Berita

REI DKI Jakarta-UI Selenggarakan Real Estate Executive Program

Administrator | Jumat, 11 Januari 2019 - 16:30:52 WIB | dibaca: 329 pembaca

Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) DKI Jakarta bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (Fak-Teknik-UI) menyelenggarakan “Real Estate Executive Program”.

Program ini bertujuan mencetak pengusaha muda yang memilki kompetensi mumpuni di bidang realestat dari hulu sampai hilir, serta memiliki kemampuan yang tajam membaca peluang Investasi properti di Indonesia. 

“Real Estate Executive program ini sangat istimewa, karena memadukan konsep-konsep manajemen modern dengan pengalaman nyata bisnis real estat dari pakar-pakar real estat terkemuka di Indonesia. Program ini layak diikuti oleh para profesional muda yang ingin meningkatkan kompetensinya sekaligus menjalin network bisnis real estat,” ungkap Amran Nukman, Ketua DPD REI DKI Jakarta di sela-sela program tersebut, di Kampus UI Depok, baru-baru ini.

Lewat institusi pendidikan, REI DKI Jakarta lanjut Amran ingin mendukung dan mendorong lahirnya sumberdaya manusia sebagai pelaku bisnis di industri real estat. Karena itulah, berbeda dengan program sejenisnya, “Real Estate Executive Program” lebih mengedepankan bagaimana cara seseorang mencapai sukses. Khususnya bagi calon pengembang ataupun pengembang pemula.

“Karena setiap materi yang disampaikan, merupakan ilmu yang mengikuti kondisi bisnis terkini. Kurikulum yang diangkatpun lebih up to date sesuai kebutuhan industri realestat. Selain itu, tenaga pengajarnya merupakan senior-senior REI sekaligus praktisi properti yang terbukti sukses dalam menjalanakan bisnis realestat selama puluhan tahun,” jelasnya.

Beberapa diantaranya adalah Soelaeman Soemawinata Ketua Umum DPP REI, Lukman Purnomosidi Presiden Direktur Eureka Group, Amran Nukman Ketua DPD REI DKI Jakarta, Wahyu Sulistio Direktur Metropolitan Land Tbk, Meiko Handoyo Direktur Ciputra Group, Adri Istambul Lingga Gayo Wakil Ketua Umum DPP REI bidang Pertanahan, serta Thomas Go, Roysan Aruan, Chandra Rambey, Hargo Mandirahardjo, Hery Sulistyono, dan Ghofar Rozag Nazila.

Sedangkan dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia, pengajarnya antara lain, Dr.Ir.Hendri D.S. Budiono, M.Eng, (Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia), Prof. Yandi Andri Yatmo Ph.D, Prof. Dr. Ir. Emirhadi Suganda, MSc, serta beberapa pengajar FT-UI lainnya.

Tantangan dan Peluang
Dalam setiap sesi materi yang diajarkan, mahasiswa “Real Estate Executive Program” langsung diajarkan hal-hal yang bersifat teoritis maupun sharing pengalaman lapangan dengan tenaga pengajar. Beberapa materi yang diajarkan diantaranya soal mindset dan platform bisnis properti, perencanaan bisnis, pembebasan lahan, lingkungan, permodalan, hukum (legal) dan lain-lain.

Dr Lukman Purnomosidi, Presiden Direktur Eureka Group, dalam sharing session pada pokok bahasan mengenai membangun bisnis realestat menjelaskan beberapa tantangan sekaligus peluang yang terbuka lebar di sektor perumahan.

Diantaranya, tantangan terkait dampak penurunan nilai tukar rupiah terhadap bisnis properti di tanah air, cara jitu dalam bertindak, mengubah tantangan menjadi sebuah peluang. Pelaku usaha dalam negeri saat ini cukup was-was karena sinyal yang telah dikirim BI bahwa salah satu cara untuk menyelamatkan rupiah ialah mereka bakal menaikkan suku bunga acuan BI 7 days repo rate. Meski masih menjadi pilihan keputusan yang dilematis bagi BI, rezim bunga rendah, mau tak mau, tampaknya bakal segera berakhir.

“Kalau sudah bicara suku bunga, hampir pasti pengaruhnya akan dirasakan oleh semua sektor usaha. Tentu saja tak terkecuali sektor properti dan perumahan. Karena itu pengembang perlu mencermati implikasinya terhadap bisnis properti,” ungkap dia di hadapan peserta “Real Estate Executive Program”.

Lukman menambahkan, dalam kondisi pasar properti yang masih lemah seperti sekarang, diharapkan agar pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang merelaksasi dunia usaha seperti kebijakan keringanan perpajakan, suku bunga, dan kebijakan lainnya.

Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata disela-sela padatnya kegiatan juga berkesempatan hadir dan berbagi pengetahuan kepada para peserta, khususnya terkait arah dan fokus REI dalam mendorong pertumbuhan industri real estat nasional.

Menurutnya, kurang tepat kalau pengembang dikatakan hanya membangun dan mencari keuntungan. Kenyataannya, kata Eman, ada value added (nilai tambah) yang diciptakan. Baik untuk perekonomian, pajak, investasi baru, sosial, dan juga lingkungan.

Ditambahkan, pengembangan yang dilakukan oleh REI beserta anggotanya juga tidak melulu perumahan, namun ada pula non-perumahan. Perumahan, setidaknya terbagi menjadi empat jenis, horizontal subsidi dan non-subsidi, serta vertikal subsidi dan non-subsidi.

Sedangkan untuk pembangunan non-perumahan REI membangun dan menciptakan kota baru, kawasan pariwisata, kawasan industri, pusat perbelanjaan atau mall, hotel, dan juga perkantoran.

“REI ini adalah organisasi dengan scoop pekerjaan yang paling besar dan beragam. Dengan anggota lebih dari 4000 perusahaan, saya kira potensi yang dimiliki organisasi ini besar sekali,” ungkap Eman.

REI, kata dia, siap menjadi garda terdepan untuk membantu program pemerintah di segala bidang pengembangan sesuai kompetensi yang dimiliki masing-masing anggota. (Rinaldi)