TOPIK UTAMA

Outlook 2018

KPR Residensial Dibawah Rp 1 Miliar Tetap Primadona

Administrator | Kamis, 28 Juni 2018 - 13:22:44 WIB | dibaca: 21 pembaca

Pembiayaan kredit properti di segmen perumahan tapak maupun hunian vertikal diyakini masih menempati posisi teratas dibandingkan subsektor properti lainnya pada 2018.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP REI) Soelaeman Soemawinata mengungkapkan asosiasi meyakini perumahan baik yang landed atau apartemen dengan kisaran harga Rp 300 juta hingga dibawah Rp 1 miliar masih akan banyak peminatnya. Oleh karena itu, perbankan dapat mempertimbangkan untuk mendukung pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), maupun pembiayaan konstruksi atau modal kerja.

“Kalau dilihat pertumbuhan di segmen ini selama semester II 2017 di sejumlah lokasi seperti di Tangerang dan Bekasi, potensinya masih tetap tinggi di tahun depan,” ungkap Eman, demikian dia akrab dipanggil, saat menjadi narasumber dalam acara bertajuk Executive Vice President (EVP) Townhall Bank BRI bertema “Transformasi untuk Kinerja Terbaik”, di Jakarta, Jumat (10/11).

Tinggal bagaimana developer dan perbankan mendorong calon konsumen untuk mau membelanjakan uangnya ke sektor properti. Selama ini, menurut Eman, banyak konsumen masih menahan diri.

Direktur Consumer Banking PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Handayani optimistis bahwa kebijakan Loan to Value (LTV) secara spasial yang rencananya direalisasikan tahun depan akan menjadi stimulan bagi pertumbuhan bisnis KPR di 2018. Sebab, penyaluran KPR akan disesuaikan dengan daya beli masyarakat pada masing-masing daerah.

“Kebijakan LTV spasial bisa jadi stimulus mendukung daya beli masyarakat di masing-masing daerah karena itu mengatasi masalah kemampuan mereka memenuhi uang muka rumah,” ucapnya.

Dia menambahkan, saat ini produk KPR yang disalurkan belum menyesuaikan diri dengan karakter daerah. Handayani menyatakan, ke depan akan dibuat produk KPR yang mempertimbangkan daya beli tiap daerah. Hal ini diyakini bisa menjadi solusi demi membantu masyarakat kelas menengah bawah untuk memenuhi uang muka rumah.

Merujuk data yang disajikan sejumlah lembaga konsultan properti, pada 2018 mendatang subsektor residensial masih akan mendominasi pertumbuhan industri properti nasional. Seperti diungkap dari data BCI Asia yang menyebutkan bahwa properti residensial di tahun depan akan berkontribusi sebesar 14% terhadap total konstruksi.

Stabilitas situasi politik dan pertumbuhan ekonomi yang relatif besar diyakini menjadi alasan peningkatan permintaan properti residensial. Hasil riset Colliers International merinci adanya peningkatan permintaan apartemen di Jakarta pada 2018 dengan kisaran maksimal 90% dari level saat ini sebesar 85,6%.

Di sisi lain, Eman melanjutkan, permintaan pasar terhadap rumah subsidi memang terus bertumbuh. Hal ini terutama pasca diterbitkannya Program Sejuta Rumah yang diresmikan pada 2015 silam.

Namun, Eman menyebutkan bahwa tren pertumbuhan rumah subsidi tidak bisa dijadikan acuan pertumbuhan sektor properti secara keseluruhan. Sebab segmen rumah subsidi sudah memiliki captive market yang jelas.

“Jangan pernah membuat patokan pertumbuhan industri properti dengan rumah subsidi sebagai acuannya. Selain captive market rumah bersubsidi sudah jelas yaitu masyarakat berpenghasilan rendah, segmen ini juga memperoleh berbagai keringanan (insentif) dari pemerintah,” papar Eman.

Pada bagian lain paparannya, Eman mengulas tren makin merebaknya pemasaran properti dengan platform digital. Menurut dia, di era digital ini maka pencarian informasi produk properti sudah ada dalam genggaman tangan.

“Developer memang sangat terbantu dengan adanya digitalisasi pemasaran properti. Tapi yang perlu diingat bahwa pembeli properti akan tetap harus melihat ke lokasi proyek sebelum memutuskan untuk bertransaksi,” ujarnya.

Pelaku pembangunan yang sudah memanfaatkan pemasaran secara digital, saran dia, tetap harus memahami kondisi psikologis calon konsumen. Konsumen di Indonesia masih memandang properti sebagai salah satu sektor usaha yang harus bisa dikroscek secara fisik. Ini yang membedakan properti di Indonesia dengan di negara lain seperti di Amerika Serikat. BRN