TOPIK UTAMA

Paulus Totok Lusida, Sekretaris Jenderal DPP REI

"Pasar Properti Butuh Lebih Banyak Stimulus dan Insentif"

Administrator | Senin, 11 Februari 2019 - 14:15:53 WIB | dibaca: 79 pembaca

Sektor properti sudah memerlihatkan tren positif, dimana pertumbuhan permintaan diprediksi akan terus berlanjut hingga akhir tahun ini. Bahkan bukan tidak mungkin akan mencapai puncaknya pada 2019 yang bagi sebagian pengamat diyakini memasuki siklus besar lima tahunan properti.

Sekali pun saat ini telah memasuki tahun politik yang membuat “panas” dunia perpolitikan nasional, namun banyak pihak termasuk pelaku usah properti tetap menaruh asa. Salah satunya dengan adanya pelonggaran aturan kredit properti dari Bank Indonesia (BI) yang membawa angin segar bagi bisnis properti.

Realestat Indonesia (REI) menaruh harap relaksasi LTV dapat memacu pertumbuhan kredit, sehingga akan mendorong penjualan properti menjadi lebih bergairah. Namun dengan syarat perbankan tidak buru-buru menaikkan suku bunga KPR. Berikut wawancara Majalah RealEstat dengan Sekretaris Jenderal DPP REI Paulus Totok Lusida di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Sejumlah riset menyebutkan pasar properti masih bergerak lamban di semester I 2018. Demikian juga laporan kinerja penjualan pengembang masih kurang menggembirakan. Bagaimana REI menilai kondisi pasar di awal tahun kemarin?
Ada dua hal yang berbeda. Pertama pasar rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di semester I kemarin memang ada kendala dan sempat terhenti hingga April 2018 karena ada aturan perubahan spesifikasi bangunan rumah subsidi.

Sehingga sampai April memang tidak ada pasokan yang berarti dari pengembang. Jadi praktis baru di Mei mulai ada pasokan, dan itu tentu memengaruhi target. Tetapi kami tetap mencoba mengejar target tersebut di semester kedua ini, namun dengan syarat tidak ada lagi perubahan-perubahan aturan seperti di awal tahun kemarin.

Kedua untuk segmen komersial, memang betul masih lesu. Meski sebenarnya secara umum pasar properti khususnya perumahan di tahun ini cukup baik, namun masih bergerak pelan. Bukan karena daya beli atau minat membeli masyarakat yang rendah, namun memang ekonomi makro nasional dan dunia yang kurang kondusif, ditambah dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang kemudian mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate).

Di semester II tahun ini apakah situasinya masih sama?
Kemungkinan masih akan sama, tumbuh namun dengan gerak yang masih pelan. Oleh karena itu, pasar properti butuh lebih banyak stimulus dan insentif kemudahan supaya pasar bergerak lebih cepat. Makanya REI sangat mengapresiasi langkah BI yang melakukan relaksasi terhadap aturan rasio nilai kredit terhadap aset (loan to value/LTV) sektor perumahan.

Setidaknya ini menjadi salah satu stimulus yang dapat mentrigger pasar terlebih di segmen menengah atas. Kami berharap kebijakan tersebut menjadi berkah bagi industri properti sehingga pengembang menjadi lebih bersemangat membangun karena di satu sisi bisa lebih fleksibel dalam membuat strategi pembiayaan untuk konsumen semisal uang muka yang lebih terjangkau.

Seberapa besar peluang relaksasi LTV ini mampu menggerakkan pasar khususnya perumahan menengah atas, karena disisi lain bank-bank juga sudah bersiap menaikkan bunga KPR?
Jadi begini, kemarin itu saat pembahasan dengan BI disebutkan bahwa relaksasi LTV dan KPR inden itu janjinya tidak akan diikuti dengan kenaikan suku bunga KPR, ini pernyataan dari Perbanas lho. Jadi tentu janji itu yang kita tagih.

Karena menurut saya bunga KPR tidak perlu naik lagi, karena spread-nya sudah cukup besar. Tahun lalu saja rata-rata laba bank sangat tinggi, sehingga untuk menahan kenaikan bunga KPR sebenarnya bisa dilakukan. Ya kalau pun memang suku bunga KPR naik, menurut kami Bank Indonesia harus kasih kebijakan lagi, sehingga efek positif yang diharapkan dari relaksasi LTV dan KPR inden tidak berkurang.

Soal peluang, kalau dari riset bersama REI dan BI terungkap bahwa banyak orang yang bankable namun tidak mampu menyiapkan uang muka sekitar 5% dari total KPR. Nah pelonggaran LTV ini setidaknya diharapkan mampu meningkatkan permintaan KPR di segmen non-MBR sekitar 10%-12%. Tapi kembali lagi itu bisa terjadi kalau suku bunga KPR tidak naik.

Stimulus Apa lagi yang menurut REI perlu dilakukan pemerintah untuk mendorong pasar perumahan di semester kedua tahun ini?
Tentu saja LTV tidak cukup. REI mengharapkan bunga kredit bank juga turun, sehingga pasar properti bisa berlari lebih kencang. Jangan lupa bahwa bergeraknya sektor properti mampu menarik lebih banyak usaha ikutannya, dan itu akan memengaruhi makro ekonomi nasional.

Selain bunga KPR, kami juga mendesak penurunan kredit konstruksi khususnya untuk pengembang yang membangun rumah bersubsidi. REI sudah melakukan MoU dengan Bank BTN dan Jamkrindo supaya bunga kredit konstruksi single digit bisa terealisasi, dan terobosan ini semoga dapat segera terealisasi.

Apa lagi yang dibutuhkan pasar properti saat ini? 
Supaya pasar properti dapat lebih bergairah, faktor lain yang perlu dibenahi adalah masalah perpajakan. Ini sebenarnya masalah klasik, tapi harus diakui masih tetap menjadi hambatan utama.

Sekarang itu orang takut beli properti, meski sudah ikut tax amnesty. Informasi dari OJK, sekarang ini ada sekitar Rp 1.300 triliun dana repatriasi tax amnesty yang masuk ke bank, namun nangkring saja di situ. Kenapa? Karena mereka masih khawatir dengan pajak, takut diperiksa lagi sampai uangnya tidak digunakan.

REI akan bertemu dan bicara dengan dirjen pajak soal ini. Intinya kami berharap jangan bikin statement yang meresahkan, kalau memang mau periksa ya periksa saja. Kalau mau himbauan silahkan, namun jangan ditakut-takuti orang supaya bayar pajak. Saya kira banyak cara lain yang bisa dilakukan supaya orang apalagi pengusaha ini mau membayar pajak. Yang dibutuhkan sekarang kebijakan yang clear, jangan ditakut-takuti.

Singkatnya REI memperjuangkan supaya semua pajak properti dapat berlaku final, proses perizinan ada kepastian, bunga bank tidak naik dan bunga kredit konstruksi bisa turun.

Terakhir, di semester kedua ini hingga 2019 sudah masuk tahun politik. Isu ini ikut menekan pemulihan pasar?
Banyak survei yang mengatakan situasi politik tidak banyak berpengaruh. Bangsa kita sudah banyak belajar dari beberapa kali pergantian kepala negara dan pemerintahan, namun Indonesia tetap kondusif. Ini poin besar buat ekonomi nasional terutama sektor properti. Kondisi itu yang perlu kita jaga terus.

Yang perlu dipantau justru jangan sampai bunga acuan The Fed atau bank sentral AS itu naik terlalu besar. Ini yang perlu diantisipasi, karena bunga acuan BI atau BI Rate sangat terpengaruh oleh international interest rates. (Rinaldi)