RISET

Investor Jepang dan China Dominasi Pembelian Lahan Industri

Administrator | Kamis, 11 Januari 2018 - 10:05:42 WIB | dibaca: 22 pembaca

Foto: Istimewa

Berkah sedang menyelimuti perusahaan pengelola lahan industri. Pasalnya, di tengah kelesuan subsektor properti lainnya, permintaan terhadap lahan industri justru sedang tinggi. Hal itu terlihat dari tren peningkatan penjualan lahan untuk industri di Semester I 2017, yang diprediksi bakal terus melaju hingga akhir tahun ini.

"Salah satu faktor pendorong laju permintaan lahan industri yakni ekspansi yang masih stabil dari pabrikan Jepang dan juga China, meski dari sisi volume realisasi masih kecil,” ungkap Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam paparan risetnya, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, ekspansi perusahaan asal Jepang dan China masih akan menjadi yang paling kuat mengisi lahan industri di Indonesia hingga tiga tahun mendatang. Pasalnya, investor kedua negara tersebut kerap mmbuka pabrik baru sebagai cabang dari pabrik di negaranya di lahan industri yang telah dibeli.

Berdasarkan data Colliers, total penjualan lahan industri selama semester I/2017 di Botabek mencapai 116,94 hektare atau naik dari periode yang sama tahun lalu seluas 48,42 hektare. Khusus di kuartal II tahun ini saja, lahan industri yang terserap mencapai 62,81 hektare.

Penjualan itu dikontribusikan dari kawasan Greenland International Industrial Center atau GIIC di Cikarang milik anak usaha Sinar Mas Land yang meraup penjualan tertinggi seluas 36 hektare di kuartal II 2017. Perusahaan lain yang menikmati hasil penjualan positif di kuartal II antara lain Bekasi Fajar, Delta Silicon, KIIC, Modern Cikande, Krakatau Industrial Estate Cilegon, dan Jababeka.

“Sehingga dipastikan tren penjualan dua kuartal depan masih akan terus meningkat melanjutkan tren kenaikan yang terjadi pada setiap kuartal tahun lalu,” ungkap Ferry.

Yang unik, di kuartal II 2017 bidang usaha otomotif dan logistik yang biasa menjadi tenant primadona dikalahkan bidang industri makanan dan minuman. Hal ini didorong masih stabilnya daya beli dan konsumsi masyarakat.

Data Colliers mengungkapkan hingga saat ini kawasan industri dikuasai oleh 29% pasar food & beverage, 24% otomotif, energi 8%, metal dan kimia masing-masing 5%, pergudangan 4%, dan farmasi 1%.

Sedangkan secara korporasi pada 2017, Bekasi Fajar memimpin pasar dengan perolehan penjualan terbaru sebesar 20%, diikuti Deltan Silicon, KIIC, Modern Cikande, Krakatau Industrial Estate Cilegon, dan Jababeka. Sedangkan secara harga, harga tertinggi berada di Bekasi, diikuti Bogor, Tangerang, Karawang dan terakhir Serang.

MASIH MENJANJIKAN
Semakin positifnya pasar kawasan industri juga diungkapkan oleh Head of Research Jones Lang LaSalle (JLL) James Taylor. Menurut dia, kawasan industri di Indonesia masih akan berkembang dan menjanjikan.

“Sejak dua tahun lalu dan hingga kini, aktivitas logistik di Indonesia masih sangat jauh dibandingkan dengan Shanghai, China dan Singapura,” ujar James Taylor.

Faktor pendorong perkembangan kawasan industri adalah pertumbuhan pesat dari perusahaan perdagangan berbasis internet atau e-commerce. Pasar pergudangan Indonesia memiliki potensi besar dengan luas wilayah dan ekonomi yang terus bertumbuh.

Permintaan gudang modern di kawasan industri ini berasal dari grup-grup yang bergerak di bidang e-commerce, contohnya Lazada. Pusat Distribusi Lazada menjadi salah penyumbang pertumbuhan kawasan industri II-2017 dengan luas area sebesar 30.000 meter persegi.

James menyebutkan, Lazada berlokasi di Jalan Raya Bogor, proyek ini merupakan fase satu dari total pembangunan sebesar 60.000 meter persegi. “Hingga akhir tahun akan ada kurang lebih 300.000 meter persegi kawasan industri baru dengan yield dikisaran 8% hingga 8,5% dan pasar hingga akhir tahun akan terus menjanjikan atau setidaknya stabil,” papar dia.

Lokasi kawasan industri membentang di sekitar Jakarta mulai dari ujung barat hingga ujung paling timur. Dengan konsentrasi kawasan industri paling banyak dengan porsi 66 persen berada di bagian timur Jakarta, yakni Bekasi, Cikarang, dan merambah Karawang.

Sementara itu, total stok area kawasan industri berupa gudang modern saat ini kurang lebih terdapat 1 juta meter persegi. Lokasinya berada di Jabodetabek dan diprediksi akan berkembang sebesar 300.000 meter persegi pada tahun-tahun ke depan.

PENGARUHI RITEL
Pertumbuhan bidang industri makanan dan minuman di kawasan industri turut memengaruhi permintaan di industri ritel terutama untuk makanan, minuman, serta entertainment.

“Sektor food and beverage (F&B) menjadi sektor yang sangat aktif selama semester pertama 2017. Tingkat hunian juga masih stabil hingga beberapa tahun ke depan,” jelas Cecilia Santoso, Head of Retail JLL Internasional.

Harga sewa pasar ritel stabil selama triwulan kedua 2017 dan dianggap cukup baik mengingat segmen lain tidak mengalami pergerakan. Cecilia juga memprediksi pasar akan terjadi untuk ritel mengingat para landlord masih menjaga tingkat kompetisi setiap pusat perbelanjaan agar tetap menarik untuk dikunjungi.

“Para landlord berusaha mendatangkan tenat baru untuk menarik kunjungan di tengah minimnya ruang yang tersedia,” tutur Cecilia.

Usaha F&B, kosmetik, dan hiburan menjadi tiga segmen yang paling diminati di sektor ritel. Sementara, fesyen, elektronik dan peralatan rumah tangga cenderung stagnan. Di sisi lain, barang-barang murah mulai sepi peminat.

Berdasarkan riset JLL, pada 2016, tambahan ruang ritel sebanyak 100 ribu m2, namun pada 2017 hanya tersedia 82.500 m2 dengan tingkat keterisian 90%. Tambahan ruang ritel baru dikontribusikan oleh AEON Mall dan Pondok Indah Mall III. TPW