ISU PASAR

Penjualan Apartemen di Jakarta Kian Menyusut

Administrator | Selasa, 14 Mei 2019 - 09:39:35 WIB | dibaca: 73 pembaca

Foto: Istimewa

Perusahaan konsultan riset properti, Savills Indonesia mengumumkan tren penjualan apartemen dan kondiminium di Jakarta sejak 2014. Sepanjang 2018, apartemen di Jakarta terjual sebanyak 2.300 unit, atau meluncur tajam dibanding 2017 yang mencapai 6.000 unit.

Kepala Departemen Riset dan Konsultasi Savills Indonesia, Anton Sitorus mengungkapkan penjualan apartemen yang menurun sejak 2014 dikarenakan banyak masyarakat yang memilih keluar dari Jakarta. Salah satunya akibat harga apartemen di Jakarta yang terus melangit.

“Pada 2014 penjualan apartemen dan kondiminium di Jakarta masih berada di kisaran 15 ribu unit, kemudian sejak 2015 dan 2016 mulai anjlok ke 10 ribu unit. Sekarang di 2018, hanya tinggal 2.300 unit saja,” ungkap Anton dalam paparan kepada wartawan, baru-baru ini.

Savills menyebutkan sebenarnya ada sekitar 5.700 unit apartemen yang diluncurkan di Jakarta pada 2018. Sehingga total suplai apartemen di Jakarta mencapai 149.200 unit hingga akhir tahun lalu. Namun, dari suplai tersebut, hanya 2.300 apartemen yang terserap pasar.

Diperkirakan pasokan apartemen di Jakarta akan terus bertambah sebanyak 64.100 unit dalam kurun 2019-2023.

Menurut Anton, harga apartemen dan kondiminium di Jakarta memang sudah tidak terjangkau lagi oleh masyarakat. Itu mengapa banyak yang memilih membeli rumah di pinggiran Jakarta.

Bahkan apartemen yang terintegrasi dengan akses transportasi massal atau Trans Oriented Development (TOD) pun masih sulit dijangkau masyarakat. Padahal lokasinya juga sudah mengarah ke pinggiran Jakarta.

Menurut riset Savills, harga rata-rata apartemen di Jakarta pada 2018 mencapai Rp 26,4 juta per meter persegi atau naik 0,6 persen dibanding pada 2017. Harga itu, ungkap Anton, sebenarnya tidak banyak bergerak dibandingkan 2017.

“Kami melihat intervensi pemerintah dalam menyediakan hunian yang terjangkau masih kurang. Harusnya lewat BUMN perumahan seperti Perumnas dan BUMN lain peran pemerintah bisa lebih besar dalam mendorong pasokan apartemen sehingga bisa terjangkau masyarakat khususnya di jalur TOD,” ujar Anton.

Sementara berharap dari swasta agak sulit karena mereka dihadapkan kepada harga lahan yang mahal, sehingga harga jual produknya tinggi. Selain kalau pemerintah mau membantu atau memberikan insentif tertentu kepada swasta dalam penyediaan lahan.

Masih Potensial
Begitu pun, Savills Indonesia menilai potensi pasar apartemen masih cukup potensial mengingat masih banyak penduduk di DKI Jakarta yang sampai saat ini belum memiliki hunian. Sementara untuk landed house nilainya sudah terlalu tinggi dan apartemen menjadi satu-satunya pilihan untuk mereka bisa memiliki hunian di Jakarta.

Jumlah penduduk DKI Jakarta saat ini mencapai 10 juta jiwa. Oleh karena itu, bila dibandingkan dengan jumlah pasokan yang ada, sebenarnya pangsa pasar apartemen masih cukup besar. Namun kembali lagi, butuh intervensi yang lebih kuat dari pemerintah sehingga harga apartemen yang dipasarkan bisa terjangkau masyarakat.

“Bandingkan dengan Bangkok yang jumlah penduduknya 8 juta. Di sana jumlah apartemen mencapai 300 ribu unit. Di Jakarta dengan penduduk hampir mencapai 10 juta jiwa apartemennya hanya 150 ribu unit atau separuh dari jumlah apartemen di Bangkok,” ungkap Anton.

Co-working space
Sementara di sektor perkantoran, diungkapkan Anton, pertumbuhan ruang bekerja bersama atau co-working space diperkirakan masih cukup tinggi ke depan. Di Asia Tenggara, ujar dia, pertumbuhan co-working space tercatat sekitar 15% pada 2017.

“Tren ruang kantor ini memang sedang digandrungi oleh perusahaan startup yang mayoritas pegawainya generasi milenial. Banyak perusahaan startup membuat model ruang kerja seperti coworking space ini,” kata Anton.

Konsep co-working space mulai berkembang pada 2017. Sejak saat itu, banyak penyedia jasa properti mulai membangun kantor dengan kon-sep co-working space untuk disewakan kembali kepada perusahaan-perusahaan rintisan. Langkah itu tidak sia-sia, karena justru kini penjualan ruang kerja bersama menjadi tumpuan di sektor perkantoran di Jakarta.

“Co-working space ini menyumbang penyerapan sewa perkantoran sebanyak 70% di 2018,” jelas dia. Tak hanya menyasar perusahaan-perusahaan rintisan, Savills Indonesia melihat co-working space menjadi ladang bisnis baru yang menyasar perusahaan-perusahaan konvensional. Dimana beberapa perusahaan perbankan dan asuransi mulai melirik menggunakan co-working space.

Beberapa penyedia co-working space di Jakarta saat ini adalah Go-work, We-work, Conclave, Workout, Jakarta Digital Valey, Kejora, Biline Space, Tierspace, EV Hive, dan Skystar Ventures Co-Working Space. (Rinaldi)