TOPIK UTAMA

Ketua Umum DPP REI - Soelaeman Soemawinata

"Butuh Kota yang Memenuhi Kebutuhan Masa Kini dan Nanti"

Administrator | Selasa, 13 Maret 2018 - 11:05:52 WIB | dibaca: 63 pembaca

Ketua Umum DPP REI - Soelaeman Soemawinata

Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) di bawah kepemimpinan Soelaeman Soemawinata kembali membikin terobosan dengan menggelar untuk pertama kalinya Indonesia Future City yang dibarengi dengan pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) REI 2017 di ICE BSD, Tangerang. Kegiatan ini bekerjasama dengan Kompas Gramedia Group dan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI).

Bukan tanpa alasan event Indonesia Future City diadakan, mengingat sebagai asosiasi perusahaan properti tertua dan terbesar REI memiliki peran penting dalam pembangunan kota-kota di Indonesia. Lewat kegiatan ini REI mendapat banyak masukan dari berbagai pihak untuk mendorong tumbuhnya sentra-sentra pertumbuhan baru guna menciptakan pemerataan pembangunan di berbagai daerah di Indonesia yang diharapkan bisa menjadi “modal” awal untuk menyusun satu model acuan kota-kota masa depan nasional.

Seperti diketahui pemerintah berencana membangun kota-kota baru di luar Jawa, di antaranya ada 10 kota baru, kawasan ekonomi khusus (KEK), 14 kawasan industri dan 10 destinasi pariwisata prioritas.

Apa yang sebenarnya menjadi tujuan pelaksanaan Indonesia Future City ini? Berikut wawancara Majalah RealEstat dengan Ketua Umum DPP REI, Soelaeman Soemawinata di ICE BSD, beberapa waktu lalu.

Apa dasar dan tujuan dari pelaksanaan Indonesia Future City ini?
Kegiatan ini mengumpulkan seluruh pemangku kepentingan di bidang perkotaan, tidak hanya pengembang tetapi juga pemerintah pusat dan pemerintah daerah, ada Apeksi yang mensupport penuh. Selain itu ada akademisi, pengamat dan asosiasi terkait lainnya.

Dengan semua berkumpul, kami berharap banyak masukan dan saran yang diberikan peserta Indonesia Future City untuk melahirkan satu rule model dalam pengembangan kota-kota masa depan (future city) dan kota-kota pintar (smart city). Sebab, salah satu tolak ukur keberhasilan pembangunan di Indonesia adalah hadirnya kota masa depan yang maju dan berdaya saing. Saya kira ini juga selaras dengan apa yang diinginkan pemerintah.

Yang kedua, lewat kegiatan ini kami juga ingin lebih memperkuat peran sektor swasta properti dalam mempercepat dan mensukseskan Program Sejuta Rumah (PSR) yang merupakan program strategis pemerintah. Kemudian, event ini dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan industri properti sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional yang menciptakan banyak lapangan kerja.

REI concern sekali untuk mendorong pertumbuhan kota-kota baru terlebih di luar Pulau Jawa. Mengapa?
Fakta bahwa penduduk Indonesia tumbuh 1,2% per tahun, itu artinya ada 3 juta bayi lahir di Indonesia setiap tahunnya. Ini tidak bisa dibantah dan tidak ada teknologi yang mampu mengurangi penambahan penduduk itu. Orang Indonesia itu prinsipnya masih hidup dengan banyak anak. Nah, setiap kelahiran tentu akan mengisi ruang-ruang kosong. Orang kemudian bangun rumah, bangun properti pendukung kota yang lain.

Ini semua bukan tanpa risiko. Sawah yang per hektar mungkin bisa menghasilkan 12 ton beras diekspansi untuk perumahan, demikian juga lahan hutan sehingga menyebabkan banjir, laut direklamasi. Kita dihadapkan pada kondisi ini, apalagi budaya masyarakat Indonesia maunya rumah dengan tanah sehingga penggunaan tanah makin tidak efisien. 

Kemudian terjadi pula kesenjangan infrastruktur antara Jawa dan luar Jawa. Hal itu berujung pada kesenjangan ekonomi dan pemerataan distribusi penduduk. Kalau kita lihat saat ini, kontribusi Pulau Jawa dalam pembentukan GDP nasional mencapai 74%, sedangkan luar Jawa hanya 26%. Demikian pula dalam penyebaran penduduk, sekitar 70% penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa.

Ada ketimpangan yang jelas sekali di depan mata kita. Sehingga REI sebagai pelaku pembangunan berupaya ikut mendorong orang supaya tidak terus berurbanisasi ke Jawa terutama ke Jakarta, dengan cara menumbuhkan lebih banyak kota-kota baru.

Oleh karena itu, REI memberikan dukungan penuh terhadap rencana pemerintah mendorong infrastruktur dan pengembangan kota-kota baru baik yang berbasis industri maupun pariwisata. Kami siap bekerjasama dengan para profesional perencana wilayah dan kota untuk mengindentifikasi lebih lanjut 10 kota baru, 14 kawasan industri dan 10 destinasi pariwisata yang sudah dicanangkan pemerintah.

Bagaimana kondisi kota-kota yang sekarang ini ada, apakah belum memadai?
Kami melihat kota-kota di Indonesia yang sekarang sudah ada terbentuk karena dua kondisi. Pertama kota dengan maturity of development atau sudah lama terbentuk seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya dan lain-lain. Kota jenis ini tidak direncanakan untuk masa depan, sehingga tidak siap dengan ledakan jumlah penduduk yang berujung pada kemacetan dan tingginya angka kriminalitas.

Inilah kota-kota yang sekarang kita sebut kota metropolitan. Dia menjadi magnet ekonomi dan menarik banyak penduduk luar masuk berurbanisasi. Padahal di sana ada kekurangan lahan akibat tanah semakin mahal.

Fenomena tersebut kemudian mendorong terjadinya redistribusi penduduk ke kota-kota di pinggirannya. Seperti Jakarta, kemudian muncul kota-kota baru di sekitarnya seperti Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor. Pemerintah dan swasta kemudian membangun infrastruktur di sana yang terhubung dengan Jakarta, sehingga terbentuklah kota megapolitan.

Yang kedua, ada kota-kota yang terbentuk karena adanya basis ekonomi tertentu. Misalnya kota berbasis industri atau pariwisata, seperti Lhokseumawe, Balikpapan, Bali, Lombok dan sebagainya. Jenis kota ini mungkin bisa hanya kota kecil, kota menengah atau berkembang terus menjadi kota metropolitan.

Jadi pertumbuhan kota dalam kurun 100 tahun – 150 tahun itu singkat sekali. Dulu pada 1880 kalau kita lihat foto tempo dulu, itu jalanan di sekitar Monas masih sepi, masih ada banyak pedati. Sekarang Anda bisa lihat sendiri bagaimana lingkungan sekitar Monas. Begitu juga BSD City, dulu tahun 1980 masih hutan, tapi sekarang jadi salah satu kota paling maju di Jabodetabek.

Artinya bahwa pertumbuhan kota-kota itu sangat cepat, sebentar sekali, sehingga kota menjadi padat karena serbuan pendatang baru.

Kondisi itu perlu diantisipasi dengan merancang kota-kota masa depan?
Betul sekali. Kita harus menyiapkan kota-kota masa depan yang mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kebutuhan generasi mendatang. Jadi idealnya sebuah kota direncanakan sekarang untuk tetap bisa dinikmati oleh generasi di masa mendatang dengan kualitas yang kalau bisa masih sama baiknya. Itu berarti kota-kota harus disiapkan untuk jangka waktu setidaknya 200 tahun ke depan.

Dengan perancangan yang matang, semua rencana ekspansi kota di masa mendatang sudah dipersiapkan sejak dini, kemana arah pengembangan kota dan ruang-ruang kosong yang akan dipakai untuk dibangun infrastruktur utama kota. Demikian juga ruang-ruang untuk penghijauan kota, drainase, infrastruktur jaringan kota dan sebagainya.

Yang terpenting, kota masa depan harus mampu menjaga keseimbangan antara lingkungan hijau dengan pembangunan fisik kota. Kalau Anda ke Tokyo, di satu titik kota bangunan fisiknya padat, tetapi di sekelilingnya hutan. Jangan semua ruang kosong dibangun beton, tetapi perbanyak ruang hijau. Penduduk kota kan butuh oksigen yang berkualitas yang bisa terjaga hingga anak-cucu kita nanti.

Siapa yang paling berperan dalam melahirkan kota-kota baru masa depan itu?
Pemerintah paling menentukan misalnya pemerintah pusat memberi panduan dimana saja lokasi pengembangan sentra pertumbuhan baru di luar Jawa, lokasi-lokasi yang punya potensi ekonomi. Implementasi baru dari pemerintah daerah. Misalnya di Pekanbaru, ada Pekanbaru lama dan sedang disiapkan Pekanbaru yang baru yang lengkap dengan pelabuhan, kawasan industri dan perumahan penduduk.

Pemerintah sendiri kan juga sudah merencanakan 10 kota baru, 14 kawasan industri dan 10 destinasi pariwisata. Ini sebuah langkah tepat dan tinggal diimplementasikan saja.

Tapi tentunya antara pemerintah dan swasta perlu berkolaborasi mengingat pembangunan kota-kota baru membutuhkan dana yang besar. Pemerintah membangun infrastruktur-infrastruktur utama, sedangkan sisanya dikerjakan swasta. Infrastruktur yang dimaksud tidak hanya jalan, tetapi juga untuk jaringan transportasi massal seperti kereta api cepat dan sebagainya.

Jadi REI melihat rencana pengembangan kotakota masa depan baru ini sebagai satu peluang?
Tentu ini satu opportunity. Karena REI itu anggotanya lebih dari 3.000 perusahaan di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Bidang usaha anggota REI berada di semua sektor dari mulai pengembangan kawasan kota baru, kawasan industri, pariwisata, perkantoran, perdagangan, perhotelan, komersial, terutama perumahan di semua segmen pasar dari realestat hingga rumah rakyat. Jadi kompetensi kami komplit sekali, dan mayoritas township di Indonesia itu dibangun anggota REI.

Tetapi sebenarnya yang paling penting, adalah baaimana mendorong semua orang supaya tidak lagi urbanisasi ke Jakarta atau Pulau Jawa, sehingga terjadi redistribusi penduduk dan ekonomi yang berimbang. RIN