ISU PASAR

Penjualan Apartemen 2018 Terendah dalam 10 Tahun

Administrator | Rabu, 13 Maret 2019 - 14:51:22 WIB | dibaca: 25 pembaca

Foto: Istimewa

Penjualan apartemen di Jakarta hingga kuartal III/2018 dinilai memiliki kinerja terendah dalam 10 tahun terakhir.

Head of Research and Consultancy Savills Indonesia, Anton Sitorus dalam paparannya mengatakan hal tersebut dikarenakan pasokan apartemen yang masuk ke pasar semakin berkurang diiringi dengan harga apartemen yang sudah melambung tinggi, sehingga aktivitas penjualan semakin terbatas.

“Total peluncuran apartemen hingga kuartal ketiga 2018 hanya sebanyak 4.000 unit, sedangkan tahun lalu bisa mencapai 6.700 unit, dari peluncuran saja sudah berkurang,” ujar Anton.

Daerah-daerah di luar wilayah sentral bisnis (CBD) masih menjadi area yang memiliki paling banyak stok, yakni mencapai 81% dari stok yang tersedia. Jakarta Timur (Jaktim) menjadi lokasi paling stabil dengan stok yang tersedia mencapai 9.800 unit.

Sedangkan sisanya tersebar masing-masing 20% baik di Jakarta Utara (Jakut) dan Jakarta Barat (Jakbar), 19% di CBD Area, 18% di Jakarta Selatan (Jaksel), 16% di Jakarta Pusat (Jakpus), dan 7% di Jaktim.

Penjualan terendah paling rendah pada tahun ini juga didukung pada data Savills yang menyebutkan kalau pasokan rata-rata pada 2013 hingga 2017 mencapai 9.600. Namun, pada tahun ini hanya 4.000 saja.

Ke depan, Jakbar dan Jaksel akan menjadi dua lokasi apartemen terbanyak dengan kenaikan hingga 31% untuk Jakbar dan 24% untuk Jaksel.

Sementara itu, untuk proyek yang sedang dipasarkan, penyerapan tertinggi masih berasal pada segmentasi menengah ke atas dengan penyerapan terendah berasal dari segmentasi high end. Penyerapan yang rendah tersebut juga diakibatkan dari volume pasokan apartemen high end yang juga tidak banyak hanya sekitar 2% hingga 3% dari total keseluruhan pasar.

Pasar Premium
Anton mengatakan gejala pelambatan penurunan pasar segmentasi high end sudah terlihat dari awal tahun lalu. Hal tersebut terindikasi dari penjualan dan penyerapan yang lemah, sehingga pengembang pun semakin terbatas yang berminat untuk mengembangkan apartemen bersegmentasi high end. Salah satu faktor terbesar penjualan segmentasi high end pun akibat adanya kebijakan tax amnesty.

Belum lama ini, pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengeluarkan rencana untuk merelaksasi kebijakan perpajakan, yaitu pembebasan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) dan pajak penghasilan (PPh) 22.

Adapun secara harga, hampir semua segmen masih stabil dengan harga masih sama dar kuartal sebelumnya. Yakni high end dibanderol dengan harga Rp58 juta untuk setiap meter perseginya, upper Rp42 per meter persegi, upper-middle Rp35 juta per meter persegi, mid-end Rp23 juta setiap meter perseginya, dan lower middle dibanderol Rp18 per meter persegi.

Pada 2018 hingga 2022, diprediksi akan ada 65.300 unit apartemen baru. Sedangkan di daerah penyangga, Bekasi dan Tangerang masih mendominasi Tangerang dan Bekasi, dengan jumlah unit lebih 2,5% lebih banyak dari Jakarta.

Kepala Penelitian Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia James Taylor Menyebutkan tren berkurangnya gairah penjualan apartemen dan kondominium di Jabodetabek terlihat sejak kuartal II 2018. Dimana tingkat penjualan menurun menjadi 63 persen atau hanya terjual 900 unit di kuartal tersebut.

Menurut dia, ada beberapa alasan mengapa tingkat penjualan apartemen menurun antara lain dipengaruhi belum stabilnya nilai tukar rupiah, tingkat suku bunga kredit yang dinilai tinggi hingga pasar kedua dan sewa apartemen yang cenderung menurun. (Teti Purwanti)