ASPIRASI DAERAH

REI Jabar Genjot Target Rumah Subsidi di 2019

Administrator | Rabu, 13 Maret 2019 - 10:26:12 WIB | dibaca: 39 pembaca

Ketua DPD REI Jawa Barat, Joko Suranto

Pengembang yang tergabung dalam Realestat Indonesia (REI) Jawa Barat (Jabar) optimistis tahun depan pasar rumah subsidi akan semakin baik di 2019. Sebagai daerah kontributor terbesar dalam capaian rumah berbasis FLPP, pada 2017 pembangunan rumah subsidi di Jabar mencapai 24.380 unit, melesat melebihi target 15.000 unit.

Sedangkan tahun ini, realisasi rumah subsidi diperkirakan mencapai 30 ribu rumah. Hal itu tidak berlebihan, dimana berdasarkan data Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), hingga akhir Oktober 2018 realisasi rumah MBR di seluruh Indonesia sudah mencapai 190 ribu unit, dan 30% diantaranya ada di Jabar.

Ketua DPD REI Jawa Barat, Joko Suranto mengungkapkan dari sekitar 57 ribu unit pembangunan rumah MBR di Jabar, 30% dibangun oleh pengembang di bawah naungan REI.

“Jabar masih paling tinggi dan masih cenderung naik dibandingkan pada tahun lalu. Faktor-faktornya banyak, pengembang pasti punya strategi masing-masing dan tentu ada daerah baru yang dikembangkan,” ungkap Joko, baru-baru ini.

Sementara tahun depan, REI Jabar menurut Joko akan menaikkan target pembangunan rumah bersubsidi menjadi 35 ribu unit. Pembangunan rumah MBR menjadi salah satu solusi bagi pengembang supaya bisa tetap eksis, mengingat lesunya pasar properti komersial.

“Tren pembeli saat ini adalah end user, maka yang dibicarakan adalah kebutuhan, sehingga memang pembangunan rumah MBR jadi jaring pengaman bagi pengembang,” papar dia.

Adapun properti komersial masih seperti tahun lalu yang cenderung melambat. Apalagi untuk rumah-rumah dengan harga di atas Rp 500 juta sangat sulit untuk dijual. REI Jabar, kata Joko, tentu berharap pada 2019 terjadi pertumbuhan. Bukan hanya tumbuh, namun setidaknya properti di Jabar dapat pulih di kuartal II 2019 atau usai Pileg dan Pilpres.

Dukungan Pemda
Optimisme pelaku usaha termasuk pengembang di Jabar juga didukung dengan kepala daerah baru yang cenderung aktif dan memiliki kepedulian dalam merumahkan rakyat. Meski terbentur dengan otonomi daerah, nyatanya menurut Joko, Gubernur baru menciptakan optimisme dan atmosfer positif terhadap segmen properti.

Sayangnya, pelonggaran LTV yang dilakukan sejak Agutus 2018 ternyata tidak berpengaruh di Jabar. Joko menjelaskan, tidak berdampaknya LTV karena kemampuan konsumen yang tidak meningkat. Pasalnya tidak ada akselerasi masyarakat dalam hal peningkatan pendapatan.

Pada 2019 mendatang, Joko berharap untuk segmen subsidi pemerintah bisa segera memberikan kejelasan berapa harga terbaru. Karena kalau pun harga baru dari PUPR keluar pada awal tahun, harus ada pengesahan dari Kementerian Keuangan yang kalau tidak segera diselesaikan cepat justru akan menyebabkan keragu-raguan di pasar.

Terkait besaran kenaikan harga, Joko mengungkapkan, besaran 5% sudah ideal, karena kalau naik terlalu tinggi dan pasar tidak mampu menjangkau sama saja tidak banyak berdampak.

Tren Properti Syariah
Tren hidup syariah tengah menjamur, bukan hanya dari sisi perbankan, bahkan saat ini juga memasuki hunian. Meski tidak besar, namun pengembangan properti syariah tengah menjamur di Jabar, terutama Depok dan Bandung.

Meski cenderung baru, Joko menyebutkan properti syariah akan sulit tumbuh. Hal itu disebabkan karena tidak ada jaminan dari perbankan, padahal dana yang dibutuhkan relatif besar. Minat dan kesadaran masyarakat menggunakan skim syariah juga sebenarnya sudah cukup tinggi.

“Selain itu, kejelasan dan kepastian peralihan hak juga sulit terjaga, serta risiko kegagalan tinggi. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri juga ada yang membangun yang berarti memang pasarnya tersedia,” jelas Joko.

Menurut dia, segmen ini hanya akan berjalan pada segmen tertentu saja dengan ruang lingkup terbatas,di kalangan yang sudah saling mengenal, mapan, dan memiliki idealisme tertentu. (Teti Purwanti)