Jalan-Jalan

Menapaki Permukiman Suku Sasak di Lombok

Administrator | Jumat, 14 September 2018 - 15:57:02 WIB | dibaca: 13 pembaca

Foto: Istimewa

Terletak di Kabupaten Lombok Tengah—tepatnya di Rambitan, Kecamatan Pujut—Desa Sade merupakan salah satu desa di Indonesia yang masih mempertahankan kearifan lokalnya lewat keutuhan budaya dan pola hidup.

Di desa ini, wisatawan dapat menyaksikan bagaimana kehidupan dan tradisi Suku Sasak, yang konon sudah turun-temurun dari 600 tahun yang lalu. 

Dari Bandar Udara Internasional Lombok, Desa Sade berjarak sekitar 8 kilometer. Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk mencapai desa adat tersebut dari bandara. Wisatawan yang akan berkunjung ke Tanjung Aan, misalnya, akan melewati desa dengan bangunan yang khas ini, yang keberadaannya di pinggir jalan raya. 

Meski lokasinya di pinggir jalan raya dengan aspal yang mulus, Desa Sade seolah tak tersentuh oleh kemajuan pembangunan, kendati tidak demikian. Bangunan-bangunan sesuai adat istiadat leluhur masih dipertahan.

Memasuki desa adat dengan luas sekitar 5,5 hektare ini, wisatawan akan dihadapkan pada jejeran rumah tradisional Suku Sasak yang berjumlah 150. Setiap rumah tersebut diisi oleh satu kepala keluarga.

Kesan akan hunian yang sejuk dapat terlihat dari bangunan di desa ini. Kayu-kayu yang menjadi penyangga bangunan ditutup berkeliling dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan alang-alang kering seolah mengonfirmasi bahwa penduduk Desa Sade masih mempertahankan tradisi leluhur.

Salah satu hal menarik terkait hunian masyarakat di Desa Sade adalah pada bagian lantai. Masyarakat setempat memanfaatkan tanah liat yang dicampur dengan sekam padi untuk membuat bagian tersebut. Pada waktu-waktu tertentu, perawatan terhadap lantai rumah dilakukan dengan menggosokkan kotoran kerbau yang sudah dicampur dengan sedikit air. Setelah kering, lantai akan disapu dan digosok dengan batu.

Selain memperkuat lantai, cara tersebut dinilai dapat membersihkan lantai dari debu serta membuat permukaan lantai lebih halus. Tak hanya itu, pemanfaatan kotoran kerbau diyakini masyarakat Suku Sasak dapat mengusir serangga serta menangkis serangan magis yang dialamatkan kepada penghuni.

Belum lagi hilang rasa takjub akan bangunan di Desa Sade, wisatawan pun seolah disuguhi hal menarik lainnya, yakni untaian kain tenun warnawarni beserta peralatan tenun di “teras” rumah masyarakat. Sementara kaum pria bertani, para srikandi Suku Sade melakukan pekerjaan sekaligus mengasah keterampilan menenun.

Keterampilan menenun merupakan salah satu tradisi leluhur yang masih dipertahankan di desa adat yang penghuninya memeluk Islam tersebut. Adat Suku Sasak mengatur bahwa kebisaan menenun kain menjadi parameter bagi seorang gadis yang sudah cukup umur untuk diizinkan menikah. Kain hasil tenunan masyarakat itu tentu menjadi cendera mata yang diminati oleh para wisatawan.

Berbicara mengenai desa adat sebagai destinasi wisata, tentu tidak lengkap bila tidak diturutsertakan aktivitas budaya masyarakat setempat. Di wilayah yang ditetapkan sebagai desa wisata pada tahun 1989 ini, wisatawan dapat menyaksikan permainan alat musik tradisional Gendang Beleq.

Jika dulu Gendang Beleq dimainkan sebagai penyemangat untuk prajurit yang pergi dan pulang berperang, kini hal tersebut dimainkan sebagai musik pengiring dalam upacara-upacara adat, seperti pernikahan, sunatan, akikah, dan begawe beleq (upacara besar).

Selain permainan alat musik tersebut, wisatawan dapat menyaksikan pertunjukan Tari Peresean. Tarian ini menjadi ajang bagi kaum pria untuk membuktikan kejantanan. Dua orang pria akan baku pukul untuk membuktikan siapa yang lebih jantan di antara keduanya. Namun, saat ini tarian tersebut ditampilkan untuk menyambut tamu dan memperkenalkan tari tradisional Suku Sasak kepada pengunjung.

Adat Pernikahan
Aktivitas adat yang tak kalah menarik dan unik di Desa Sade adalah soal pernikahan. Sebelum sepasang kekasih melangsungkan pernikahan, si perempuan harus “diculik” terlebih dahulu oleh si pria ke rumah kerabatnya. Setelah sehari “diculik”, pihak pria akan mengirim utusan untuk melamar perempuan ke keluarganya.

Kehadiran Desa Sade sebagai desa wisata jelas memberikan kontribusi pada referensi keberagaman suku bangsa di Indonesia. Keunikan dari budaya Suku Sasak yang dilestarikan secara turuntemurun sangat layak dijadikan referensi destinasi wisata. Keramahan masyarakat setempat tentu sangat membantu wisatawan yang ingin menapaki dan menyelami informasi dan pengetahuan tentang adat istiadat Suku Sasak. Ayo melancong melihat pesona keindahan dan budaya Indonesia yang memakau. TPW