ISU PASAR

Property Outlook

Lima Faktor Ini Pengaruhi Industri Properti di 2018

Administrator | Senin, 24 September 2018 - 14:29:55 WIB | dibaca: 879 pembaca

Foto: Istimewa

Meski tren industri properti sepanjang 2018 diproyeksikan bertumbuh, namun sejumlah tantangan masih akan menghadang. Setidaknya ada lima faktor yang memengaruhi kondisi pasar properti nasional di tahun ini, menurut versi Rumah123.

Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung, mengungkapkan saat ini industri properti berada di fase terbawah siklus properti. Investor harus memanfaatkan momentum ini untuk membeli dan berinvestasi. Menurut dia, setidaknya ada beberapa faktor yang memengaruhi pasar dan menentukan kondisi pasar properti sepanjang 2018.

Pertama, adalah perlambatan pertumbuhan properti yang sudah terjadi sejak 2016 masih menjadi tantangan besar untuk diperbaiki. Keadaan ini disebabkan penurunan daya beli konsumen. Banyak orang mengabaikan kebutuhan hunian dan mengalihkan pengeluaran untuk leisure seperti traveling atau shopping.

Kedua, terjadinya digital disruption atau perubahan pola bisnis digital yang tidak hanya terjadi pada transportasi, seperti Go-Jek, namun juga mengganggu sektor properti. Digital disruption mengubah hidup hampir semua orang saat ini.

“Sekarang orang tinggal pakai handphone bisa memesan makanan, tiket, dan lain-lain. Bayangkan aplikasi Go-Jek bisa melayani pembelian makanan setiap 8 detik sekali. Ini sesuatu hal yang tidak terpikirkan sebelumnya, seakan orang menyelesaikan semua kebutuhan hanya dari genggaman,” papar Untung pada acara Property Outlook 2018 dengan tema “Menebak Arah Industri Properti di Tahun Politik” di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta, baru-baru ini.

Ketiga, adalah fenomena generasi milenial. Hal ini menjadi isu utama yang terus mengemuka mengingat jumlah kelompok masyarakat ini yang mendominasi 40% dari pembeli properti di Indonesia. Bahkan, jumlahnya akan meningkat pesat menjadi 70% pada 2030. Untung menegaskan, milenial adalah market yang tidak boleh diabaikan termasuk oleh pengembang.

“Perilaku generasi milenial ini berbeda dengan Gen X dan Boomers, sehingga kita harus mulai memahami apa keinginan mereka,” ujar Untung.

Keempat, adalah serbuan perusahaan pengembang dari China. Kondisi tersebut, papar dia, juga tidak boleh dianggap remeh. Sudah ada beberapa developer yang membangun proyeknya di Indonesia dan cukup sukses mendulang pasar domestik terutama di Jabodetabek.

Kelima, pasar perlu mengantisipasi situasi dan isu-isu politik yang menghangat memasuki tahun politik. Seperti diketahui pada 2018 sejumlah daerah menggelar Pilkada serentak baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Sementara tahun depan akan ada Pileg dan Pilpres yang diperkirakan akan banyak menyedot energi bangsa.

“Di April nanti sudah ramai-ramai Pilkada. Kita berharap keadaannya tidak seperti Pilkada DKI lalu, karena penjualan kemarin sempat menurun,” papar Untung.

Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Ignesjz Kemalawarta memproyeksikan hal yang sama. Menurut Direktur Sinarmas Land itu, makro ekonomi nasional terus membaik, daya beli membaik, tren penyaluran KPA/KPR meningkat, serta suku bunga acuan BI cenderung menurun. Selain itu stabilitas politik dan keamanan pun terjaga sehingga menggerakkan motor perekonomian bangsa. “Ini menjadi modal untuk pertumbuhan industri properti di 2018,” ungkap Ignesjz di diskusi yang sama.

Dia berkeyakinan tahun politik tidak akan banyak menganggu pertumbuhan pasar properti yang sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir. Justru dia mengingatkan pelaku usaha properti untuk mencermati perubahan mendasar pada pola permintaan properti yang berubah di era digital disruption.

“Di era digital ini, ada 135 juta pengguna internet di Indonesia. Teknologi informasi begitu mudahnya, sehingga lapisan generasi tidak lepas dari teknologi internet. Pemanfaatan teknologi oleh masyarakat secara luas ini sebenarnya mempermudah pasar mengenal produk properti secara virtual baik lewat website, medsos dan lain-lain,” jelas Ignesjz.

Minat Tinggi
Deputi Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI), Sri Noerhidajati menambahkan minat masyarakat untuk memiliki properti masih cukup tinggi. Pertama, sebagai kebutuhan rumah tinggal. Kedua, sebagai investasi karena persepsi kalau harga properti itu tidak akan turun sudah melekat.

Berdasarkan riset yang dilakukan BI pada Oktober 2017 terungkap sebanyak 22,5 persen orang Indonesia masih memilih properti sebagai investasi. Lainnya memilih berinvestasi di saham, emas, dan lain-lain.

“Properti memang memiliki risiko rendah dibandingkan investasi lainnya. Propertinya bisa disewakan atau dijual lagi. Meski pun tidak terlalu mudah ketika harus dijual cepat,” ungkap Sri.

BI saat ini sedang berencana untuk memperkuat Loan to Value atau LTV dengan penerapan sesuai segmen. Rencana ini bertujuan mendorong percepatan pertumbuhan kredit properti. Namun, diakuinya masih butuh kajian mendalam untuk merumuskan nilai LTV sesuai segmen tersebut, mengingat banyak kendala terutama soal akurasi data harga properti di seluruh Indonesia.

Sementara Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Adriyanto mengatakan pemerintah sudah terbukti berhasil menjaga inflasi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi itu terlihat dari daya beli masyarakat yang masih stabil sehingga pasar properti tetap berlangsung.

“Sejumlah kebijakan pemerintah juga menjaga pasar properti. Sebagai contoh memberikan subsidi dan bantuan uang muka untuk rumah murah melalui FLPP. Ini untuk menggerakkan dan memaksimalkan penyediaan rumah bagi masyarakat,” kata dia. RIN