KAWASAN

Pasar Properti di Kota Pahlawan Makin Menawan

Administrator | Kamis, 28 Juni 2018 - 15:15:02 WIB | dibaca: 223 pembaca

Surabaya menjadi kota paling penting di Indonesia dalam penjualan properti. Pertumbuhan pasar properti di Kota Pahlawan tersebut terus menawan banyak developer sehingga berbondong-bondong membangun proyek properti. Daya beli masyarakat yang tinggi dan stabilitas ekonomi yang stabil di Surabaya juga turut andil menggairahkan pasar properti di kota tersebut.

Wakil Presiden Direktur dan Chief Operating Officer (CEO) PT Intiland Development Tbk. Sinarto Dharmawan menjelaskan pasar properti di Surabaya memiliki prospek dan peluang yang baik. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dan menjadi pusat perekonomian dan bisnis untuk kawasan Indonesia bagian timur, pasar properti Surabaya terus mengalami pertumbuhan secara positif, sejalan dengan pertumbuhan perekonomian dan infrastruktur daerah.

"Kami mendapatkan respon pasar yang baik terhadap proyek-proyek properti yang kami kembangkan di Surabaya. Sebagai developer, kami berusaha memenuhi beragam kebutuhan properti para konsumen, seperti untuk hunian, komersial, hingga mampu memberikan nilai tambah dalam menunjang gaya hidup saat ini," kata Sinarto kepada Majalah RealEstat di Surabaya saat media visit, baru-baru ini.

Menurut dia, pasar properti di Surabaya memiliki peran strategis bagi prospek usaha Intiland. Di kota itu, perseroan memiliki beragam pengembangan produk yang inovatif, mulai dari kawasan perumahan, perkantoran, apartemen, kawasan industri, komersial dan ritel, hingga pengelolaan lapangan golf dan sarana olah raga.

Berdasarkan hasil perolehan pendapatan penjualan (marketing sales) perseroan periode sembilan bulan tahun ini, kontribusi pasar Surabaya mencapai Rp 787 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 26% dari total perolehan marketing sales perseroan yang tercatat mencapai Rp 3 triliun hingga September 2017.

"Oleh karena alasan itu, kami akan terus menggarap potensi pasar properti di Surabaya lewat pengembangan pada produk hunian, perkantoran, kawasan industri, hingga komersial," papar Sinarto.

Meski begitu dia mengakui, tantangan pasar properti di Surabaya cukup berat di sepanjang tahun ini. Perseroan juga merasakan adanya tren penurunan tingkat permintaan pasar, khususnya untuk produk-produk di segmen mixed-use & high rise, seperti apartemen, komersial dan perkantoran.

Namun demikian, Sinarto optimistik pasar properti akan berangsur-angsur membaik. Permintaan lahan kawasan industri, misalnya, justru mengalami pertumbuhan tahun ini dengan angka penjualan dari proyek Ngoro Industrial Park di Mojokerto seluas 28 hektar dengan nilai sekitar Rp 531 miliar.

Perseroan saat ini juga fokus mengembangkan sejumlah proyek baru skala besar. Di segmen pengembangan mixed-use & high rise, contohnya, Intiland sedang menyelesaikan pembangunan kontruksi proyek Praxis dan Spazio Tower.

Berlokasi di pusat kawasan bisnis Surabaya, pengembangan Praxis sudah memasuki tahapan penyelesaian dengan target serah terima mulai semester II tahun 2018. Praxis merupakan pengembangan multifungsi terpadu yang menyediakan beragam fasilitas seperti apartemen, perkantoran, hotel, dan komersial.

Pengembangan berikutnya adalah Spazio Tower di kawasan Surabaya Barat yang menjadi bagian terintegrasi dengan kawasan perkantoran Spazio. Mengusung konsep 24 hours office, pengembangan Spazio Tower meliputi ruang perkantoran strata title, ritel dan hotel.

"Berkantor di Spazio Tower sangat menguntungkan karena lebih efisien dari biaya operasional ruang kantor karena sistem listrik dan pendingin udara ditempatkan secara mandiri di setiap unit kantor. Konsep ini akan menggantikan konsep ruko yang terbukti kurang efisien untuk tempat bekerja," ujar Sinarto.

Saat ini progres pembangunan Spazio Tower telah mencapai 50 persen dan ditargetkan selesai pada semester II tahun depan. Penjualan ruang perkantoran tercatat mencapai 12.018 meter persegi dari total area perkantoran yang dipasarkan seluas 28.496 meter persegi.

Pengembang nasional lain juga cukup banyak yang menyasar atau sedang mengembangkan proyek properti di Surabaya. Sebut saja Ciputra Development, PP Property dan CT Corp.

PT PP Property saat ini sudah memasarkan apartemen premium Grand Shamaya. Mega proyek yang rencananya dibangun lima tower dengan nilai investasi Rp 3 triliun ini akan diserahterimakan kepada pembeli pada 2022. Untuk tahap pertama, akan dikerjakan pembangunan tower Aubrey yang dimulai pada 2018.

"Ini proyek prestius yang berada di tengah kota Surabaya di kawasan CBD-nya. Jadi potensi pasarnya cukup besar," ujar Direktur PT PP Property, Galih Saksono, baru-baru ini.

Nilai proyek Grand Shamaya untuk satu towernya senilai Rp 600 miliar, sehingga cukup mewah. Apartemen premium berkonsep resort ini diklaim sebagai yang pertama di Surabaya.

Mega proyek Grand Shamaya seluas 1,6 hektar terletak di kawasan segitiga emas Kota Surabaya, persisnya dikelilingi Jalan Basuki Rahmat – Embong Sawo – Embong Gayam dan Jalan Panglima Sudirman yang dekat dengan Tunjungan Plaza.

Pasar Premium
Menurut Galih, pihaknya menilai pasar apartemen premium di Surabaya sangat terbuka. Masyarakat Surabaya mulai menganggap bahwa tinggal di apartemen selain kebutuhan, juga merupakan gaya hidup. Gaya hidup tersebut juga didukung dengan daya beli masyarakatnya yang tinggi sebagai salah satu kota perdagangan dan jasa terbesar di Indonesia.

Grand Shamaya diarsiteki oleh Aedas, firma arsitek kelas dunia yang telah merancang Burj Khalifa di Dubai dan Marina Bay Sand di Singapura. CT Corp juga dalam waktu dekat segera ekspansi ke Surabaya. Perusahaan milik pengusaha Chairul Tanjung itu membangun proyek komersil yang dipadu dengan hunian dan areal rekreasi di Surabaya Selatan.

"Saya ingin ciptakan kawasan komersil baru di Surabaya," kata Chairul Tanjung, dalam satu acara.

Proyek ini menggandeng konsultan arsitektur DP Architects PTE LTD dari Singapura. Selain hotel, mall dan trans studio mini, nantinya akan dibangun pula apartemen. Chairul menargetkan proyek properti yang akan diberi nama “Trans Icon Surabaya” itu dapat selesai dalam dua tahun. Proyek tersebut dibangun di atas lahan seluas 2,4 hektar, dan saat ini masih dalam proses perizinan.

Sementara pemain lama yang terus fokus menggarap proyek properti di Surabaya adalah Ciputra Group melalui bendera PT Ciputra Surya Tbk.

Direktur Ciputra Surya, Sutoto Yakobus mengatakan perusahaan akan membangun superblok di wilayah Surabaya Selatan pada 2018. Proyek superblok itu persisnya akan dibangun di Wiyung dengan luas areal 6,8 hektar. Nantinya, akan ada mal, apartemen, dan hotel. "Konsepnya hampir sama dengan Ciputra World Surabaya namun untuk segmen menengah," ujar Satoto.

Perseroan menggandeng mitra lokal dalam pengembangan superblok ini. Ditargetkan launching proyek sudah bisa dilakukan pada tahun depan.

CEO Propnex Indonesia, Luckyanto memprediksi hingga beberapa tahun ke depan, Surabaya masih akan menjadi kota paling berpotensi untuk menghidupkan bisnis properti. Tidak hanya diincar pengembang nasional, namun juga developer asing terutama dari Singapura. Propnex adalah agen properti terkemuka yang berbasis di Singapura.

"Harga lahan di Surabaya masih dianggap murah oleh developer dari Singapura, maka mereka sangat tertarik mengembangkan bisnis properti di sini," ujar dia.

Di Singapura, kata dia, pemerintah sudah tidak memberi kesempatan bagi pengembang untuk memiliki lahan. Akibatnya lahan yang dapat dikembangkan semakin sedikit, sehingga banyak pengembang dari negara tersebut mengincar lahanlahan di Indonesia, salah satunya Surabaya.

"Ini tentu peluang yang besar terlebih buat Surabaya," papar Luckyanto. Saat ini banyak pengembang di Surabaya memang fokus pada pengembangan segmen mixeduse & high rise. Konsep ini dianggap menjadi jawaban atas keterbatasan dan makin mahalnya harga lahan di Kota Pahlawan. RIN