Kilas Berita

Konter Pelayanan Pertanahan Beroperasi di Mutiara Gading City

Administrator | Rabu, 07 November 2018 - 10:58:08 WIB | dibaca: 23 pembaca

Selain menawarkan hunian dengan konsep dan arsitektur menarik, ISPI Group juga memberlakukan beberapa strategi pembayaran untuk mempermudah konsumen membeli properti di proyek properti tersebut. Pengembang ini juga membantu konsumen dan pemilik rumah di seluruh proyek yang dikembangkan dalam peningkatan SHGB menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM).

Pengembang Perumahan Mutiara Gading City ini menggandeng BPN Kabupaten Bekasi, Bank BTN dan Realestat Indonesia (REI) Komisariat Bekasi untuk memberikan pelayanan pertanahan kepada masyarakat. Seperti yang dilakukan baru-baru ini, sebanyak 1.000 SHGB konsumen ISPI mendapatkan peningkatan Sertifikat Hak Milik (SHM) dengan mudah karena pengurusan dapat dilakukan di Konter Pelayanan Pertanahan yang berada di lokasi perumahan tersebut. Selain cepat (one day service) juga gratis.

“ISPI mempunyai bank tanah di kawasan Bekasi seluas 1.400 hektare, sehingga dengan adanya konter pelayanan ini, maka akan sangat dirasakan dampaknya bagi masyarakat karena pengurusan menjadi dekat,” kata Komisaris Utama ISPI Group, Preadi Ekarto kepada wartawan saat peresmian konter pelayanan BPN Bekasi.

Kepala BPN Kabupaten Bekasi, Deni Santo mengatakan layanan pertanahan yang dapat dilakukan di konter Mutiara Gading City meliputi Perubahan Hak (Peningkatan SHGB menjadi SHM), Penghapusan Hak Tanggungan (Roya), Peralihan Hak (Balik Nama), Pengecekan Sertipikat dan Informasi Pertanahan.

“Dengan adanya konter pelayanan di sini, maka akan mendekatkan BPN dengan masyarakat di wilayah Bekasi Utara ini. Jadi masyarakat di 2-3 kecamatan di sekitar Mutiara Gading City tidak perlu lagi ke Cikarang untuk mengurus masalah pertanahan, karena cukup di sini saja. Enggak kena macet dan biaya transportasi lebih murah,” ungkap dia.

Sementara itu, Preadi memprediksi pasar residensial di segmen menengah masih cukup baik dan akan tetap mendominasi permintaan hunian di Tanah Air sepanjang 2018. Kondisi tersebut terlihat dari strategi pengembangan developer yang masih fokus menggarap segmen ini.

“Kami optimistis penjualan rumah di segmen menengah yakni di kisaran harga Rp 300 juta hingga Rp 900 juta per unit masih terbesar. Peminatnya selalu ada, kenapa? Karena pembelinya adalah pengguna langsung (end user). Jarang sekali rumah di segmen ini dibeli oleh investor apalagi spekulan,” ungkap dia.

Menurut Preadi, rumah untuk pengguna didasari kebutuhan tempat tinggal, terutama untuk keluarga-keluarga baru. Gencarnya pembangunan konstruksi dan infrastruktur, dia yakini juga memengaruhi ekonomi dan daya beli masyarakat di kelas menengah untuk membeli rumah. Selain tingkat suku bunga KPR yang cukup kompetitif saat ini. (Rinaldi)