Peluang

Melirik Potensi Pasar Hunian Khusus Lansia di Indonesia

Administrator | Rabu, 10 Januari 2018 - 10:33:13 WIB | dibaca: 16 pembaca

Pasar hunian bagi para lansia adalah kesempatan dan peluang yang dapat dilirik pengembang di tanah air.

Di tahun 2025 nanti jumlah orang lanjut usia (lansia) diperkirakan sudah mencapai 20% dari total penduduk Indonesia. Bahkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2014 jumlah lansia di Indonesia mencapai 20,24 juta jiwa atau setara dengan 8,03 persen dari total penduduk di tahun tersebut.

Masih dari data tersebut, disebutkan bahwa sekitar 42,32 persen lansia tinggal bersama tiga generasi dalam satu rumah tangga. Sebanyak 26,80 persen lansia lain tinggal bersama keluarga inti. Sementara yang tinggal hanya bersama pasangannya sebesar 17,48 persen. Sedangkan sisanya sebanyak 9,66 persen lansia tinggal sendirian dan harus memenuhi kebutuhan makan, kesehatan, dan sosialnya secara mandiri.

Melihat kesempatan itulah, Realestat Indonesia (REI) bekerjasama dengan Ageing Asia mengadakan diskusi “Fast Track Senior Living dan Care Asia Finance Operation Design” di Hotel Shangrilla Jakarta, baru-baru ini. Wakil Ketua Umum REI Bidang Hubungan Luar Negeri Rusmin Lawin, mengungkapkan pasar hunian (panti) bagi para

lansia adalah kesempatan dan peluang yang dapat dilirik pengembang di Tanah Air. Karena meski hanya sekitar 8 persen, namun jumlah tersebut setara jumlah penduduk Singapura dan Jepang.

“Di tengah kondisi pasar properti yang belum menggembirakan, sebenarnya banyak peluang lain yang bisa dibidik pengembang. Salah satunya hunian bagi para lansia ini, dan belum banyak yang mengembangkan subsektor ini,” kata Rusmin yang menjadi keynote speech di diskusi tersebut.

Dia menambahkan, peluang ini juga sejalan dengan rencana pemerintah dalam mengembangkan 10 Bali baru. Menurut Rusmin, dengan begitu pemerintah hanya tinggal menambahkan infrastruktur kesehatan dan jika berhasil tentu bukan hanya orang Indonesia yang tertarik tetapi juga lansia dari luar negeri.

“Indonesia juga punya banyak kaum urban yang pasti jarang ketemu dengan orang tuanya, padahal orang tua kita butuh teman bicara,” jelas Rusmin.

Saat ini, pangsa pasar panti untuk lansia menyasar pada kelas menengah atas. Namun, tidak menutup kemungkinan juga untuk kelas menengah atau bahkan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Dia menyebutkan daerah Bandung dan Bogor merupakan lokasi yang potensial untuk pengembang panti lansia mengingat lokasinya yang tidak begitu jauh dari Jakarta. Di samping daerah-daerah lainnya di sejumlah wilayah di Indonesia baik yang berbasis pergunungan maupun lautan.

Saat ini, Singapura dan Australia adalah dua negara yang tengah gencar mengembangkan hunian khusus lansia. Sementara International Ageing Asia Innovation Forum adalah sebuat forum yang membahas tentang kesempatan dan kerja sama di bidang Panti Jompo di Asia Pasifik. Sejak forum ini dimulai setidaknya telah memiliki 1.700 anggota termasuk dari Indonesia.

PELUANG BISNIS
Salah satu pengembang di Indonesia yang sudah mengembangkan hunian untuk lansia adalah PT Kawasan Industri Jababeka Tbk.

Menurut Founder Jababeka, S.D Darmono pihaknya mengembangkan senior living @DKhayangan di Kota Jababeka, Cikarang, sebagai hunian bagi para lansia didasari pada keinginan untuk menghadirkan suasana baru dan memenuhi kebutuhan melalui fasilitas dan pelayanan kelas dunia bagi lansia agar dapat menikmati hari tuanya yang indah dan nyaman.

“Jumlah lansia di Indonesia ini cukup besar, dan ini memang prospek bisnis yang besar,” ungkap Darmono.

Di sisi lain, sebagai negara industrial yang masyarakat usia produktifnya sibuk bekerja dikhawatirkan banyak warga Indonesia yang tidak bisa maksimal mengurus orangtuanya yang sudah lansia. Padahal, orangtua membutuhkan layanan dan perawatan khusus yang tak sekadar perawatan fisik tetapi juga pemenuhan kebutuhan emosional.

Saat ini, ungkap Darmono, hunian lansia ini memang masih menyasar warga Indonesia yang memang memiliki jumlah lansia cukup besar. Selain itu, banyak orang kaya Indonesia terutama pensiunan membutuhkan lingkungan yang tenang untuk menikmati hari tuanya. Meski begitu, Jababeka juga membuka peluang lansia dari luar negeri datang dan tinggal di Indonesia.

Diakuinya, sekarang ini negara yang banyak sudah memanfaatkan pasar hunian lansia adalah Malaysia, Singapura dan Philipina. Negara-negara tetangga tersebut menarik para lansia untuk datang dan tinggal di sana, termasuk dari Indonesia.

“Ini peluang pasar yang seharusnya sangat mungkin dilakukan di Indonesia. Kita seharusnya menuju kesana,” ujar Darmono. Senior Living @ D’Khayangan terdiri dari 280 unit senior care dengan luasan bervariasi. Kawasan ini dilengkapi berbagai fasilitas seperti care center, spiritual center, function building dan club house.

Selain itu juga tersedia senior college untuk aktivitas bersifat kreatifitas seperti melukis dan kerajinan tangan juga senior botanic garden untuk kegiatan bertanam buah, bunga, dan herbal. Senior Living at D’Kayangan ini mengimplementasikan konsep Gerontology dan dikelola oleh JV Longlife Holding yang telah berpengalaman dalam mengelola senior housing di Jepang. Di sini, rumah lansia dipadukan dengan konsep terintegrasi dan servisnya nomor satu dimana para lansia mendapatkan perawatan dan fasilitas kesehatan yang terbaik.

Selain Jababeka, pemain lain yang sudah berkecimpung di senior living adalah PT Briscor Horizon. Perusahaan ini punya salah satu panti lansia eksklusif berlabel Rukun Senior Living yang ada di Sentul dan menyasar pasar menengah atas. TPW/RIN