ASPIRASI DAERAH

REI Aceh Dorong Penyesuaian Harga Rumah MBR

Administrator | Rabu, 09 Mei 2018 - 11:15:03 WIB | dibaca: 80 pembaca

Muhammad Nofal, Ketua DPD REI Aceh

Selama tiga tahun terakhir prospek pasar rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Provinsi Aceh cukup baik. Hal itu didukung angka backlog perumahan di daerah tersebut yang sangat tinggi dan terus membaiknya perekonomian sehingga mendorong daya beli masyarakat di daerah tersebut.

Kondisi itu diantisipasi pengembang anggota Realestat Indonesia (REI) Aceh dengan memacu pembangunan rumah rakyat. Namun diakui akselerasi pengembang rumah rakyat di Aceh sedikit tertahan akibat terlalu rendahnya batasan harga jual rumah subsidi yang kini berlaku.

“Harga jual rumah MBR di Aceh saat ini sebesar Rp 123 juta per unit dan ini harga yang terlalu rendah. Padahal kami juga daerah otonomi khusus dan letaknya paling ujung Indonesia, sama seperti Papua,” ungkap Muhammad Nofal, Ketua DPD REI Aceh, baru-baru ini.

Selain daerah paling ujung barat Indonesia, Aceh juga merupakan daerah rawan gempa dan tsunami sehingga membutuhkan bahan bangunan yang juga tahan bencana alam. Apalagi, menurut Nofal, masyarakat Aceh tidak biasa menggunakan bata merah, namun menggunakan batu gunung yang harganya lebih mahal dibandingkan harga bata merah yang lazim digunakan di daerah lain. Selain itu, masyarakat di Aceh terbiasa tinggal di rumah dengan tanah yang luas. Jadi meski pun luasan rumah hanya 21 meter persegi, tapi tanahnya minimal mencapai 100 meter persegi.

“Sudah jadi kultur di sana tidak biasa dengan rumah deret dan tanah sempit. Akibatnya harga jual rumah juga meningkat, sehingga melampaui plafon harga dari pemerintah. Ini menjadi kendala bagi pengembang rumah subsidi di Aceh,” ujar Nofal.

Menurut dia, REI Aceh sedang memperjuangkan harga jual rumah MBR di daerah tersebut setidaknya sebesar Rp 170 juta per unit. Harga tersebut dianggap ideal, karena dalam membangun rumah di Aceh, bahan bangunan masih sangat bergantung pada pasokan dari Medan, Sumatera Utara.

“Kami sudah beberapa kali memperjuangkan harga Rp 170 juta dalam rapat kerja di daerah juga di Rakernas REI,” tegas Nofal.

Dengan menaikkan harga jual di level ideal, ungkap Nofal, akan membuat pengembang anggota REI di Aceh lebih bersemangat untuk mencapai target pembangunan 7.000 rumah MBR sepanjang tahun ini. Hingga Agustus, anggota REI Aceh, berhasil merealisasikan 4.000 rumah. Sedangkan pada

2016 berhasil mencatatkan pembangunan rumah 3.600 rumah. Dengan target yang mencapai dua kali lipat realisasi tahun lalu, REI Aceh cukup intens dalam melakukan sosialisasi dan pembinaan masyarakat untuk memiliki rumah. Selain itu, REI Aceh bersemangat membangun rumah rakyat karena mendapat dukungan pemerintah daerah baik kabupaten/kota maupun provinsi.

Nofal menuturkan perizinan di Aceh relatif mudah. Demikian juga pasokan listrik, PLN setempat sudah melakukan penyambungan jaringan arus listrik ke rumah-rumah yang dibangun oleh anggota REI. Saat ini hanya pemecahan sertifikat tanah yang masih mahal dan makan waktu. Padahal, tegas dia, sudah ada peraturan menteri kalau pemecahan sertifikat tanah harus dipermudah dan gratis.

“Begitu pun kami terus membangun komunikasi yang kontiniu dengan BPN di Aceh supaya kendala ini dapat teratasi dengan baik,” ungkap Nofal. Anggota REI di Aceh tercatat mencapai 120 orang, dengan anggota aktif mencapai 80 orang. Di daerah itu hampir seluruh anggota membangun rumah MBR dengan sebaran pembangunan di Aceh Besar, Meulaboh, Banda Aceh, Kabupaten Aceh Barat, dan berbagai pelosok daerah lainnya.

Meski pasca tsunami harga tanah di sejumlah titik di Aceh melambung hingga Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per meter, namun REI Aceh tetap optimis mampu merealisasikan rumah rakyat. Apalagi saat ini kondisi keamanan di Aceh cukup stabil dan terkendali, sehingga diharapkan akan menarik banyak pengembang besar dari Jakarta maupun Sumatera Utara untuk mau berinvestasi di Aceh. TPW