KAWASAN

Penjualan Hunian Menengah di Banten Tumbuh Signifikan

Administrator | Senin, 08 April 2019 - 14:05:59 WIB | dibaca: 86 pembaca

Foto: Istimewa

Pasar properti di Provinsi Banten mulai menggeliat. Berdasarkan survei Indonesia Property Watch (IPW), penjualan properti khususnya hunian di segmen menengah di daerah tersebut mengalami kenaikan paling signifikan.

Menurut CEO IPW Ali Tranghanda, penjualan produk properti untuk segmen menengah di Banten sangat terlihat kenaikannya pada kuartal IV/2018. Kenaikan cukup tinggi dan signifikan sebesar 59,9% per kuartal (qtq), setelah dalam tiga triwulan sebelumnya mengalami penurunan. Nilai penjualan yang terjadi juga lebih tinggi dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu atau sebesar 15,6% per tahun (yoy).

“Terbukti bahwa pasar segmen menengah tetap menjadi primadona pada 2018 sesuai dengan prediksi kami di awal tahun lalu,” ungkap Ali, dalam siaran persnya, baru-baru ini.

Diungkapkan, peningkatan penjualan untuk segmen harga rumah di atas Rp300 jutaan hingga Rp500 jutaan mulai terlihat pada kuartal IV/2018, yaitu sebesar 29,1%, meskipun tingkat penjualan segmen harga rumah Rp150 hingga Rp300 jutaan masih mendominasi pasar, yaitu sebesar 35,4%.

Selain itu, kenaikan juga terjadi di segmen harga rumah di atas Rp500 juta, menjadi sebesar 15,7%, sedangkan selebihnya merupakan segmen harga rumah di bawah Rp 150 jutaan.

Menurut Ali, perkembangan unit terjual pun mengalami kenaikan 39,6% pada kuartal IV/2018. Wilayah Tangerang dan sekitarnya membukukan jumlah unit terjual terbesar yaitu sebesar 69,8% dari total unit terjual secara keseluruhan, diikuti Cilegon dan Serang masing-masing 11,3% dan 18,9%. Meskipun demikian, dia menilai jumlah unit terjual ini masih lebih rendah 16,8% (yoy) dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun lalu.

Secara umum, Ali menjelaskan terjadi kenaikan tipis harga jual tanah pada kuartal IV/2018 di proyek-proyek perumahan di Banten sebesar 0,22%.

Sementara itu, pertumbuhan harga jual relatif kecil atau sebesar 0,18% pada kuartal IV/2018, diperkirakan sebagai gambaran para pengembang masih berhati-hati dalam menaikkan harga jualnya.

Geliat di Cilegon
Kawasan Cilegon menjadi salah satu daerah di Banten yang memperliatkan geliat penjualan khususnya untuk hunian. Kota ini sebelumnya lebih dikenal sebagai kota industri dan transit, namun kini tumbuh sebagai kota bisnis potensial. Kebutuhan dan permintaan terhadap hunian kelas menengah pun mulai meningkat, tidak hanya rumah tapak (landed house), namun juga apartemen.

Gairah pasar tersebut didukung aktivitas “Kota Baja” itu di bidang industri terutama pengolahan baja dan kimia seperti PT Krakatau Steel, Chandra Asri, dan sebagainya. Banyak pendatang termasuk pekerja asing (ekspatriat) yang bekerja di kota ini, sehingga penyediaan tempat tinggal menjadi isu penting di Cilegon saat ini.

“Cilegon ini adalah tulang punggung perekonomian di Provinsi Banten. Posisinya juga strategis dekat dengan berbagai pelabuhan termasuk Pelabuhan Merak, sehingga banyak terjadi aktivitas bisnis di sini,” kata Direktur Marketing PT Limas Realty Cilegon (LRC), Lilis Komariah kepada wartawan, baru-baru ini.

Bersama dengan PT PP Properti Tbk, pengembang ini sedang mengembangkan proyek apartemen Greenpark Terrace di Kalisari, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon.

Apartemen Greenpark Terrace dikembangkan di atas lahan seluas 5.388 meter persegi, nantinya akan terdiri dari dua tower apartemen setinggi 17 lantai. Total unit yang dipasarkan sebanyak 995 unit, dengan harga jual mulai Rp 420 juta hingga Rp 1 miliar per unit.

Dia menambahkan, sebagai kota industri, keterbatasan lahan menjadi masalah utama di Kota Cilegon. Oleh karena itu, penyediaan hunian harus diarahkan ke arah vertikal. Proyek apartemen pertama di Cilegon ini membidik pasar pekerja industri khususnya pekerjaan asing (ekspatriat) di kawasan Cilegon dan Serang.

Dengan mengusung konsep beyond space, kata dia, diharapkan seluruh penghuni di Greenpark Terrace memiliki tubuh dan pikiran yang sehat. Ditargetkan pada 2021 seluruh unit sudah diserahterimakan kepada konsumen.

Hal senada diungkapkan Deputy General Manager CitraGarden BMW Cilegon, Kurniawan Santosa. Menurut dia, meski segmennya terbatas, namun permintaan rumah di atas harga Rp 2 miliar di Cilegon, Serang, Banten dan sekitarnya tetap ada dan cenderung meningkat.

Hal ini tak lepas dari Kota Cilegon sebagai pusat industri di pesisir barat Banten, yang menjadi motor bergerak perekonomian Provinsi Banten. Jika dibandingkan dengan 7 kabupaten atau kota yang ada di Provinsi Banten pada 2018, Upah Minimun Kabupaten/Kota (UMK) Kota Cilegon adalah yang paling tinggi yaitu Rp 3,6 juta per bulan. Itu menandakan daya beli masyarakatnya juga lebih baik.

Dengan alasan itu, Ciputra Group, pengembang CitraGarden BMW berani meluncurkan rumah tipe baru yang bernama Nature. Rumah ini berkonsep dua lantai dengan luas tanah 260 meter persegi dan luas bangunan 196 meter persegi yang dibanderol dengan harga sekitar Rp 2,5 miliaran.

Karena penawaran bersifat eksklusif, maka pasar yang dibidik pun adalah kalangan pengusaha, kaum profesional (level manager ke atas), keluarga mapan, serta investor. Di Kota Cilegon dan Serang, segmen kalangan ini diakuinya terus bertumbuh.

CitraGarden BMW juga menawarkan rumah dengan kisaran harga Rp 400 jutaan hingga Rp 800 jutaan yang juga mempunyai peminat sendiri di kota tersebut. Dari total luas perumahan seluas 68 hektare, sekitar 50% sudah dikembangkan yang terdiri dari area hunian, komersial dan fasum/fasos antara lain sarana ibadah, pendidikan dan ruang terbuka hijau. (Rinaldi)