PEMBIAYAAN

Hingga Kuartal III, Penyaluran Kredit Properti Tumbuh Positif

Administrator | Rabu, 06 Maret 2019 - 10:19:03 WIB | dibaca: 318 pembaca

Foto: Istimewa

Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) mengindikasikan pertumbuhan triwulanan kredit baru cenderung melambat pada kuartal III-2018. Hal tersebut tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru kuartal III-2018 yang turun menjadi 21,2%, dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 90,3%.

Perlambatan pertumbuhan kredit baru tersebut bersumber dari semua jenis penggunaan kredit, baik modal kerja, investasi, maupun konsumsi. Ke depan, hasil survei mengindikasikan pertumbuhan kredit baru akan kembali meningkat pada kuartal IV-2018, tercermin dari SBT kredit baru yang meningkat menjadi 94,8%.

Bagusnya, hal tersebut tidak terjadi pada sektor properti. Indikasi itu bisa dilihat dari realisasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sejumlah bank terutama PT Bank Tabungan Negara (BTN).

BTN merinci, KPR subsidi memegang porsi terbesar penyaluran kredit BTN dengan persentase 54,35%. Adapun untuk KPR secara keseluruhan tahun ini tumbuh 21,81 persen (yoy) menjadi Rp 163,61 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan total penyaluran KPR tahun lalu di periode yang sama sebesar Rp 134,31 triliun.

Adapun pertumbuhan KPR subsidi sebesar 30,11 triliun menjadi Rp 88,92 triliun, lebih tinggi dari kuartal III tahun lalu yang sebesar Rp68,34 triliun.

“Sementara KPR nonsubsidi tumbuh sebesar 13,22% (yoy) menjadi Rp 74,69 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 65,97 triliun,” ungkap Maryono, Direktur Utama BTN kepada wartawan, baru-baru ini.

Sedangkan untuk penyaluran kredit kontruksi perumahan tumbuh sebesar 17,41% menjadi Rp28,45 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal III tahun lalu yang sebesar Rp24,23 triliun.

Untuk kredit non perumahan, Maryono menjelaskan terjadi pertumbuhan sebesar 13,5% (yoy) menjadi Rp19,67 triliun dibandingkan dengan kuartal III tahun lalu yang mencapai Rp 17,33 triliun. Adapun kontribusi terbesar dari kredit non perumahan berasal dari kredit komersial yang sebesar Rp15.05 tirliun, sementara kredit konsumer sebesar Rp4,6 triliun.

Rasio kredit bermasalah BTN pun tercatat terjaga 1,75% (gross) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,65%. Lalu untuk NPL nett sebesar 2,06 persen, lebih rendah dibanding kuartal III 2018 sebesar 3,07 persen.

Serupa dengan BTN, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mengalami pertumbuhan dalam penyaluran KPR. KPR BCA naik naik 9,4% menjadi Rp 86,3 triliun dan memang secara konsolidasi penyaluran kredit BCA hingga September 2018 meningkat 17,3% menjadi Rp 516 triliun. Pertumbuhan kredit yang tinggi membuat pendapatan bunga bersih (net interest income) perseroan naik 7,7% menjadi Rp 33,36 triliun.

Begitu juga dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp11,4 triliun pada kuartal III tahun 2018. Angka tersebut tumbuh 12,6% jika dibandingkan

dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal III tahun 2017, BNI mencatatatkan laba bersih sebesar Rp10,6 triliun.

Posisi Loan Deposit Ratio (LDR) mencapai 89 persen di kuartal III 2018. Angka tersebut menunjukkan likuiditas yang sehat sehingga ruang bagi BNI untuk menyalurkan kredit pun masih terbuka lebar.

Selain itu, laba bersih BNI juga disokong pendapatan non bunga yang tumbuh 6 persen (yoy) dari Rp7,18 triliun pada kuartal III tahun 2017 menjadi Rp7,81 triliun di kuartal III tahun ini. Pendapatan non bunga yang tumbuh tersebut didorong oleh peningkatan fee dari segmen business banking, antara lain fee dari trade finance yang tumbuh 16,3% dan fee dari bank garansi yang tumbuh 28,4%.

Peningkatan Kredit
Meski begitu, BI memprediksi peningkatan kredit akan terjadi pada kuartal IV-2018 didorong oleh tingginya optimisme responden seiring pertumbuhan ekonomi yang masih kuat, risiko penyaluran kredit yang rendah, dan rasio kecukupan modal yang meningkat.

Perkiraan meningkatnya pertumbuhan kredit pada kuartal IV-2018 juga disertai standar penyaluran kredit yang akan lebih ketat. Hal ini tercermin dari Indeks Lending Standard sebesar 17,7%, lebih tinggi dari 3,8% pada periode sebelumnya.

Pengetatan penyaluran kredit terutama akan dilakukan terhadap kredit investasi dan kredit modal kerja, yaitu pada aspek plafon kredit, premi kredit yang berisiko dan jangka waktu pemberian kredit.

Di sisi lain, kebijakan penyaluran kredit konsumsi terindikasi masih relatif longgar, terutama pada kredit kepemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) seiring kebijakan Bank Indonesia terkait relaksasi Loan To Value (LTV) kredit/pembiayaan perumahan.

Hasil survei mengindikasikan responden tetap optimis terhadap pertumbuhan kredit untuk keseluruhan tahun 2018. Rata-rata responden memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2018 akan mencapai 11,5%, lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit 2017 sebesar 8,2%.

Optimisme tersebut didorong oleh perkiraan pertumbuhan ekonomi yang membaik pada 2018, dan risiko penyaluran kredit yang menurun. (Teti Purwanti)