ISU GLOBAL

Peluang Investasi Realestat di Negeri Paman Ho

Administrator | Selasa, 27 November 2018 - 14:20:17 WIB | dibaca: 42 pembaca

Sejumlah perusahaan properti dari berbagai negara di Asia seperti Singapura, Malaysia dan Thailand cukup agresif memanfaatkan peluang investasi realestat di Vietnam yang sedang booming. Pengembang Indonesia diajak berinvestasi ke negara tersebut, menyusul sukses Ciputra Group di Negeri Paman Ho.

Duta Besar Berkuasa Penuh RI untuk Vietnam, Ibnu Hadi mengatakan pertumbuhan sektor properti di Vietnam saat ini cukup pesat. Dimana salah satu pionir pembangunan sektor properti di Vietnam adalah pengusaha properti asal Indonesia yang juga pendiri REI yakni Ir. Ciputra.

“Grup Ciputra adalah pionir industri realestat di sini. Dimulai dari tahun 1994, sekarang tumbuh pesat dengan proyek kawasan Ciputra Hanoi International City,” ungkap Ibnu Hadi saat menerima Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) yang juga Presiden FIABCI Asia Pasifik, Soelaeman Soemawinata beserta rombongan di Wisma Kedubes REI di Hanoi, Senin (16/4/2018).

Turut mendampingi Eman (demikian panggilan akrab Soelaeman) antara lain Wakil Ketua Umum DPP REI bidang Hubungan Internasional Rusmin Lawin, dan Wakil Ketua Umum DPP REI bidang Pertanahan, Adri Istambul Lingga Gayo. Eman berkunjung ke Hanoi dalam rangka pembentukan FIABCI Chapter Vietnam sehari sebelumnya bersama Farook Mahmood Presiden World FIABCI.

Dubes Ibnu Hadi menegaskan, pihaknya akan membentangkan “karpet merah” bagi pengusaha properti nasional yang mau berinvestasi di Vietnam. Kedutaan akan memberikan dukungan dan bantuan kepada pengembang Indonesia khususnya dalam proses perizinan.

Menurut dia, investasi di Vietnam cukup dengan dua syarat, yakni perizinan investment permitt dan business permit. Itu pun cukup di tingkat selevel gubernur, tidak perlu ke pemerintah pusat. Ibnu menjamin prosesnya tidak akan bertele-tele.

Kepada pengembang Indonesia, Dubes Ibnu Hadi menyarankan supaya menanamkan investasinya di provinsi-provinsi bagian tengah antara lain Danang. Vietnam memiliki 63 provinsi yang sedang bertumbuh dengan pesat, sehingga membutuhkan banyak sekali fasilitas properti penunjang. Indonesia, kata dia, diyakini memiliki pengalaman dan teknologi yang lebih baik di sektor properti.

“Silahkan bekerjasama dengan pengembang di Vietnam. KBRI siap untuk menyelenggarakan forum yang dihadiri pengembang REI dan pengembang lokal Vietnam sebagai ajang bersinergi,” ujar Ibnu Hadi.

Pengaruhi Ekonomi Negara
Dalam kesempatan tersebut, Eman menyampaikan perkembangan organisasi REI dan FIABCI Asia Pasifik, sekaligus menyampaikan minat anggota REI untuk menjajaki investasi di Vietnam.

Dia menambahkan, setiap negara perlu memperhatikan kondisi dan pertumbuhan sektor properti, mengingat industri tersebut memberikan multiplier effect yang cukup besar. Sedikitnya ada 174 bisnis ikutan di dalamnya sehingga membawa pengaruh besar terhadap perekonomian suatu negara.

“Bisnis properti juga tidak sebatas membangun rumah tapi juga sebuah kawasan yang holistik, dan juga bagian yang tidak terpisahkan dari tourism development,” papar Eman.

Eman beserta rombongan juga sempat berkunjung ke lokasi proyek Ciputra Hanoi International City yang diterima langsung Suprobo Antoro selaku Direktur Ciputra di Hanoi Vietnam. Proyek Ciputra Group tersebut menjadi salah satu rujukan (trend setter) bagi para perusahaan pengembang lain di Vietnam.

Saat ini, Ciputra Hanoi International City merupakan rumah bagi lebih dari 7.000 orang, dimana 30,8 persen diantaranya adalah warga negara asing dari 74 negara di seluruh dunia.

Kehadiran Eman sebagai Presiden FIABCI Asia Pasifik dan Ketua Umum DPP REI disambut gembira dan bisa berlanjut, karena pemerintahan Vietnam sangat berharap adanya investor dari luar negeri tidak hanya sekadar berinvestasi tapi juga ada transfer knowledge kepada pengusaha properti lokal. Jadi, siapa yang berminat investasi di Vietnam? (Rinaldi)