SEJUTA RUMAH

Ferry: Rumah Murah Jangan Menambah Beban Masyarakat

Ferry: Rumah Murah Jangan Menambah Beban Masyarakat

Administrator | Rabu, 14 Oktober 2015 - 21:46:56 WIB | dibaca: 787 pembaca

Ferry: Rumah Murah Jangan Menambah Beban Masyarakat

Dukungan untuk percepatan program pembangunan sejuta rumah per tahun juga datang dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN). Menurut Menteri ATR/Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan, sebagai bagian dari pemerintah, kementeriannya akan secara aktif mendukung kerja sama dengan kalangan pengembang yang membangun rumah murah.Dengan kerja sama yang baik antar stakeholder, khususnya pemerintah dengan kalangan pengembang, misi mulia menyediakan perumahan bagi rakyat akan bisa kita wujudkan. Kehadiran kami di acara ini adalah untuk memastikan bahwa berbagai faktor yang menghambat penyediaan rumah bagi rakyat ini bisa diselesaikan.Kami sangat mendukung program ini,” ujarnya di acara rapat kerja daerah (Rakerda) DPD Real Estat Indonesia (REI) Jawa Timur di Surabaya, Rabu (3/6).

Untuk mempercepat program sejuta rumah, Ferry menyebut instansinya tengah melakukan proses perubahan regulasi terkait dengan pendaftaran tanah untuk pertama kali. Ia memastikan kebijakan yang akan dibuat untuk memberikan kepastian terkait waktu penyelesaian maupun biaya yang harus dikeluarkan.

Ferry juga meminta kalangan pengembang khususnya anggota REI untuk mendukung program sejuta rumah dengan tidak mengambil untung terlalu banyak. “Tentu namanya usaha swasta harus untung, tapi jangan ambil terlalu banyak dari program sejuta rumah, jadi harus ada visi yang diemban,” imbuhnya.

Program rumah murah juga jangan sampai menambah beban hidup masyarakat terkait dengan akses jalan maupun infrastrukur pendukung lainnya. Artinya, jangan sampai setelah masyarakat memiliki rumah, beban kehidupannya justru malah bertambah karena lokasinya yang jauh dengan tempat kerja.

“Harus dimulai pendekatan bahwa membangun itu bukan hanya fisik tapi membangun ruang kehidupan. Karena itu infrastruktur harus memadai dan akses serta hal lainnya bisa terjangkau. Jangan yang tadinya bisa berjalan kaki ke sekolah sekarang harus naik ojek, ini artinya kemanfataan dengan memiliki rumah malah tidak tercapai,” tandasnya.