LEADERSHIP

Membuat Perubahan Menjadi Efektif

Administrator | Selasa, 08 Mei 2018 - 11:40:17 WIB | dibaca: 12 pembaca

Foto: Istimewa

Oleh: Dharmesti Sindhunatha Founder - EQlibrium “Emotional Intelligence for Performance”

Perubahan” merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan setiap manusia. Apalagi di situasi dunia yang penuh dinamika seperti saat ini. Hampir di semua sektor kehidupan kita, perubahan demi perubahan terus menerus terjadi. Bagaimana kita menyikapi hal ini?

Setiap orang tentu bisa menentukan sikapnya masing-masing dalam menghadapi perubahan. Secara umum kita bisa membaginya dalam tiga kelompok manusia. Kelompok pertama adalah kelompok dimana orang-orang tersebut akan sangat sulit untuk berubah, bersikap defensif atau merasa apa yang dia lakukan selama ini adalah yang paling benar dan merasa perubahan akan membuat situasi menjadi lebih buruk.

Kelompok lain akan memperlihatkan sikap “mengalir” atau “go with the flow” tanpa terlalu peduli dengan tujuan perubahan atau dampak-dampak yang akan timbul dari perubahan itu sendiri. Mereka bersikap pasif dan tidak partisipatif.

Kelompok ketiga adalah orang-orang yang terbuka akan perubahan, mempunyai keingintahuan yang sangat besar dengan perubahan yang akan terjadi, menyadari betul dampak positif dan konsekuensi dari perubahan tersebut. Mereka biasanya berpikir jangka panjang dan memikirkan kepentingan orang banyak dibandingkan kepentingan dirinya sendiri. Mereka tidak keberatan bila proses perubahan itu berdampak tidak nyaman untuk dirinya tetapi hasilnya akan bermanfaat untuk banyak orang dan organisasinya.

Berdasarkan penelitian, lebih dari 70% usaha melakukan perubahan di organisasi tidak mencapai hasil yang diinginkan. Banyak sekali penyebab dari kegagalan ini dan salah satu kunci kegagalan adalah kurangnya ada persiapan dan tidak adanya keahlian dari manusia-manusianya untuk menghadapi perubahan. Strategi-strategi besar akan mengalami kegagalan bila orang-orang yang terlibat tidak dipersiapkan. Mereka tidak akan menjalankan perubahan tersebut dengan sepenuh hati bila mereka tidak mengimaninya.

Pimpinan organisasi sering melakukan upaya perubahan dengan menambah pengetahuan dan keahlian dari orang-orangnya. Di satu sisi manusia itu sebenarnya ‘built for change’ dan mereka mampu untuk mempelajari keahlian dan pengetahuan baru untuk beradaptasi dengan situasi-situasi baru. Tetapi bila perubahan itu menjadi sulit dan tidak nyaman untuk dilakukan, mereka akan cenderung kembali ke zona nyaman mereka.

Proses Perubahan bisa berjalan baik apabila tiga tahapan ini dilakukan:

Engage: Buat satu rencana perubahan dengan rinci dan komunikasikan dengan baik dengan seluruh pihak terkait. Bangun hubungan atas dasar rasa percaya diantara seluruh pihak dan berikan harapan dan keyakinan bahwa perubahan ini akan membawa manfaat bagi mereka dan organisasi.

Practice: Implementasikan perubahan tersebut. Hal ini membutuhkan keberanian, semangat dan ‘coaching’ untuk melatih agar fasih dengan pola kerja dan keahlian baru yang dibutuhkan untuk memfasilitasi perubahan tersebut.

Reflect: Pimpinan harus terus menerus melakukan eveluasi selama proses perubahan berlangsung. Komunikasi harus terus dibina untuk mendiskusikan tantangan-tantangan yang ada dan mencari solusi bersama dan tetap fokus kepada tujuan utama dari perubahan. Yang penting juga, pimpinan harus mengapresiasi dan merayakan keberhasilan yang kecil maupun besar dari perubahan yang sedang berjalan.

Resistensi atas perubahan sangatlah normal. Emosi-emosi negatif seperti rasa takut, frustrasi dan sikap menghakimi memang bisa menjadi hambatan utama dari proses perubahan. Tetapi sebenarnya apabila kita bersikap terbuka, emosi-emosi tersebut bisa memberikan masukan-masukan mendalam yang sangat berguna dari proses perubahan yang sedang berjalan.

Kita harus cukup ahli menavigasi emosiemosi tersebut. Untuk bisa melakukan itu, kita harus bisa merubah setiap emosi negatif menjadi penggerak aksi-aksi perubahan. Dan kunci untuk bisa melakukan perubahan emosi adalah kecerdasan emosi atau emotional intelligence.

Sebagai seorang agen perubahan, kesempatan kita adalah bagaimana mengkombinasikan antara strategi dan kecerdasan emosi untuk dapat menjalankan proses perubahan ini dengan baik.