TOPIK KHUSUS

REI dalam Lintasan Sejarah

Administrator | Senin, 22 Oktober 2018 - 15:43:41 WIB | dibaca: 28 pembaca

Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) didirikan pada 11 Februari 1972 di Jakarta. Hari itu, tepat hari Jumat yang bersejarah, catatan perjalanan panjang asosiasi pengembang tertua di Indonesia itu pun mulai ditorehkan.

Meski sudah terbentuk, namun REI masih nihil pengurus. Baru seminggu kemudian dibentuk pengurus sementara yang dipimpin Ir. Ciputra. Ada Sembilan perusahaan sebagai anggota perdana, dimana enam diantaranya berbendera Pemda DKI Jakarta.

Pengurus REI meminta kesediaan Menteri Pekerjaan Umum Tenaga Listrik, Ir. Sutami untuk meresmikan organisasi ini, namun ternyata beliau berhalangan. Akhirnya pengurus REI dikukuhkan oleh Gubenur DKI Jakarta Ali Sadikin di City Hall, Gedung Pemerintah DKI Jakarta.

Tanggal 18 Maret 1972 Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan Surat Keputusan N0. 638/A/K/BKD/72 yang isinya mengukuhkan pendirian REI yang berkedudukan di Jakarta. Tidak salah kalau kemudian mantan Wartawan Tempo Agung Firmansyah yang menulis buku “Seperempat Abad REI, 1972-1997” yang berkesempatan mendengar langsung cerita dari Ali Sadikin menyebutkan REI sejatinya terlahir dari “rahim” Pemprov DKI Jakarta.

Selain mengukuhkan REI sebagai satu-satunya wadah bagi pengusaha realestat, Pemda DKI juga meletakkan dasar bagi tumbuhnya pembangunan perumahan skala realestat yang kemudian dalam banyak hal telah dituangkan dalam peraturan menteri. Selain itu Ali Sadikin juga mewajibkan perusahaan realestat yang hendak berusaha di Jakarta menjadi anggota REI.

“Itu suatu perlindungan yang saya berikan kepada REI,” (Seperempat Abad REI, hal 54).

Meski begitu, Bang Ali (demikian dia sering dipanggil) juga mengingatkan pengurus REI agar membimbing anggotanya untuk jadi pengusaha yang terpercaya. “Jangan menjadi anggota REI karena ingin fasilitas dan jangan pula menjadi anggota REI untuk menjadi calo tanah atau manipulator tanah! ”.

Pesan Bang Ali itu sangat membekas di hati pendiri dan Ketua Umum DPP REI yang pertama, Ir. Ciputra. Ketika memberi sambutan pada tempat yang sama, Ciputra, menjelaskan, karena bidang usaha realestat masih terbilang baru, maka kebanyakan perusahaan realestat belum mempunyai cukup pengalaman tentang liku-liku bidang usaha ini. Kondisi REI pun masih jauh dari gambaran manis.

Bahkan, Ciputra mengenang, “Untuk ruangan kantor pun kami menumpang di kantor orang lain”.

Sekali lagi, kelahiran REI 46 tahun lalu memang tidak bisa dilepaskan dari peran dan komitmen Almarhum Ali Sadikin.

Bang Ali, dalam memoarnya Demi Jakarta 1966-1977 yang ditulis Ramadhan KH mengungkapkan bahwa pada suatu hari, di tahun 1971, dirinya ditemui Ir. Rio Tambunan, Kepala Dinas Tata Kota Pemda DKI Jakarta. Mereka berdiskusi soal masterplan

ibukota. Waktu itu sebagian besar wilayah Jakarta masih berupa persawahan. Lalu Rio Tambunan memaparkan gagasan-gagasannya, terutama tentang realestat.

“Rio Tambunan datang ke saya, menjelaskan gagasannya mengenai realestat.Panjang lebar dipaparkan apa yang dia maksud. Saya dengarkan. Setelah itu kami kembangkan pikiran mengenai realestat itu. Kemudian Ciputra pun kami ajak bicara,” ungkap Ali Sadikin.

Pemaparan Rio Tambunan ihwal realestat itulah yang kian melecutkan semangat Ali untuk membangun dan menata Jakarta. Apalagi saat itu Pemda DKI memiliki instrumen yang bisa berfungsi ikut mengubah wajah kota Jakarta.

Beberapa perusahaan milik Pemda DKI seperti PT Pembangunan Jaya,dan badan-badan otorita, seperti BPO Pluit, Ancol, Pulo Mas ditingkatkan perannya dalam mengembangkan realestat di Jakarta.

Itulah sekelumit catatan sejarah yang terungkap mengenai tonggak berdirinya REI pada 1972 dalam situasi keterbatasan baik jumlah anggota, pengurus bahkan kantor yang masih menumpang.

Dan Kini, 46 tahun kemudian dari sejak kelahirannya, REI sudah berhasil tampil sebagai asosiasi yang kuat dan solid, lengkap dengan segala prestasi dan kekurangannya. Apa yang telah dan akan dilakukan REI merupakan mata rantai yang tak terputus dari proses kematangan berorganisasi dan juga keuletan setiap sosok yang pernah memimpin organisasi tersebut.

Ketua Umum DPP REI, Soelaeman Soemawinata mengatakan REI akan berjalan terus senafas dengan perkembangan zaman untuk mengisi pembangunan Indonesia, terutama di bidang perumahan yang menjadi cermin kesejahteraan bangsa Indonesia. Khusus untuk perumahan rakyat, REI telah mengikrarkan dirinya sebagai ‘Garda Terdepan Membangun Rumah Rakyat’.

Perjalanan REI tidak akan berhenti pada usia 46 tahun. Tapi ini akan terus berlanjut terus mengikuti bergeraknya zaman. Beratus prestasi telah digenggam, namun seribu tantangan masih siap menghadang.

Yang pasti, 3.700 anggota REI di seluruh Indonesia harus bahu-membahu membuktikan integritas dan jatidirinya secara profesional. Kekompakan dan soliditas organisasi juga harus terus diutamakan seperti yang telah dilakukan para pendiri REI sehingga masih tegak berdiri hingga usia ke-46 tahun. Selamat Ulang Tahun REI. (Rinaldi)