ASPIRASI DAERAH

Meski Banyak Kendala, REI Papua Barat Tetap Naikkan Target

Administrator | Selasa, 06 November 2018 - 10:58:29 WIB | dibaca: 23 pembaca

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD REI Papua Barat, Marla Beatriecs Kailola

Semangat Realestat Indonesia (REI) sebagai Garda Terdepan Membangun Rumah Rakyat ternyata bergaung hingga ujung timur Indonesia. Di Provinsi Papua Barat, anggota REI berhasil membangun sebanyak 1.700 unit rumah bersubsidi sepanjang 2017.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD REI Papua Barat, Marla Beatriecs Kailola, menyebutkan banyaknya rumah FLPP yang dibangun sejalan dengan makin bertambahnya jumlah anggota REI di provinsi tersebut.

Dia merujuk pada 2012 jumlah anggota REI di Papua Barat hanya 5 pengembang. Namun di akhir 2017 sudah mencapai 54 pengembang. Dimana saat ini yang sudah terdaftar di Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tercatat sebanyak 35 pengembang.

“Kami terus mendorong dan membantu agar seluruh anggota REI Papua Barat terdaftar di PPDPP, jadi yang belum mendaftar ayo segera mendaftar. Sekaligus kami akan tetap mengawasi agar mereka membangun sesuai dengan ketentuan pemerintah,” kata Maya, demikian dia akrab dipanggil, kepada Majalah RealEstat, baru-baru ini.

Sementara itu, tahun ini REI Papua Barat menargetkan pembangunan 1.900 rumah subsidi. Angka tersebut diakui Maya cukup besar mengingat PP 64 tahun 2016 yang mengharuskan pemerintah daerah menekan perizinan untuk rumah subsidi di Papua Barat sama sekali belum berjalan. Meski beberapa daerah sudah menerapkan sistem pelayanan perizinan satu pintu.

Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) sudah ada sejak 2016 di beberapa daerah seperti Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Sorong. Salah satu proses yang masih menjadi kendala di Papua Barat, menurut Maya, adalah pembuatan sertifikat yang masih butuh waktu lama. Kondisi itu disebabkan karena kurangnya tenaga ukur yang bersertifikat di Papua Barat.

Demikian juga analis di perbankan masih kurang di Papua Barat, sehingga per bulan satu pengembang baru bisa akad satu hingga tiga rumah saja. Padahal yang mau membeli dan akad kredit rumah sangat banyak.

Mayoritas pembeli rumah subsidi di daerah itu didominasi pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) sekitar 35%, pekerja atau pegawai sektor informal 35%, karyawan swasta 20% dan sisanya lain-lain.

“Kebutuhan rumah masih cukup tinggi di Papua Barat, namun di lapangan memang masih banyak kendala. Sehingga kami butuh ada dukungan nyata pemerintah dan perbankan,” papar Maya. 
Ditambahkan, tahun ini pembangunan rumah rakyat akan dibangun di Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Kaimana, Kabupaten dan Kota Sorong.

Harga rumah subsidi di Papua Barat saat ini dibanderol Rp 205 juta per unit, meningkat dibanding harga 2017 sebesar Rp 193,5 juta per unit.

Terbentur Lahan
Pembangunan rumah rakyat di Papua Barat juga kerap terbentur pembebasan lahan. Sebagian besar tanah di Papua Barat adalah tanah adat, sehingga proses pembebasannya selain memakan waktu, tanah-tanah adat juga dijual dengan harga mahal. Padahal untuk rumah MBR pengembang harus mencari tanah dengan harga Rp 100 ribu per meter persegi.

Saat ini, kata Maya, pihaknya tengah menginisiasi supaya pelepasan tanah adat bisa dilakukan oleh Tetua Adat supaya lebih efisien. Untuk merealisasikan hal tersebut, DPD REI Papua Barat tengah berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat.

“Soal kepastian waktu dan status tanah ini penting, karena jika dibiarkan akan menganggu minat investor untuk masuk ke Papua Barat khususnya iklim investasi di sektor properti,” kata Maya yang pernah menjabat Sekretaris DPD REI Papua Barat periode 2012-2015.

Guna mendorong minat masyarakat membeli rumah subsidi, REI Papua Barat pada 1-3 Januari 2018 lalu mengelar Pameran Perumahan Rakyat yang diikuti 50 pengembang dan perbankan. Pameran dibuka Wakil Ketua Umum DPP REI, Adri Istambul Lingga Gayo.

Di pameran tersebut, sekaligus dilakukan penandatangan MoU antara REI yang diwakilkan oleh Plt. Ketua DPD REI Papua Barat, Marla Beatriecs Kailola dengan Bank BNI oleh Pimpinan BNI Cabang Manokwari, Maruli R. Pardede. (Teti Purwanti)