RISET

Jelang Pemilu Semakin Banyak Orang Cari Informasi Properti

Administrator | Kamis, 12 September 2019 - 09:59:17 WIB | dibaca: 319 pembaca

Foto: Istimewa

Kegiatan pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu) untuk memiliki anggota legislatif maupun presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 yang berlangsung pada kuartal I 2019 ternyata tidak banyak memengaruhi minat masyarakat untuk mencari informasi properti khususnya hunian, demikian riset sentiment survey rumah123.com yang dirilis, baru-baru ini.

Berdasarkan hasil Sentiment Survey kuartal I 2019 yang diolah oleh tim Business Intelligent Rumah123, persentase pencari informasi seputar properti justru meningkat dua kali lipat secara kuartalan (qtq) dari tahun sebelumnya.

“Dampak Pemilu tidak terlihat memengaruhi. Bahkan semakin banyak orang yang memiliki aspirasi terhadap properti, mengalahkan dominasi persentase first time home buyers dalam dua tahun terakhir,” ujar Maria Manik, Country GM Rumah123 dalam Paparan Hasil Sentiment Survey di Jakarta, Kamis (16/5).

Dia menambahkan, tidak hanya mereka yang baru mencari tahu seputar pasar properti, sebagian besar masyarakat Indonesia bahkan sedang aktif mencari properti untuk dibeli atau bahkan investasi. Mayoritas didominasi oleh generasi milenial yang memiliki rentang usia 22-28 tahun serta rentang gaji Rp 5 juga hingga Rp 10 juta per bulan.

Anak perusahaan REA Group Australia itu melakukan survei terhadap 3.007 total responden, dimana 26,29% responden diantaranya berstatus sudah menikah. Para responden berasal dari Jabodetabek dan beberapa kota besar lainnya di Pulau Jawa, dengan rentang waktu survei dari periode 1 – 15 April 2019.

Diungkapkan Maria, ada pun hal-hal yang menjadi pertimbangan masyarakat dalam membeli properti berdasarkan survei tersebut adalah lokasi dengan presentase 20,68%, diikuti harga (20,50%), fasilitas (20,03%), promo khusus (19,52%), dan desain (19,28%).

Lantas bagaimana dengan permintaan properti di Indonesia? Menariknya, seperti yang tercatat di situs Rumah123.com permintaan properti 2019 tetap meningkat jika dibanding 2018, baik dari sisi penjualan atau sewa. Khusus untuk sewa, pertumbuhannya bahkan dua kali lipat dari persentase penjualan. Adapun berdasarkan tipenya, apartemen mengalami peningkatan permintaan yang tinggi dibanding rumah, yang meningkat hingga 42,85% dari tahun sebelumnya.

Pilih Hunian Vertikal
Anton Sitorus, Director, Head of Research and Consultancy Savills Indonesia mengungkapkan generasi milenial masih jarang memikirkan investasi jangka panjang seperti emas atau rumah seperti halnya dilakukan generasi sebelumnya.

“Generasi ini bukan generasi yang gemar menabung. Mereka cepat sekali spend money. Tapi hunian bukan hal yang utama bagi mereka. Milenial cenderung memilih gawai atau travelling saat mereka memiliki uang,” ungkap Anton.

Sementara dalam membeli hunian, generasi milenial lebih memiliki banyak kriteria. Salah satunya generasi tersebut paling cocok dan suka tinggal di high rise building atau hunian vertikal (apartemen) yang berada di pusat kota atau dekat akses transportasi massal meski sedikit keluar kota, karena kendala utama mereka adalah mengenai harga properti.

Menurut Anton, para generasi milenial adalah potensi pasar saat ini dan di masa depan. Sebagian besar pembeli properti dalam tiga tahun terakhir merupakan end user, dan mayoritas adalah generasi milenial. End user adalah orang yang membeli untuk digunakan dan biasanya adalah rumah pertama.

Informasi Digital
Sayangnya, berdasarkan hasil Sentiment Survey kuartal I 2019, ternyata masih banyak informasi yang belum didapat oleh para pelaku pasar properti ini. Sebagai contoh, masih banyak orang yang belum mengetahui program KPR milenial, program yang khusus dirancang untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi generasi milenial.

Setidaknya ada 70.54% tidak tahu mengenai program tersebut. Padahal sekarang cukup banyak produk KPR milenial yang sudah diluncurkan perbankan.

“Milenial banyak yang mengakses informasi melalui digital, harapan ke depannya semua hal berkaitan properti, seperti KPR milenial ini, bisa ditelusuri dengan mudah dari internet,” kata Maria Manik.

Dia mengatakan kalangan milenial lebih menyukai pencarian informasi properti melalui internet. Oleh karena itu, Maria Manik berharap ke depan semua informasi mengenai properti bisa diakses secara mudah melalui internet sehingga sekaligus dapat menambah wawasan generasi milenial terhadap pentingnya memiliki properti. 

“Harapan ke depannya adalah semua hal yang berkaitan dengan properti, seperti KPR milenial dan produk properti khusus milenial bisa ditelusuri dengan mudah dari internet,” kata dia.

Hasil Sentiment Survey Rumah123.com juga memperlihatkan bahwa Kota Bekasi merupakan wilayah yang paling tidak disukai oleh orang- orang Jakarta. Rinciannya, responden Jakarta paling tidak suka tinggal di Bekasi sebanyak 11,37%.

Tak hanya orang Jakarta, ternyata responden dengan daerah favorit Bogor juga tidak suka tinggal di Bekasi dengan persentase 6,18%. Kemudian responden yang daerah favoritnya di Depok dan Tangerang tidak suka dengan Bekasi masing-masing 3,97% dan 3,64%.

“Mungkin orang Bogor berpikir udara di Bogor lebih baik, karena kan daerahnya masih hijau,” papar Maria Manik.

Menurut dia, sebenarnya kemauan orang yang berdomisili di luar Jakarta untuk pindah ke Jakarta tinggi, namun mereka menyadari kemampuan untuk memiliki rumah di ibukota tidak mencukupi. Jadi, orang di luar Jakarta masih lebih comfortable untuk tinggal di daerahnya sendiri. (Rinaldi)