RI yang sedang berlayar ini menuju tujuan bersama yakni kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya,” ungkap penulis dalam bukunya ini.

Pengusaha senior nasional, Mochtar Riady yang turut memberikan komentar terhadap buku yang ditulis koleganya ini memuji bahwa dalam mengendalikan bisnisnya Pak Darmono sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur keagamaan, seperti kejujuran, cinta keluarga, cinta negara, kemanusiaan yang berujung pada cita-citanya untuk mensejahterakan rakyat sebagai realisasi syukurnya kepada Tuhan.

Sebuah buku yang mesti dibaca oleh para pengusaha Indonesia, wirausahawan, start up yang ingin mulai berkecimpung di dunia bisnis, mahasiswa, dan siapa saja yang ingin belajar banyak dari kerja keras dan tujuan hidup salah seorang legenda properti nasional, Setyono Djuandi Darmono. (Rinaldi)