RISET

Harga Properti Residensial Naik Tipis di Kuartal I-2019

Administrator | Jumat, 10 Mei 2019 - 09:49:20 WIB | dibaca: 75 pembaca

Foto: Istimewa

Bank Indonesia memproyeksikan harga properti residensial di pasar primer pada kuartal I-2019 ini akan meningkat. Hal itu terindikasi dari kenaikan indeks harga properti residensaial (IHPR) kuartal I-2019 yang sebesar 0,42% dibandingkan kuartal yang sama periode sebelumnya (qtq).

Juga lebih tinggi 0,35% dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan harga itu didorong kenaikan harga bangunan dan upah tenaga kerja. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Agusman mengungkapkan peningkatan kenaikan harga rumah diperkirakan terjadi pada rumah tipe kecil dari 0,39% (qtq) menjadi 0,59% (qtq) dan pada rumah tipe menengah dari 0,28% (qtq) menjadi 0,38% (qtq).

“Namun untuk rumah tipe besar, kenaikan harga melambat dari 0,39% (qtq) menjadi 0,29% (qtq),” kata Agusman dalam publikasinya di Jakarta, baru-baru ini.

Secara tahunan, kenaikan harga properti residensial pada kuartal I-2019 diperkirakan melambat dari 2,98% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) pada kuartal sebelumnya menjadi 1,96% (yoy).

Berdasarkan tipe bangunan, melambatnya kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah. Kenaikan harga rumah tipe kecil diperkirakan melambat dari 4,80% (yoy) menjadi 3,05% (yoy), rumah tipe menengah dari 2,54% (yoy) menjadi 1,61% (yoy), dan rumah tipe besar dari 1,60% (yoy) menjadi 1,24% (yoy).

Merujuk per wilayah, kenaikan harga rumah tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Bandar Lampung, sedangkan penurunan harga terdalam terjadi di Kota Balikpapan. Menurut Agusman, sebanyak 18,84% responden menyatakan bahwa suku bunga KPR saat ini dianggap masih cukup tinggi sehingga menghambat pertumbuhan properti.

Selain itu, faktor lainnya yang menjadi penghambat adalah adanya uang muka pembelian rumah, pajak, kenaikan bahan bangunan, dan kesulitan dalam pengurusan perizinan.

Pemerintah memang menunda kenaikan harga rumah subsidi dari rencana semula di awal tahun menjadi April 2019. Pengembang yang tergabung dalam Realestat Indonesia (REI) mengusulkan kenaikan harga rumah subsidi rata-rata sekitar 10% atau lebih tinggi dari rata-rata kenaikan pada tahun-tahun sebelumnya sekitar 5%.

“Banyak faktor yang harus diperhatikan. Selain inflasi, biaya konstruksi juga naik karena material bangunan akan mengalami kenaikan dengan penguatan dolar AS,” ungkap Ketua Umum DPP REI, Soelaeman Soemawinata kepada wartawan. Bahkan di beberapa daerah harga lahan naik cukup tinggi, sehingga menjadi beban biaya buat pengembang.

Tahun-tahun sebelumnya, lanjut Soelaeman, overhead pengembang seperti biaya marketing, bunga bank, dan lain-lain tidak dimasukkan dalam formula kenaikan harga rumah subsidi. Oleh karena itu, dalam usulan kenaikan rata-rata 10% tersebut sudah memperhitungkan biaya overhead tersebut.

Adapun tiga daerah yang harga tanahnya sudah sangat mahal yaitu Bali, Yogyakarta, dan Batam, kenaikan harganya diusulkan bisa mencapai 20%. Kondisi lain terjadi di Aceh, dimana biaya konstruksi untuk membangun rumah disana jauh lebih mahal karena harus berstandar tahan gempa.

Terakhir, pemerintah mengumumkan akan menaikan harga rumah subsidi tahun ini di kisaran 3% hingga 7,5%. Namun kenaikan itu masih menunggu keputusan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Akhir Tahun 2018
Sementara itu, kembali ke hasil survei Bank Indonesia, dilaporkan bahwa pada akhir tahun lalu atau di kuartal IV-2018, harga properti residensial cenderung melambat. Itu tercermin dari kenaikan indeks harga properti residensial (IHPR) kuartal IV-2018 sebesar 0,35% (qtq) atau lebih rendah dibandingkan 0,42% (qtq) pada kuartal sebelumnya.

Secara tahunan, di 2018 kenaikan harga properti residensial juga melambat dari 3,18% (yoy) pada kuartal sebelumnya menjadi 2,98% (yoy).

Adapun secara kuartal, melambatnya kenaikan harga properti residensial terjadi pada tipe rumah kecil. Berdasarkan wilayah, kenaikan harga properti residensial tertinggi pada kuartal IV-2018 terjadi di Kota Surabaya.

Agusman mengungkapkan, pada kuartal IV-2018, meski kenaikan IHPR secara kuartalan melambat, biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga untuk tempat tinggal semakin meningkat. Hal itu terlihat dari kenaikan indeks harga konsumen (IHK) sub kelompok biaya tempat tinggal sebesar 1,35% (qtq), atau lebih tinggi dari 0,73% (qtq) pada kuartal sebelumnya.

“Secara tahunan, melambatnya kenaikan harga rumah properti residensial terjadi pada semua tipe rumah,” ungkap dia.

Hasil survei mengindikasikan bahwa penggunaan dana internal memiliki porsi besar dalam pembangunan properti residensial. Porsi penggunaan dana internal pengembang pada triwulan IV-2018 sebesar 58,02%, meningkat dibandingkan porsi pada triwulan sebelumnya sebesar 55,73%.

Di sisi lain, porsi penggunaan pinjaman dari perbankan oleh pengembang properti pada triwulan IV-2018 menurun menjadi sebesar 31,18%, dari 33,95% pada triwulan sebelumnya.

Pasar Sekunder
Berbeda dengan harga residensial di pasar sekunder, harga rumah di pasar sekunder (seken) diprediksi akan terus mengalami penurunan hingga akhir semester I-2019. Momen Pilpres 2019, ajaran baru pendidikan dan masa lebaran menjadi faktornya.

President Director ERA Indonesia, Darmadi Darmawangsa mengatakan pengembang, investor, dan end user kemungkinan menunda pembelian sambil mengamati situasi ekonomi dan politik tahun 2019. Sepanjang tahun 2018 ini, harga rumah seken terkoreksi sampai 20%.

Darmadi menilai koreksi juga terjadi karena minat beli masyarakat rendah, terutama kelas menengah. Pendapatan masyarakat menengah tidak dapat menjangkau harga yang ditawarkan broker.

“Hunian apartemen itu ada yang harga Rp 250 juta hingga Rp 300 juta dengan cicilan Rp 5 juta per bulan. Kalau sepasang suami-istri bergaji Rp 10 juta, maka 1/3 gaji mereka untuk membayar cicilan. Itu belum lagi biaya makan, transportasi, pendidikan dan lain-lain,” papar Darmadi seperti dikutip dari Kontan.co.id. (Rinaldi)