TOPIK UTAMA

Di Semester II 2018, Berharap "Berkah" dari Pelonggaran LTV

Administrator | Senin, 11 Februari 2019 - 13:49:56 WIB | dibaca: 39 pembaca

Foto: Istimewa

Pelaku usaha properti tetap menaruh keyakinan pasar properti bakal lebih baik di semester II 2018. Gairah pengembang yang tetap meluncurkan produk baru, dan pelonggaran aturan Loan to Value (LTV) yang akan diberlakukan Bank Indonesia per 1 Agustus diharapkan menjadi "berkah" buat pasar properti.

Sekretaris Jenderal DPP Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengatakan sebenarnya secara umum pasar properti tahun ini cukup baik, namun masih bergerak pelan. Dibutuhkan lebih banyak stimulus dan insentif kemudahan supaya pasar bergerak lebih cepat.

“Karena itu, REI sangat mengapresiasi langkah BI yang melakukan relaksasi aturan mengenai rasio nilai kredit terhadap aset (loan to value/LTV) sektor perumahan. Setidaknya ini menjadi salah satu stimulus yang dapat mentrigger pasar terlebih di segmen menengah atas,” kata Totok, baru-baru ini.

Dia berharap kebijakan tersebut menjadi berkah bagi industri properti sehingga pelaku usaha properti menjadi lebih bersemangat membangun karena lebih fleksibel dalam membuat strategi pembiayaan untuk konsumen semisal uang muka yang lebih terjangkau.

REI memprediksi pasca penerapan aturan baru LTV atau setidaknya di kuartal akhir tahun ini penjualan residensial bisa bertumbuh minimal10%.

Totok menilai BI juga harus mempertimbangkan kemampuan perbankan terhadap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dan pengusaha terkait kenaikan suku bunga acuan. Salah satunya REI mengusulkan supaya kredit konstruksi untuk pengembang rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) bisa diturunkan hingga 3% atau di bawah level kredit umum.

Perumahan Cerah
Head of Advisory Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia, Vivin Harsanto sependapat bahwa titik cerah masih mungkin terjadi untuk sektor perumahan terutama rumah tapak (landed house) di semester II 2018.

Dia menambahkan, sektor perumahan terutama rumah tapak masih cukup stabil dibandingkan sektor yang lain. Hal tersebut terjadi karena rumah adalah kebutuhan dasar manusia. Meski begitu, bukan berarti sektor perumahan pada semester kedua tahun ini tidak menghadapi tantangan.

Penjualan rumah tapak, ungkap Vivin, akan sangat bergantung pada harga yang ditawarkan pengembang dan pola pembayaran.

“Saat ini fleksibilitas sangat penting, misalnya seperti uang muka yang bisa dicicil dan daya jangkau lain yang memudahkan konsumen. Pengembang harus jeli mengemas produknya,” kata Vivin.

Dia menilai pelonggaran LTV bisa menjadi salah satu pendorong pengembang untuk berkreasi dalam memberikan skema pembiayaan misalnya keringanan uang muka. Meski begitu, di sisi lain potensi kenaikan suku bunga KPR dan gejolak makroekonomi masih menghantui pasar.

“Kalau pemerintah tidak menjaga pasar, bukan tidak mungkin pasar perumahan akan terganggu juga,” papar dia.

Menurut Vivin, di semester II 2018 harga rumah yang masih diminati pasar adalah rumah seharga Rp 300 juta hingga Rp 1,5 miliar per unit di lokasi penyangga Jakarta. Apalagi saat ini, daerah penyangga juga didukung oleh infrastruktur dan fasilitas yang memadai.

“Masing-masing greater Jakarta memiliki kekuatan dan kekhasan masing-masing sehingga tidak bisa disebut mana yang paling bagus. Namun, untuk penyerapan tentu masih ada di wilayah Tangerang karena sudah lebih matang,” kata Vivin.

Dia melihat perkembangan pasar properti di pinggiran Jakarta saat ini memang tidak hanya dilihat dari sisi infrastruktur semata. Kawasan Sentul misalnya, semakin menarik karena didukung oleh penambahan fasilitas. Kehadiran AEON Mall yang sebentar lagi akan beroperasi diperkirakan membawa efek bagi industri properti di kawasan tersebut.

Apartemen Stagnan
Sementara pasar hunian vertikal (apartemen/kondominium) diprediksi masih stagnan. Sepanjang semester I 2018, aktivitas penjualan dan peluncuran masih sepi. Pada periode April hingga Juni 2018, hanya terdapat satu peluncuran kondominium yakni Cleon Park besutan PT Modernland Realty Tbk.

Meski demikian, ungkap Vivin, ketertarikan dari calon pembeli dan calon investor tetap stabil. Pengembang dan konsumen memiliki kecenderungan untuk menahan transaksi ketika bulan Ramadhan lalu sehingga aktivitas terlihat lebih sepi.

Berdasarkan data JLL, jumlah pasokan kondominium/apartemen pada kuartal II 2018 mencapai 144.000 unit dengan tambahan 300 unit dari Cleon Park yang baru diluncurkan ke pasar. Adapun, total penjualan pada kuartal II 2018 hanya berjumlah 900 unit dengan rerata penyerapan penjualan hanya 63% atau lebih kecil dibandingkan pada kuartal I 2018.

Penjualan hunian vertikal masih ditopang oleh pasar kelas menengah dan menengah ke bawah dengan ukuran unit yang lebih kecil. Hal tersebut terbukti dengan mayoritas pasokan yang ada merupakan tipe studio. Konsumen saat ini, cenderung mencari kondominium dengan ukuran lebih kecil karena harganya terjangkau, atau hunian jangkung yang tersambung dengan MRT atau LRT.

“Kami memprediksi perkembangan pasar apartemen akan relatif stagnan sampai dengan berakhirnya masa pemilihan umum,” papar Vivin.

Selain perumahan, diprediksi pasar kawasan industri dan pergudangan modern masih akan bertumbuh pada semester II 2018. Hal itu didukung berkembang bisnis e-commerce yang semakin tumbuh marak.

Langkah Konkret
Founder PT Kawasan Industri Jababeka Tbk, S.D Darmono mengatakan dalam kondisi apapun pengembang akan tetap optimis. Yang saat ini dibutuhkan pelaku usaha properti adalah langkah konkret dari pemerintah dalam mendorong tumbuhnya dunia usaha khususnya di sektor properti.

Pengembang senior ini misalnya mengkritisi aturan-aturan perpajakan yang memberatkan.

“Yang punya uang itu banyak, namun untuk spendingnya takut sebab setelah tax amnesty pemeriksaan pajak masih terus ketat. Padahal target tax amnesty juga sudah tercapai,” jelas Darmono yang juga Ketua Badan Penasehat DPP REI tersebut.

Dia menilai, sektor properti adalah industri yang bisa dengan cepat menggerek pertumbuhan ekonomi. Sehingga jika mau terjadi pertumbuhan ekonomi, maka pemerintah seharusnya mendukung dengan insentif dan regulasi yang tepat.

Direktur PT Intiland Development Tbk, Archied Noto Pradono juga menyampaikan optimistis penjualan properti di paruh kedua tahun ini akan lebih baik. Sejalan dengan optimisme itu, perusahaan tengah menyiapkan pengembangkan baru untuk diluncurkan pada semester kedua ini.

“Namun begitu, semua rencana pengembangan strategis perseroan tetap dilakukan dengan hati-hati dan selalu memperhitungkan setiap risiko yang bisa terjadi dari setiap langkah ekspansi.” kata Archied.

Director Sales Marketing & Promotions Pollux Properties, Maikel Tanuwijaya pun berharap adanya kebijakan LTV dapat meningkatkan pertumbuhan kredit properti sekitar 15 20 persen di semester II 2018.

“Relaksasi LTV ini kami melihatnya untuk memacu pertumbuhan kredit. Jadi ini memang kalau dibilang cukup signifikan karena itu akan mendorong untuk penjualan properti lebih bergairah lagi. Ya semoga benar relaksasi LTV ini bisa menjadi berkah buat pasar properti,” kata Maikel. (Teti Purwanti/Rinaldi)