Trend

Konsep Co-Living Kini Jadi Pilihan Hunian Milenial

Administrator | Selasa, 14 September 2021 - 13:55:00 WIB | dibaca: 77 pembaca

Foto: Istimewa

Konsep co-living atau berbagi tempat tinggal semakin populer di kalangan milenial. Ada dua hal yang membuat konsep ini menjadi booming, yaitu keterjangkauan dan komunitas. Milenial dengan dana yang terbatas dan ingin menabungakan sangat tertolong dengan konsep co-living ini karena lebih terjangkau.

Konsep ekonomi berbagi telah mengubah dan membongkar tatanan dunia. Mulai dari layanan transportasi,  ruang kerja hingga hiburan online, telah mengubah gaya hidup masyarakat saat ini. Konsep co-living atau berbagi ruang hidup salah satunya. Laporan Jones Lang LaSalle (JLL), perusahaan riset dan manajemen properti global, menyebutkan bahwa cepatnya proses urbanisasi mengubah cara huni dan tempat tinggal manusia. Penerimaan masyarakat terhadap prinsip ekonomi saling berbagai (shared economy) berhasil menjadikan sektor kehidupan sebagai pendorong pengembangan alternatif hunian.

Co–living atau communal living adalah konsep hunian yang diadopsi dari hunian asrama. Dimana setiap penghuni hidup dalam sebuah bangunan vertikal dengan berbagai fasilitas untuk bersama.

“Kami melihat makin intensifnya permintaan terhadap alternatif pilihan hunian yang terjangkau di seluruh kota-kota Asia Pasifik,” tutur Rohit Hemnani, COO and Head of Alternatives Capital Markets JLL Asia Pacific.

Menurutnya, populasi anak muda yang besar serta proses urbanisasi di Indonesia yang sangat cepat mendorong terjadinya pertumbuhan permintaan untuk model hunian co-living. Selain itu, hunian co-living juga menjadi bentuk hunian modern yang mana setiap penghuni diminta untuk berbagi ruang dan fasilitas, serta juga berbagi minat, keterampilan, sumber daya, nilai, dan impian mereka dengan orang- orang inspirasional lainnya.

Hal senada diungkapkan CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda. Dia mengatakan, salah satu hunian yang saat ini digemari adalah co-living. Konsepnya, dengan berbagi ruang akan jauh lebih hemat, baik dari ruangan maupun biaya perawatan.

“Jadi, kalau bicara efisiensi biaya jelas menghemat sekali karena fasilitas dapur, ruang tamu, bisa juga kamar mandi di-share bersama,” ujar Ali.
 
Namun, umumnya hunian seperti ini yang dibangun di dekat kawa- san transportasi massal dan dipakai sebagian besar pekerja milenial, bukan sebagai rumah tetap atau investasi.

Untuk bisa terus tumbuh, pengembangan co-living juga harus kreatif dalam membuat produk dan harga terjangkau. Jika itu terpenuhi, dia yakin market co-living meningkat. Bahkan, banyak pengembang di negara maju seperti China, Hong Kong, dan Singapura memanfaatkan tren ini dengan membangun ruang co-living dengan kamar tidur. Konsep ini ternyata sangat digemari dan menjadi tren hunian baru.

“Di negara lain, co-living biasanya disebut hostile. Rumah tinggal tetap menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Kalau co-living sifat- nya temporary,” kata Ali. 

Dilirik Pengembang
Perusahaan penyedia ruang kerja bersama (co-working space) terbesar di Indonesia Co- hive juga sudah melirik bisnis properti hunian dengan menghadirkan produk co-living pertamanya di Tower Crest West Vista, Jakarta Barat.

“CoHive menawarkan gaya hidup perko- taan berfasilitas lengkap dengan harga ter- jangkau. CoHive menyediakan lingkungan tempat tinggal yang mendorong terciptanya kolaborasi diantara para anggotanya melalui berbagi ruang komunal,” tutur Jason Lee, CEO Cohive seperti dikutip dari Bisnis.com.

Jason  menuturkan bahwa  proyek  co- living ini adalah hasil dari kerja sama antara Keppel Land Indonesia dan Cohive. Gedung pertamanya terdiri dari 64 kamar dengan luas total 2.800 meter persegi yang diisi dengan kamar berukuran studio serta two bedroom.
 
Fasilitas yang ditawarkan co-living perta- manya ini selain hunian dan working space area yakni common room, ruang dapur bersama, laundry room dan teater room.
 
Jason Lee yakin tren dan gaya hidup mile- nial akan semakin bergeser ke gaya hidup co- living. Pasalnya, jiwa milenial ingin hidup dan tinggal di kota dengan berbagai kemudahan tanpa biaya yang mahal.

Sementara itu, Peony Tang, Direktur PT Setiawan DwiTunggal (SouthCity) mengatakan co-living pada  dasarnya adalah pandangan baru terhadap ide lama, yang dibayangkan oleh  generasi  milenial  yang  menghargai hal-hal seperti keterbukaan dan kolaborasi, jejaring sosial, dan ekonomi berbagi.
 
Menurut dia, banyak pengembang di negara maju seperti Cina, Hong Kong, dan Singapura memanfaatkan tren ini dengan membangun ruang co-living dengan kamar tidur dan kamar mandi pribadi kecil, tetapi ruang bersama yang besar dan fasilitas umum. “Konsep ini ternyata digemari dan menjadi tren hunian baru,” ungkap Peony.

Grup properti, PT Lippo Karawaci Tbk juga memutuskan untuk  membidik  pasar co-living. Menggandeng Cove, pengembang ini  meluncurkan Cove Hillcrest, konsep co-living mahasiswa di daerah Lippo Karawaci, Tangerang. Fasilitas akomodasi ini berdekatan dengan kampus Universitas Pelita Harapan (UPH).
 
CEO Lippo Karawaci John Riady menyebutkan, co-living hasil kolaborasi ini merupakan yang pertama di kawasan Asia Tenggara bagi kalangan mahasiswa.

“Kami memiliki visi yang sama untuk mem- bangun komunitas, memberikan  dampak, dan menjadi alasan bagi masyarakat untuk dapat  hidup  dengan nyaman  dan pantas dengan menyediakan hunian terbaik kepada jutaan orang di Asia khususnya di Indonesia,” kata John dalam keterangan persnya, Kamis (17/6/2021).

Lippo, kata dia, melihat  tren  co-living pada mahasiswa akan meningkat seiring de- ngan rencana pemerintah untuk memulai pembelajaran tatap muka pada semester depan. Cove Hillcrest berjarak 15 menit jalan kaki ke kampus utama UPH dan 6 menit jalan kaki ke Rumah Sakit Siloam Karawaci.
 
Setiap kamar memiliki kamar mandi dalam, ruang belajar, tempat penyimpanan, dan ruangan dengan tipe yang lebih besar bahkan memiliki dapur tersendiri. (Rinaldi)
 
Sumber: