TOPIK KHUSUS

Menpar Kunjungi Dua Calon KEK Wisata di Bangka

Administrator | Rabu, 14 November 2018 - 10:33:18 WIB | dibaca: 38 pembaca

Dalam kunjungan di Kepulauan Bangka Belitung untuk menghadiri puncak HUT REI ke-46, Menteri Pariwisata Arief Yahya berkesempatan meninjau dua kawasan ekonomi khusus (KEK) di Bangka yang diajukan Pemprov Babel. Kedua KEK tersebut adalah KEK Tanjung Gunung seluas 385 hektare, dan KEK Sungailiat seluas 273 hektare.

Kedua KEK ini diajukan dua pengembang yang berbeda yakni PT Pan Semujur Makmur yang akan menggarap KEK Tanjung Gunung, dan PT Pantai Timur Sungailiat yang mengembangkan KEK Sungailiat.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, pariwisata merupakan industri jasa yang paling mudah, murah, dan cepat serta berkelanjutan atau sustainable. Provinsi Babel dengan keunggulan lokasi yang memiliki leverage global berpeluang membuat terobosan yang berarti dengan melakukan transformasi tiga lapangan usaha utama tersebut.

“Penurunan kontribusi sektor pertambangan harus bisa digantikan sektor lain yang mengedepankan pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan, semisal pariwisata yang telah terbukti lebih murah, lebih cepat memberikan hasil dan telah menjadi penyumbang devisa nasional nomor dua,” kata Arief Yahya saat meninjau langsung calon KEK Sungaliat di Tanjung Pesona Beach Resort, Jumat (13/4/2018).

Menurut Arief Yahya, pembangunan pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dapat dipercepat dengan memanfaatkan kemudahan dan perlakuan khusus yang telah disediakan Pemerintah yaitu KEK. Melalui sinergitas tiga KEK Pariwisata yakni Tanjung Kelayang, Tanjung Gunung, Pesisir Timur Sungailiat yang didukung penuh para diaspora Babel, maka bisnis model KEK pariwisata ini akan mempercepat transformasi struktur ekonomi Provinsi Babel ke arah struktur ekonomi modern.

Mengapa harus KEK? Menurut Menpar, permasalahan terbesar birokrasi di Indonesia adalah menyangkut kecepatan pelayanan. Kecepatan pelayanan di Indonesia sangat lambat karena aparatur pemerintahnya tidak melayani industri dengan baik. Presiden Joko Widodo sudah mengintruksikan masalah birokrasi ini segera dituntaskan secepatnya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk mengatasi lambatnya birokrasi di sektor pariwisata maka KEK adalah solusinya. Menurut Arief, dengan adanya KEK tidak ditemukan lagi birokrasi yang ruwet.

“Kalau Anda datang ke ITDC tidak ada itu birokrasi. Yang kita hadapi adalah para profesional yang semua keperluan investasi Anda. Saat ini ITDC mengelola kawasan seluas 350 hektar di Nusa Dua Bali, kemudian punya lagi KEK di Mandalika 1.200 hektar,” ungkap Menpar.

Diakui Arief, untuk mendapatkan persetujuan izin KEK memang susah karena ada serangkaian persyaratan yang harus dipenuhi daerah. Namun dia memastikan akan lebih susah lagi kalau daerah tidak ada KEK-nya. Untuk itu dia mengajak Gubernur Babel Erzaldi Rosman dan masyarakat Babel bekerja keras mewujudkan dua KEK di Bangka tersebut. Kedua KEK ini diharapkan menjadi masa depan bagi industri pariwisata di Babel bahkan nasional.

Menpar Arief Yahya pada kunjungan kerja ke Bangka didampingi Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar Dadang Rizki Ratman, Ketua Tim Percepatan 10 Bali Baru Kemenpar Hiramsyah S Thaib, dan sejumlah stakeholder pariwisata nasional dan daerah.

Menteri juga memberikan apresiasi terhadap tema yang diusung pada HUT REI ke-46 yaitu ‘Sinergi Properti dan Pariwisata dalam Mengembangkan Ekonomi Daerah’. Tema itu memperlihatkan dukungan dan semangat REI untuk mendukung sektor pariwisata yang sudah ditetapkan sebagai sektor andalan nasional.

“Harapan kami dengan Pak Menteri Pariwisata melihat langsung lokasi kedua KEK ini di Bangka, beliau semakin yakin bahwa kami siap mengelola kedua KEK tersebut sebagai sarana properti untuk meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Babel,” kata Gubernur Erzaldi.

Menurut dia, Menpar Arief Yahya pernah mengatakan bahwa di Singapura menumpuk 15 juta wisatawan yang mencari alternatif destinasi wisata di Indonesia. Untuk itu, Babel siap untuk menjadi destinasi wisata alternatif bahkan destinasi utama. (Rinaldi)