ISU GLOBAL

Pasar Properti Asia Penuh Tantangan di 2019

Administrator | Rabu, 10 April 2019 - 14:07:13 WIB | dibaca: 83 pembaca

Foto: Istimewa

Pasar properti Asia pada 2019 ini akan penuh tantangan. Pasar properti di Asia, terutama China, Hongkong, dan Singapura akan melambat, hal tersebut terjadi karena ketegangan perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS ) yang mau tidak mau membebani benua Asia secara keseluruhan.

Demikian hasil riset Colliers Internasional terkait outlook industri properti di Asia pada 2019 kepada wartawan, baru-baru ini.

Disebutkan, China masih cukup kuat di sektor logistik didukung masih maraknya ekspansi lanjutan pada sektor e-commerce. Sementara itu, seperti pasar properti secara keseluruhan, pasar investasi akan mengalami penurunan hingga 5% di China. Kondisi di kawasan Shenzhen diproyeksikan akan jatuh hingga 4% pada tahun ini dibandingkan tahun lalu.

Berbeda dari investasi, subsektor properti perkantoran masih memiliki harapan dengan pertumbuhan hingga 8% karena dukungan bertumbuhnya e-commerce bersama dengan sektor logistik China.

Setali tiga uang dengan China, Banglore, Tokyo, Hongkong, dan Shanghai akan menghadapi situasi yang hampir sama.

Direktur Eksekutif Riset Collier International Asia, Andrew Haskins mengatakan pertumbuhan yang lebih lambat di China dan tanda-tanda kemunduran yang muncul di AS mengaburkan prospek properti Asia. Ditambah lagi, suku bunga harus naik lebih bertahap dari yang diperkirakan sebelumnya, menekan biaya pendanaan untuk pengembang dan investor.

Haskins menambahkan, pertumbuhan PDB riil China akan melambat menuju 6,0% pada 2019, sementara Hongkong dan Singapura juga akan melihat pertumbuhan yang lebih rendah pada 2019 dibandingkan pada 2018. Sementara Jepang dan Korea Selatan terlihat lebih stabil, serta pertumbuhan di India telah meningkat tajam.

Sengketa perdagangan tetap menjadi perhatian utama, dan tanda-tanda bahwa pelambatan mulai terjadi di AS dapat membebani Asia. Lebih positifnya, kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya sdehingga akan membantu menekan biaya dana bagi investor dan pengembang properti di sebagian besar pasar Asia.

Karena itu, menurut Haskins, ekspansi logistik harus lebih kuat pada tahun ini. Di China, pertumbuhan yang kuat dalam e-commerce mendorong permintaan ruang gudang, dan rendahnya lowongan mendorong penyewa ke kota-kota level kedua.

Korea Selatan melihat tren positif yang serupa. Sementara pertumbuhan di Hongkong lebih sederhana, dimana investor mengincar aset industri untuk potensi konversi. Pemberian status infrastruktur untuk sektor logistik di India menandai ekspansi yang tajam, dan minat yang lebih tinggi dari pengembang dan investor.

Sedangkan stabilitas masih akan terjadi pada pasar ritel Asia, meski ada beberapa tantangan. Kondisi ritel masih dibawah bayang-bayang e-commerce. Namun, Colliers mencatatkan adanya pasokan ruang ritel baru di beberapa kota. Pertumbuhan sewa sedikit positif atau agak negatif di Shanghai, Beijing, Singapura dan Hongkong.

Namun, tuan tanah (land lord) dan penyewa sama-sama menghadapi tantangan jangka panjang dalam menempatkan pengalaman, hiburan, dan koneksi digital di jantung penawaran ritel mereka. (Teti Purwanti)