TOPIK UTAMA

Melaju Lamban, Penjualan Pengembang Tertekan

Administrator | Senin, 11 Februari 2019 - 13:31:30 WIB | dibaca: 36 pembaca

Foto: Istimewa

Memasuki semester II 2018, pasar properti masih belum banyak bergerak. Berdasarkan riset, kelesuan masih melanda hampir semua sektor tidak terkecuali residensial. Bahkan sejumlah pengembang papan atas melaporkan terjadinya penurunan atau masih rendahnya realisasi penjualan pemasaran (marketing sales) sepanjang paruh pertama tahun ini.

Sebut saja PT Agung Podomoro Land Tbk yang di semester I 2018 mencatatkan penurunan marketing sales hingga 40% dibandingkan semester I 2017. Merujuk laporan perusahaan, penjualan pemasaran di semester I 2017 lebih tinggi karena perseroan melakukan penjualan lahan industri cukup signifikan yakni sekitar Rp 1,38 triliun.

PT Summarecon Agung Tbk di semester I 2018 juga mencatatkan nilai marketing sales yang masih jauh dari target yang dipatok tahun ini. Dari target marketing sales tahun ini sebesar Rp 4 triliun, baru tercapai Rp 1,15 triliun, atau baru 28,75%.

Sementara PT Intiland Development Tbk di semester I 2018 berhasil mencatatkan marketing sales senilai Rp1,3 triliun, atau baru 38% dari target tahun ini sebesar Rp 3,38 triliun. Meski begitu, dibandingkan semester I 2017, pencapaian itu meningkat 40%.

Begitu pun, PT Metropolitan Land Tbk atau Metland, di paruh pertama tahun ini mencatatkan marketing sales senilai Rp 1,19 triliun atau sekitar 59,5% dari target tahun ini Rp 2 triliun.

Menurut Head of Research Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia, James Taylor hampir seluruh sektor mengalami kelesuan di sepanjang semester I 2018. Sektor perkantoran paling terpuruk yang ditandai dengan makin menurunnya tingkat hunian (okupansi) ruang kantor seiring dengan banyaknya jumlah pasokan baru. Sejumlah sektor yang masih aktif di semester pertama 2018 ini seperti teknologi, coworking space, dan professional services.

“Pada situasi saat ini, keluwesan para landlord untuk dapat bernegosiasi menjadikan harga sewa masih cukup kompetitif,” ungkap dia.

Demikian juga sektor ritel masih mengalami stagnasi. James menambahkan pasar ritel selama semester pertama tahun ini sama sekali tidak mengalami pergerakan yang signifikan. Harga dan tingkat permintaan masih stabil, demikian juga dengan okupansi. Situasi itu diprediksi bakal berlangsung hingga akhir 2018.

Sementara pasar residensial terutama apartemen dan kondominium tidak terlalu aktif di paruh pertama tahun ini, meski mulai ada ketertarikan dari calon pembeli dan calon investor.

“Tingkat penjualan pasar hunian kondominium di Jakarta pada triwulan kedua kemarin mengalami penurunan 1% dari triwulan pertama menjadi 63%. Kondominium yang terjual pada kuartal kedua 2018 sekitar 900 unit yang sebagian besar datang dari pasar kondominium kelas menengah dan menengah ke bawah,” papar Head of Residensial JLL Indonesia, Luke Rowe.

Saat ini jumlah pasokan kondominium yang telah dibangun di Jakarta mencapai 144.000 unit, dan hingga 2022 akan ada tambahan baru lagi sekitar 53.000 unit.

Menarik Minat
Meski secara umum pasar masih melambat, namun JLL melihat sektor residensial dan logistik tetap menarik minat yang cukup tinggi dari para investor untuk melakukan bisnis properti di Indonesia. Investor asal Jepang, RRT, Hongkong dan Singapura secara konsisten menunjukkan minat tersebut.

“Diharapkan di tahun politik yang akan datang realisasi investasi asing dan lokal tidak menemui halangan yang signifikan,” kata James Taylor.

Director, Head of Research and Consultancy Savills Indonesia, Anton Sitorus, memprediksi tidak akan ada perbedaan yang mencolok untuk pasar properti di Indonesia di semester II 2018. Menurut dia, saat ini investor lokal tengah wait and see. Sementara investor asing juga belum ada melakukan transaksi yang besar dan signifikan.

“Oleh karena itu, pengembang harus jeli dan inovatif untuk bisa mencapai target penjualan pada tahun ini,” ungkap dia.

Anton menambahkan, penentuan harga yang diberikan pengembang harus tepat dan sesuai. Konsep dan desain pun harus menarik kalau ingin menarik minat pembeli, terlebih end user. Dia memprediksi pertumbuhan penjualan residensial akan lebih baik dibandingkan sub-sektor properti lainnya. (Rinaldi/Teti Purwanti)