TOPIK UTAMA

Eksistensi Properti Nasional di Pentas Global

Administrator | Rabu, 13 Maret 2019 - 16:03:30 WIB | dibaca: 180 pembaca

Pertemuan FIABCI Global Business Summit 2018 yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, dari 6-8 Desember 2018 diharapkan mampu memperluas jaringan bisnis pengembang nasional sekaligus mendatangkan investasi di sektor properti dan pariwisata guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang mewakili Presiden Joko Widodo saat membuka kegiatan tahunan federasi realestat dunia tersebut di The Westin Resort & International Convention Center, Nusa Dua Bali.

Dia mengapresiasi upaya Realestat Indonesia (REI) untuk mengusung isu perumahan yang terjangkau (affordable housing) dan pengembangan pariwisata (tourism development) pada FIABCI Global Business Summit di Indonesia. Ini menjadi awal untuk mengangkat dan mengembangkan industri properti nasional menuju panggung global.

“Lewat forum ini pemerintah berharap dapat mengembangkan industri properti nasional menuju panggung global. Ajang dunia ini akan mendorong investasi internasional masuk ke Indonesia untuk mendapatkan modal baru sehingga pertumbuhan sektor-sektor penting ekonomi seperti industri properti ini juga dapat lebih berkembang maksimal,” ujar Menteri Basuki.

Dia juga berpesan agar melalui forum ini Indonesia dapat memberikan kontribusi dan pengalaman kepada masyarakat internasional, salah satunya mengenai penyediaan rumah layak dan terjangkau Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Indonesia yang satu-satunya di dunia yang melibatkan swasta melalui Program Sejuta Rumah (PSR).

“FIABCI Global Business Summit ini sejalan dengan tujuan Pemerintah Indonesia untuk memperluas jaringan bisnis di bidang perumahan khususnya untuk MBR. Untuk itu, saya atas nama dan penugasan dari Presiden Jokowi mendukung penuh kegiatan yang dilakukan REI ini,” kata Menteri Basuki, Kamis (6/12/2018).

Sebagai garda terdepan pembangunan rumah rakyat, kehadiran REI sangat penting dan selama ini sudah membuktikan diri banyak membantu pemerintah dalam menyediakan rumah layak terjangkau bagi MBR. Untuk itu, pada kesempatan tersebut Menteri Basuki atas nama pemerintah menyampaikan terimakasih kepada Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata, Sekjen DPP REI Totok Lusida beserta seluruh jajaran pengurus REI.

Dia mengaku masih banyak kendala dalam pembangunan rumah rakyat seperti perizinan mudah yang belum dilakukan pemerintah daerah dan kualitas perumahan yang masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, menurut Basuki, upaya penyediaan perumahan butuh dukungan semua stakeholders.

Selain peningkatan peran stakeholders, perlu terus diupayakan inovasi dan terobosan, antara lain terbentuknya Land Banking System, mendorong inisiatif pembiayaan kreatif seperti kredit mikro, Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT), kemitraan badan usaha dan partisipasi masyarakat serta mendorong pengembangan perumahan skala besar.

Capaian PSR
Menteri Basuki Hadimuljono mengatakan untuk pertama kalinya pada 2018, capaian Program Sejuta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 29 April 2015 berhasil menembus angka satu juta unit. “Capaian program ini dari tahun ke tahun menunjukkan tren yang meningkat dan pada November 2018 telah tercapai pembangunan 1.041.323 unit rumah,” kata dia.

Pemerintah menargetkan kekurangan pasokan atau backlog perumahan di 2019 bisa diturunkan menjadi 5,4 juta unit. Pada 2015, angka backlog mencapai 7,6 juta unit. Bahkan versi lain diperkirakan mencapai 11 juta unit. Untuk mengentaskan angka backlog tersebut, ada empat strategi yang dilakukan Kementerian PUPR.

Pertama, Pemerintah menyediakan Program Bantuan Perumahan. Bantuan ini diberikan atas pembangunan Rusunawa bagi MBR, Rumah Khusus terutama pada kawasan terpencil dan untuk memenuhi kebutuhankebutuhan khusus, serta Rumah Swadaya melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya 4 (BSPS) baik peningkatan kualitas maupun pembangunan baru.

Kedua, Pemerintah memberikan bantuan pembiayaan melalui pembangunan Fasilitas perumahan Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Subsidi Selisih Bunga (SSB), Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM), pembebasan biaya PPN untuk rumah MBR, serta Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT).

Ketiga, Pemerintah mengeluarkan berbagai regulasi dan kebijakan kemudahan perizinan untuk percepatan pembangunan perumahan baik bagi MBR maupun perumahan komersial.

Keempat, Pemerintah mendorong pengembangan dan penggunaan teknologi terbaru dalam pembangunan perumahan yang lebih efisien, antara lain melalui industrialisasi prefabrikasi seperti RISHA, RUSPIN maupun teknologi precast.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara FIABCI Global Business Summit 2018, Totok Lusida menyampaikan terimakasih kepada pemerintah yang sudah mendukung penuh pertemuan pelaku usaha properti se-dunia tersebut. Kegiatan ini merupakan kebanggaan bagi Indonesia, karena untuk pertama kalinya diadakan di luar Benua Eropa.

“Kami sangat tersanjung dengan dukungan semua pihak terlebih pemerintah yang dari awal terus mensupport penyelenggaraan FIABCI Global Business Summit. Saya berharap Anda semua tersenyum dan bahagia selama mengikuti pertemuan ini hingga selesai nanti. Dan semoga beberapa deal bisnis bisa dicapai,” kata Totok yang juga Sekjen DPP REI saat memberikan sambutan.

Isu mengenai perumahan rakyat menjadi salah satu tema yang diangkat dalam FIABCI Global Business Summit 2018 di Bali. Dimana, kata Totok, diharapkan sekitar 350 pelaku usaha properti dari seluruh dunia dapat mengetahui apa saja yang sudah dilakukan Pemerintah Indonesia di sektor perumahan rakyat. (Rinaldi)