TOPIK UTAMA

Soelaeman Soemawinata - Ketua Umum DPP REI & Presiden FIABCI Indonesia

Gaungkan Program Sejuta Rumah di Panggung Sejagad

Administrator | Senin, 10 September 2018 - 15:33:40 WIB | dibaca: 67 pembaca

Meski baru satu tahun memimpin Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) dan FIABCI Indonesia, Soelaeman Soemawinata sudah menoreh sejumlah capaian membanggakan di kancah internasional. Hal itu sejalan dengan janjinya untuk membawa asosiasi tersebut menjadi lebih berwibawa baik di dalam maupun di luar negeri.

Di ajang FIABCI d’ Prix d Excellence Award 2017 yang diadakan dalam rangkaian The FIABCI World Congress 2017 di Andorra sekitar Mei 2017, delegasi FIABCI yang dipimpin Eman sukses menoreh tinta emas dengan keberhasilan meraih lima penghargaan sekaligus, serta satu medali kehormatan pada even yang dikenal sebagai malam “Oscar”-nya di bidang real estat internasional.

Teranyar, di ajang pertemuan bisnis Global Real Estate Summit yang diselenggarakan FIABCI di Royal Olympic Hotel Athena, Yunani, Eman (demikian dia sering disapa) berhasil terpilih sebagai Presiden FIABCI untuk Asia Pasifik periode 2018-2019.

Alumni Teknik Planologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Magister Manajemen dari Prasetiya Mulya Business School itu menurut rencana akan dilantik secara resmi pada ajang The FIABCI World Congress 2018 di Dubai pada April-Mei mendatang. Prestasi tersebut semakin komplit dengan suksesnya diplomasi untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah FIABCI Asia Pacific Real Estate Congress (APREC) 2019. Semua capaian ini tentu bukan satu pemberian begitu saja, namun pasti melalui tahapan demi tahapan proses lobi dan diplomasi yang ketat oleh FIABCI Indonesia.

Bagaimana kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah APREC 2019 dan topik apa saja yang menjadi isu penting pada ajang global tersebut? Berikut petikan wawancara Majalah RealEstat dengan Ketua Umum DPP REI dan Presiden FIABCI Indonesia, Soelaeman Soemawinata di sebuah restoran di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Terpilih menjadi pemimpin federasi real estat se-Asia Pasifik, bagaimana perasaan Anda?
Tentu ini buah dari usaha keras yang kami lakukan dari REI atau FIABCI Indonesia, dan sekaligus bukti pengakuan federasi dunia terhadap kemampuan putra Indonesia di industri real estat.

Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada seluruh keluarga besar REI, khususnya para senior REI, pengurus pusat dan pengurus daerah REI, serta semua pihak yang mendoakan saya sehingga terpilih memimpin FIABCI Asia Pasifik. Ini semua demi mengembalikan kejayaan Indonesia di pentas dunia khususnya di industri real estat.

Apa yang menjadi concern Anda nanti di FIABCI khususnya untuk Indonesia?
Di beberapa kali pertemuan FIABCI, saya selalu menggunakan kesempatan terus untuk mengkampanyekan Program Sejuta Rumah (PSR) yang dicanangkan dan digalakkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Khususnya mendorong pentingnya FIABCI juga memfokuskan pada affordable housing program atau program-program pengembangan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan masyarakat miskin dunia. Ini penting sekali karena Indonesia masih menghadapi backlog yang cukup besar.

Kenapa kok REI serius sekali mendukung penyediaan rumah untuk MBR ini, khususnya Program Sejuta rumah?
Tadi saya sudah katakan, Indonesia ini sedang ada masalah dengan backlog perumahan yang tak kunjung tuntas. Pemerintah pasti enggak bisa selesaikan sendiri. Nah, REI ini kan organisasi pengembang yang bergerak dalam industri properti dengan jumlah anggota mencapai 3.000 perusahaan.

Kompetensi REI tidak hanya perumahan (subsidi dan nonsubsidi) saja, tapi juga mencakup non perumahan seperti pengembang kota baru, kawasan Industri, kawasan pariwisata, hotel, apartemen, perkantoran, mall, dan lain-lain. Itu semua akan kita gerakkan untuk mendukung semua program pemerintah. Kami sudah dan siap terus berada di garda terdepan. Ini silahkan diuji.

Khusus untuk rumah subsidi untuk MBR yang menjadi program strategis pemerintah, REI sangat mendukung karena dengan fokus pada pengembangan rumah MBR berarti kami ikut berpartisipasi membangun bangsa dalam konteks komitmen keberpihakan kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Di sisi lain, sekitar 70% anggota REI bergerak di pembangunan rumah MBR, sehingga dengan fokus di rumah rakyat bisa menjadi trigger bagi bisnis anggota REI.

FIABCI akhirnya menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah APREC 2019. Bagaimana kesiapannya?
Kami tentu sangat siap sesuai dengan proposal dan presentasi yang saya paparkan di Yunani waktu itu. Antusiasme anggota FIABCI saat itu cukup tinggi, sehingga kemudian Indonesia diputuskan layak sebagai tuan rumah APREC 2019.

Tentu kami akan memanfaatkan momentum APREC 2019 ini untuk memperlihatkan kepada masyarakat real estat dunia tentang pencapaian dan kemajuan industri properti di Tanah Air.

Selain itu, dengan menjadi tuan rumah FIABCI APREC 2019, diharapkan dapat memperkenalkan pariwisata Indonesia sehingga ikut mendorong upaya meningkatkan kunjungan wisatawan asing seperti halnya dampak dari perhelatan bergengsi dunia lainnya seperti Asian Games atau Annual Meeting World Bank dan IMF yang akan berlangsung pada 2018.

Isu atau tema apa saja yang akan diusung di APREC 2019?
Ada dua tema yang sebenarnya mau kami kampanyekan yakni soal affordable housing yang tadi sudah dibahas, dan pengembangan kota-kota baru. Jadi ini lebih sebagai upaya misi diplomatik REI atau FIABCI Indonesia untuk membantu pemerintah kita memberitahukan kepada dunia bahwa pemerintah sekarang punya program yang peduli pada masalah rakyat langsung yaitu menyediakan hunian layak dan terjangkau bagi MBR.

Banyak rakyat Indonesia yang masih butuh rumah di sini. Ini kampanye yang harus disampaikan kepada dunia, karena sebenarnya pemerintah tidak hanya butuh dukungan dari dalam negeri untuk menyukseskan Program Sejuta Rumah (PSR), tetapi juga support dari internasional.

Dukungan konkritnya seperti apa?
Ya salah satu contoh apakah nanti dimungkinkan adanya bantuanbantuan dari luar negeri yang berkaitan dengan affordable housing program. Nanti kita bisa minta ke UN Habitat atau Bank Dunia untuk membantu Pemerintah Indonesia seperti memberi bantuan uang muka kepada MBR.

Jadi nanti uang muka membeli rumah tidak lagi dibebankan kepada masyarakat, tetapi ditanggung pemerintah melalui bantuan dana Bank Dunia atau UN Habitat. Daya jangkau masyarakat pasti akan lebih tinggi, karena beli rumah jadi mudah sekali. Soal berapa besaran bantuan uang muka per keluarga, silahkan nanti dihitung idealnya.

Termasuk juga bantuan untuk infrastruiktur kawasan permukiman, bahkan dana murah untuk konstruksi. Dana murah untuk modal kerja pengembang itu mungkin bisa masuk dalam satu multifinance yang dikelola dan disalurkan secara akuntable.

Sebenarnya dengan dana murah jangan dikaitkan dengan keuntungan pengembang. Tapi bagaimana supaya produksi rumah bisa lebih cepat dan lebih banyak. Selama ini kalau bicara dana murah atau suku bunga rendah untuk pengembang rumah subsidi kesan yang dipikirkan cuma untungnya, padahal intinya bukan disitu. Untung memang harus buat pengusaha, kalau enggak untung dia rugi. Namun pemerintah juga perlu mendorong supaya pengembang itu bisa lari lebih kencang dalam mendukung target-target pemerintah.

Bagaimana dengan isu pengembangan kota-kota baru. Kemana tujuannya?
Pengembangan kota-kota baru yang berada di sekitar Jabodetabek atau kota-kota besar khususnya di luar Pulau Jawa itu berkaitan dengan redistribusi penduduk, sehingga tidak hanya terkonsentrasi di Jabodetabek dan kota-kota besar saja. Redistribusi penduduk juga berkaitan dengan redistribusi pertumbuhan ekonomi.

Tapi upaya pengembangan kota baru ini harus dibarengi dengan menumbuhkan basis aktivitas bisnis di situ sebagai lapangan kerja, supaya masyarakat mau tinggal di situ. Saya percaya bahwa pengembangan kota-kota baru merupakan salah satu jawaban mengatasi masalah backlog, karena infrastruktur bisa dibangun secara terpadu untuk menghemat biaya sehingga harga perumahan rendah dengan kualitas yang lebih baik. RIN