Trend

Geliat E-Commerce

Administrator | Selasa, 14 Maret 2017 - 14:31:07 WIB | dibaca: 359 pembaca

Perkembangan teknologi digital telah berdampak pada pola berbelanja masyarakat global. Belanja yang tadinya harus pergi ke satu tempat, melihat produk dan melakukan transaksi telah berevolusi menjadi belanja cukup dari rumah dengan menggunakan sarana teknologi canggih dari genggaman kita.

Cara belanja digital atau e-commerce ini juga tengah digandrungi di Indonesia bermula dengan produk-produk gadget, hobi, fashion, kecantikan dan lainnya. Bagaimana dengan properti? Memang belum semasif produk lainnya tetapi hal ini pun tidak lepas dan pasti merambah juga ke industri properti.

Terlebih lagi dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang membuat cakupan maupun captive market yang lebih luas bukan hanya di dalam negeri tetapi juga regional. Menurut Ferry Salanto, Head of Research PT Colliers International Indonesia (cII), pasar saat ini bukan hanya dari lokal tapi sudah diincar dari konsumen luar negeri.

“Perkembangan e-commerce ini memang sangat luar biasa walaupun di industri properti tidak akan sebesar dampaknya seperti di industri lainnya. Ini karena uniknya sifat properti yang membutuhkan survei maupun melihat langsung produknya, tapi kalangan pengembang sudah harus mulai aware dengan teknologi ini,” ujarnya kepada majalah REI.

Dari sisi iklan saja, Ferry menyebut media konvensional seperti media cetak, TV, maupun radio sudah mulai ditinggalkan dan beralih pada media online. Hal ini dikarenakan appetizer konsumen properti pada awalnya mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui website untuk kemudian tetap melakukan survei dan melihat produk.

Terlebih lagi untuk produk properti high end yang menjual kualitas material sehingga hal seperti ini harus dicek langsung untuk merasakan dan menyentuh kualitas produknya. Namun tren e-commerce ini harus diakui perkembangannya sangat pesat termasuk di industri properti.

Sekarang bahkan sudah mulai pengembang memasarkan produknya dengan menggunakan alat Virtual Realty (VR). Dengan alat ini konsumen bisa melihat show unit secara 360 derajat dan bisa di zooming sehingga tenaga marketing bisa menyambangi calon konsumennya di rumah maupun kantor.

Hal-hal seperti ini akan menjadi tren ketimbang berjualan konvensional seperti melalui pameran-pameran. Lebih ekstrim lagi, dengan konsep e-commerce ini pengembang tidak perlu menyediakan tenaga marketing untuk menjual produknya dan cukup memasarkannya lewat cara online dengan membuat website interaktif maupun memanfaatkan website properti yang saat ini banyak ditawarkan.

Pengembang bisa menyasar calon konsumen yang paling tepat disesuaikan pilihan produk propertinya. Terlebih lagi properti merupakan kata kunci yang paling banyak dicari di jagad online dan beberapa website sudah ada yang mengelompokkan para peselancar di dunia maya ini disesuaikan dengan kemampuan daya beli maupun lokasi properti yang diinginkannya sehingga pengembang tinggal tune in dengan setting pasar yang sudah tersedia.

Namun untuk industri ritel, perkembangan e-commerce ini memang sangat luar biasa. Menurut Direktur Merchandising & Marketing Matahari Dept. Store Christian Kurnia, potensi pertumbuhan pusat-pusat ritel modern di Indonesia sangat luar biasa.

Sebagai gambarannya, data tahun 2013 keberadaan modern market di Indonesia baru 11 persen yang artinya sangat jauh dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Cina, atau Amerika.

“Jadi calon konsumen yang browsing kemudian memutuskan untuk membeli maupun booking, bisa mendapatkan diskon khusus. Diskon ini bisa diberikan dari biaya promosi pengembang maupun tenaga marketing pengembang yang diberikan kepada pengelola website. Jadi konsumen bisa mendapatkan harga yang lebih menarik, pengembang juga tidak mengeluarkan effort maupun biaya khusus karena masih mencakup pada budget marketing-nya,” tandas Ferry.

“Jadi potensi untuk industri ritel market ini sangat besar, istilahnya kita baru memasuki tahap embrio. Matahari Dept.Store saja sekarang sudah hadir di 70 kota dengan jumlah gerai mencapai 143 gerai. Perkembangan e-commerce memang diakui gerai Matahari tidak sebesar dulu lagi, makanya kami respon dengan meluncurkan mataharimall.com,” pungkasnya.

Yang pasti e-commerce ini harus disikapi dan diantisipasi oleh kalangan bisnis untuk meningkatkan kinerja bisnis itu sendiri alih-alih dengan adanya sistem ini justru membuat bisnis kita keteteran. Beberapa hal yang saat ini banyak ditempuh antara lain memberikan diskon khusus untuk pembelian properti melalui sistem e-commerce.