LEADERSHIP

Kecerdasan Emosional Faktor Kunci Keberhasilan

Administrator | Jumat, 12 Januari 2018 - 13:58:15 WIB | dibaca: 401 pembaca

Oleh: Dharmesti Sindhunatha Founder - EQlibrium “Emotional Intelligence for Performance”


Sering kali di awal pelatihan ‘kepemimpinan dengan menggunakan kecerdasan emosi’ yang saya berikan, saya meminta para peserta untuk memikirkan seseorang yang mereka anggap berhasil dalam kehidupannya, apapun profesinya. Apakah itu seorang pebisnis, atlit, politisi, aktor, ibu rumah tangga, pengemudi, dan lain sebagainya.

Kemudian saya meminta mereka memikirkan faktor-faktor kunci apa saja yang membuat orang tersebut berhasil. Setelah itu saya minta mereka membagi faktor-faktor kunci tersebut ke dalam tiga kategori: Kecerdasan Intelegensia, Keahlian Teknis dan Kecerdasan Emosi.

Ternyata setelah secara spontan mereka mengkategorikan semua faktor, hasilnya selalu sama di semua pelatihan, yaitu mayoritas faktor-faktor kunci keberhasilan seseorang ada di kategori kecerdasan emosional atau emotional intelligence atau singkatan populernya adalah EQ. Lucunya, peserta pelatihan tersebut belum pernah belajar mengenai EQ sebelumnya, tetapi secara tidak sadar mereka menyebutkan faktorfaktor yang masuk kedalam kategori EQ yang penting dimiliki seseorang agar dapat berhasil dalam kehidupannya.

Apa saja faktor-faktor kunci keberhasilan seseorang yang sering mereka sebutkan dan mereka anggap masuk dalam kedalam kategori kecerdasan emosi? Diantaranya adalah bijaksana, menghargai pendapat orang lain, dapat bekerjasama, obyektif, dapat berkomunikasi dengan positif, dapat membina hubungan dengan baik, emosi stabil, responsive, optimis, kreatif, mau mengakui kesalahan dan cepat bangkit dari kegagalan.

Faktor-faktor kecerdasan emosi memang merupakan hal-hal yang setiap hari kita alami dan coba jalankan dalam kehidupan kita dan umumnya kita juga mengetahui bahwa faktor-faktor tersebut memang sangat penting untuk dimiliki. Tetapi kita sering tidak menyadari bahwa memiliki kecerdasan emosi yang baik dan mampu mempraktekannya setiap hari tidak semudah dengan hanya mampu mengenal faktor-faktornya saja. Bahkan ternyata batu sandungan terbesar dari keberhasilan seseorang adalah di kecerdasan emosi. Seseorang bisa sangat pandai, berpengalaman, mempunyai keahlian teknis yang tinggi, tetapi sulit untuk memaksimalkan potensinya apabila tidak mempunyai kecerdasan emosi yang baik.

Apabila kecerdasan intelegensia atau IQ dimiliki seseorang sejak lahir dan proses peningkatannya terbatas dan bahkan akan berhenti di usia tertentu, tidak demikian halnya dengan kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi atau EQ adalah sesuatu keahlian yang bisa dipelajari dan dilatih secara terus menerus, mulai dari usia bayi sampai dengan lansia. Asal kita tahu cara melatihnya.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kecerdasan emosi? Kecerdasan emosi adalah bagaimana seseorang dapat secara efektif menyeimbangkan antara pikiran dan perasaannya dalam membuat keputusan yang optimal. Artinya sebuah keputusan yang optimal tidak dapat diputuskan berdasarkan nalar atau logika saja dan tentunya juga tidak dapat diputuskan hanya berdasarkan perasaan semata. Nalar dan perasaan keduanya sangatlah penting dalam proses pembuatan keputusan.

Istilah emotional intelligence dipopulerkan oleh seorang jurnalis dan periset dari New York, Ameria Serikat bernama Daniel Goleman yang pada tahun 1995 mempublikasikan buku yang berjudul “Why EQ matters more than IQ”. Menurut Daniel Goleman beberapa karakterisitik yang merupakan dasar dari kecerdasan emosi adalah:

  • SELF AWARENESS: Kemampuan untuk dapat membaca dan menyadari emosi diri kita sendiri serta emosi orang-orang yang berada disekitar kita.
  • MOOD MANAGEMENT: Kemampuan kita untuk bisa meregulasi emosi kita terutama emosi-emosi negatif dan tetap mampu membuat keputusan yang tidak dilakukan secara emosional
  • MOTIVATION: Memiliki ambisi dan semangat pantang menyerah, kemampuan berinisiatif, optimis dan persisten serta komitmen untuk mencapai tujuan.
  • EMPATHY: Memiliki kemampuan untuk merasakan dan mengkomunikasikan perasaan orang lain tanpa ikut larut dalam perasaan orang tersebut. Bersikap peduli terhadap situasi orang lain.
  • SOCIAL SKILLS: Mempunyai kemampuan dan keinginan untuk menciptakan dan membina hubungan positif dengan orang lain.

Sejak Daniel Goleman menerbitkan buku ini, banyak penulis lain yang menulis mengenai pentingnya kecerdasan emosi dan dampak positifnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan di banyak negara makin banyak perusahaan yang menggunakan test dan pelatihan kecerdasan emosi untuk kebutuhan rekrutmen, promosi, dan pengembangan karyawan. Karena terbukti bahwa mereka yang memiliki kecerdasan emosi yang terlatih akan berdampak pada kinerja yang jauh lebih baik dalam situasi kerja apapun terutama di masa yang sulit dan penuh tekanan.