TOPIK UTAMA

Membaca Arah Pasar Properti di 2018

Administrator | Jumat, 22 Juni 2018 - 14:51:21 WIB | dibaca: 53 pembaca

Foto: Istimewa

Presiden Direktur Eureka Group, Lukman Purnomisidi memperkirakan di tahun depan pengembang masih harus berjuang keras karena kondisi makro ekonomi belum membaik. Meski diperkirakan likuiditas perbankan cukup bagus, namun gairah pasar diakui masih belum terlalu menggembirakan.

Kondisi itu membuat persaingan pasar masih cukup ketat karena permintaan pasar masih melemah terutama di segmen menengah dan menengah bawa akibat tekanan biaya hidup yang terus meningkat. Sementara di segmen menengah atas, pasar kurang bergairah karena mood investasi sedang merosot.

“Ini tentu sekaligus menjadi tantangan bagi pengembang untuk melakukan berbagai kreasi dan inovasi produk. Hanya produk properti berkualitas yang laku di pasaran tahun depan,” kata dia kepada Majalah RealEstat, baru-baru ini.

CEO Lippo Group James T. Riady pun optimistis tahun depan pasar properti akan tetap tumbuh didorong sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggapnya sudah berada di jalur yang benar. Salah satunya kebijakan pembukaan keran kepemilikan properti bagi orang asing yang progressnya sudah sangat maju.

“Banyak orang asing yang mau berinvestasi di sini, tidak hanya dari Singapura, Hongkong dan China, namun juga negara-negara lain. Dan jangan lupa, di pasar domestik pertumbuhan kelas menengah yang cepat juga menjadi berkah bagi industri properti,” kata dia.

Di 2018, sektor hunian terutama apartemen diyakini masih bakal menjadi andalan pelaku usaha properti untuk mendulang rezeki. Menurut Lukman Purnomosidi, asalkan lokasinya baik dan konsepnya unik disukai pasar, pasar apartemen paling punya peluang di tahun depan. Bahkan di Jakarta, dia memprediksi pasar apartemen akan lebih marak dengan adanya Program DP Nol Persen yang akan diluncurkan Anies-Sandi.

Lebih lanjut dia menambahkan, menyikapi situasi 2018 maka bagi pengembang yang sudah running, dimana sudah siap konsep dan pendanaannya, di tahun depan berpeluang paling besar untuk mencapai penjualan yang lebih baik, dibandingkan yang belum membangun. Eureka Group misalnya, tahun depan memilih tetap melanjutkan proyek-proyek eksisting seperti Kemang Penthouse, Bogorienze Resort Condotel di Bogor dan Apartemen University Resort di Bogor yang merupakan kerjasama dengan IPB.

“Sementara untuk pasar perkantoran tampaknya masih lemah, karena supply perkantoran eksisting masih banyak stok,” papar Ketua Kehormatan DPP REI tersebut.

Sementara Wendy Haryanto, Direktur Eksekutif Jakarta Properti Insititut (JPI) berpendapat pemulihan pasar properti di 2018 akan semakin cepat kalau pemerintah memberikan lebih banyak kemudahan maupun intensif kepada pengembang.

“Kalau sektor properti diperbaiki, maka dalam jangka panjang ekonomi Indonesia juga akan membaik. Jangan dilupa sektor ini membawa dampak ikutan untuk ratusan usaha lain di sektor riil,” papar Wanda.

Dia sepakat bahwa sektor residensial baik landed maupun high rise building masih akan diminati pada tahun depan karena kebutuhan masyarakat masih tinggi. Hanya saja, diprediksi yang bertumbuh paling cepat adalah residensial dengan harga-harga terjangkau.

Lalu bagaimana dengan kondisi industri properti di pasar secondary. Ketua III DPP Asosiasi Realestat Broker Indonesia (Arebi) Nurul Yaqin memprediksi pada 2018 pasar properti seken (bekas pakai) juga akan mengikuti pemulihan seperti yang terjadi di pasar primary.

“Tahun ini pasar seken terpuruk karena suplainya banyak sekali. Namun kami prediksi tahun depan permintaan kembali membaik,” ujar Nurul.

Dia menjelaskan sepanjang 2017, baik landed maupun apartemen di daerah-daerah penyangga Jakarta sudah oversupply, padahal produk baru juga banyak diluncurkan sehingga produk-produk seken menjadi “tenggelam” di pasaran.

Sebaliknya di tahun depan, dengan target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah, diharapkan permintaan properti seken khususnya hunian akan lebih baik. Apalagi pasar secondary sudah cukup terpuruk, bahkan anjlok hingga 20% di 2017.

Tahun Politik
Meski pasar industri diyakini terus menuju recovery, namun pelaku usaha diminta tetap mengantisipasi ketegangan dan gejolak politik menjelang Pilpres 2019 yang kemungkinan semakin terasa di pertengahan tahun depan.

“Gejolak politik terlebih suasana Pilpres pasti memengaruhi ekonomi, termasuk pasar properti. Efeknya bisa optimisme atau sebaliknya pesimisme. Kalau misalnya terlalu banyak drama politik yang terlalu vulgar dan ngawur tentu akan menimbukan ketidakpastian yang berimplikasi negatif terhadap pasar,” ungkap Lukman Purnomosidi.

Menurut Ferry Salanto, Associate Director of Research Colliers International Indonesia, dampak pelaksanaan Pilpres terhadap pasar properti pernah terjadi pada 2014. Ketika itu pasar properti melambat karena banyak investor wait and see menunggu pemenang Pilpres. Meski pun perlambatan saat itu juga dipengaruhi situasi ekonomi global yang juga melambat.

“Saya kira tetap berimbas terhadap pasar, apalagi kalau lawan Jokowi nanti diperhitungkan sama kuat seperti 2014 lalu, akan membuat ketidakpastian. Semua pelaku usaha pasti menunggu siapa yang terpilih,” kata Ferry. RIN/TPW