TOPIK UTAMA

Mendukung Energi Baru Mandiri Berbasis Solar Panel

Administrator | Selasa, 13 Maret 2018 - 15:31:31 WIB | dibaca: 126 pembaca

Sebagai pemain utama dalam sektor pengembangan perumahan, Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) berkomitmen mendukung upaya dan gerakan penggunaan sumber energi bersih melalui pemasangan solar panel di proyek perumahan.

Hal itu dibuktikan dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman Bersama antara Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Ditjen EBTKE Kementerian ESDM) dengan DPP REI tentang Solar Fotovoltaik pada Atap Bangunan Baru Perumahan.

Menurut Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE, Yunus Saefulhak, kerjasama ini ditujukan untuk membuat energi mandiri pada masyarakat. Dengan menggandeng REI sebagai asosiasi terbesar di Tanah Air, maka setiap pembangunan perumahan ke depan akan menggunakan sumber EBT yakni solar panel.

Kerjasama pengembangan rumah mandiri energi ini, diakui dia, masih dalam tahap studi dimana saja lokasi yang akan dibangun. Namun dia berharap pembangunan proyek percontohan bisa segera dilakukan di proyek milik anggota REI.

“Suplai energi ini bisa terintegrasi dengan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya, jadi bukan hanya listrik untuk rumah saja yang mandiri, tapi kawasan atau kota bisa mandiri,” papar dia.

Ketua Umum DPP REI, Soelaeman Soemawinata mengungkapkan pemanfaatan energi terbarukan seperti solar panel sudah menjadi bagian dari revolusi dunia, bahkan menjadi tren dunia.

“Oleh karena itu, sebagai pelaku langsung, wajar jika REI ikut terlibat dalam kerjasama ini,” ucap dia usai penandatanganan MoU di Jakarta, baru-baru ini.

Penandatanganan nota kesepahaman DPP REI bersama Ditjen EBTKE Kementerian ESDM ini diadakan disela-sela penyelenggaraan Indo EBTKE Connex dan Bali Clean Energy Forum 2017. Disaksikan langsung Menteri ESDM Ignasius Jonan, dan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir.

Menurut Eman, sapaan karib Ketua Umum DPP REI ini, permasalahan pemanfaatan energi terbarukan harus ditinjau dari berbagai sudut pandang. Antara lain, jika ditinjau dari sumbernya maka energi terbarukan ini tentu sangat baik karena diperoleh dari sumber yang selalu tersedia sehingga lebih ramah lingkungan.

“Penggunaan solar panel ramah lingkungan karena tidak memancarkan emisi karbon berbahaya yang berkontribusi terhadap perubahan iklim seperti yang terjadi pada bahan bakar fosil,” ucap Eman. Hanya saja, imbuh Eman, penggunaan energi bersih ini menelan biaya investasi yang relatif mahal. Jika belum menjadi sebuah industri, ungkap dia, maka bisa dipastikan investasi awal untuk pengadaan energi terbarukan ini relatif mahal.

Yunus mengakui bahwa penggunaan solar panel sebagai atap rumah membutuhkan biaya besar sehingga akan memengaruhi harga jual rumah. Untuk itu, akan dilakukan kerjasama pembiayaan guna mendapatkan pembiayaan rumah murah melalui clean technology fund atau global fund seperti Bank Dunia.

Mahalnya investasi solar panel diamini Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Arya Rezavidi. Untuk konsumsi rumah tangga, kata Arya, dibutuhkan panel surya berkapasitas 1-2 kilowatt peak (kWp) atau 1.000-2.000 Watt peak (Wp). Adapun biaya pemasangannya sekitar Rp 15 juta per kWp atau dengan kata lain menelan biaya Rp 15 juta hingga Rp 30 juta untuk setiap rumah.

Itu berarti, solar panel baru bisa digunakan untuk rumah kelas menengah atas saja. BRN