AKTUAL

REI Peduli Berbagi Ceria di Pidie Jaya

Administrator | Selasa, 26 Februari 2019 - 10:50:54 WIB | dibaca: 28 pembaca

Matahari belum lagi timbul sempurna, pagi itu Sabtu 15 September, namun konvoi puluhan kendaraan sudah melaju kencang dari arah Banda Ac eh, melingkari Gunung Seulawah Agam, meliuk rapi melewati tikungan-tikungan tajam di tengah lebatnya Hutan Taman Raya Saree.

Jalanan pagi itu masih sepi. Sesekali konvoi harus menembus kabut tipis, jalanan yang basah berlumut atau waspada karena berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan. Kantuk yang masih menyerang sedikit berkurang karena melihat beberapa spot pemandangan indah di gunung setinggi 1.726 mdpl tersebut.

Setelah sekitar tiga jam memutari punggung gunung, akhirnya tiba juga di Padang Tiji Pidie. Ya, Gunung Seulawah Agam memang berada di antara Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie, dihubungkan dengan jalan lintas yang membelah gunung.

Konvoi kendaraan yang merupakan rombongan Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) singgah sebentar di sebuah SPBU di Sigli, ibukota Kabupaten Pidie. Selain melepas penat, juga untuk memenuhi tradisi ngopi di pagi hari. Riuh canda pun terdengar sembari menyeruput kopi hitam dan panganan ringan khas Aceh.

Rombongan REI yang berjumlah hampir 50 orang ini dipimpin langsung Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata dan Ketua DPD REI Aceh Muhammad Nofal. Tujuannya adalah untuk melihat langsung dan meresmikan bangunan sekolah TK Pembina Meureudu di Gampong Teupin Peuraho, Pidie Jaya, yang dibangun atas bantuan Keluarga Besar REI setelah sempat hancur karena digoncang gempa bumi pada 2016 silam.

Di lokasi, rombongan REI disambut Wakil Bupati Pidie Jaya Said Mulyadi dan Kapolres Pidie Jaya AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar S.IK dan unsur Forkopimda Pidie Jaya lainnya. Para guru dan siswa TK Pembina Meuredue.

Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata mengungkapkan setelah hampir dua tahun berkunjung ke Pidie Jaya pasca gempa, dirinya kini kembali lagi ke daerah tersebut. Dia melihat perubahan sudah terjadi, dimana banyak bangunan fisik sudah dibangun kembali, demikian pula aktivitas masyarakat tampak sudah berjalan normal.

Padahal gempa sebesar 6,5 skala richter itu dikabarkan telah merenggut 104 korban jiwa, merusak rumah warga dan berbagai fasilitas publik seperti sekolah, Puskesmas, dan rumah ibadah.

“Saya tidak menyangka disambut semeriah ini, dengan tari penyambutan tamu yang dibawakan anak-anak didik kita. Sangat mengharukan sekali, padahal saya niat kemari untuk melihat saja sekolah yang sudah dibangun REI. Tapi terimakasih buat masyarakat Pidie Jaya,” kata Eman, demikian dia akrab dipanggil saat memberikan sambutan.

Dia menyampaikan bahwa bantuan ini sebenarnya adalah sumbangan yang sangat kecil dibandingkan total dari bantuan yang sudah diberikan pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun komunitas kemanusiaan lainnya. Tetapi bagi REI, ini adalah bentuk kepedulian, bisa ikut membantu meski sedikit.

Menurut Eman, begitu mendengar informasi musibah gempa bumi di Pidie Jaya, secara spontanitas anggota REI dari seluruh Indonesia mengumpulkan dana bantuan dan terkumpul dana sekitar Rp 700 juta.

Dua minggu setelah gempa, REI mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Pidie Jaya dan menyampaikan keinginan untuk membantu tahap rekonstruksi dengan membangun sekolah yang rusak parah akibat gempa tersebut.

Menurut Eman, sekolah ini sebenarnya sudah lama selesai dibangun kembali dan sudah digunakan untuk kegiatan belajar mengajar siswa. Namun baru saat ini dirinya berkesempatan hadir dan melihat langsung bersamaan dengan adanya kegiatan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) REI Aceh 2018.

“Semoga rasa kepedulian anggota REI se-Indonesia ini membawa manfaat bagi masyarakat Pidie Jaya, khususnya anak-anak kami para siswa TK Pembina Meureudu sebagai generasi penerus bangsa,” ungkap Eman yang juga Presiden Federasi Realestat Dunia (FIABCI) Asia Pasifik itu.

Perhatian Khusus REI
Selain di Aceh, REI juga berencana ikut terlibat dalam rekonstruksi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang juga sedang terkena musibah gempa bumi. Eman menyebutkan, di Lombok REI kemungkinan akan membangun sekolah atau mesjid. Saat ini desain sekolah sudah dibuat, namun REI perlu berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat sebelum memutuskan apakah membangun sekolah atau mesjid.

“Tahap awal REI sudah mengirimkan bantuan berupa obat-obatan, susu dan kebutuhan anak-anak, serta tenda untuk hunian sementara warga. Ternyata tenda sangat diperlukan di sana, karena gempa susulan terus terjadi,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Bupati Pidie Jaya (Pijay), Said Mulyadi menyampaikan terimakasih kepada REI atas perhatian, kepedulian dan rasa kekeluargaan yang cukup besar kepada masyarakat Pijay. Dikatakan saat gempa terjadi banyak fasilitas kesehatan, pendidikan dan perumahan masyarakat yang hancur. Salah satunya bangunan TK Pembina Meureudu yang kini sudah beroperasi kembali setelah dibangun REI.

“Hari ini Pak Ketum REI kembali datang kemari, dan melihat bahwa sekolah ini sudah digunakan kembali atas sumbangan anggota REI. Kami ucapkan terimakasih karena telah memberikan perhatian khusus kepada Pijay,” ungkap pria yang akrab disapa Waled tersebut.

Fasilitas-fasilitas lain termasuk sarana pendidikan sudah ditanggani serius oleh pemerintah pusat, demikian juga perumahan yang rusak dan rusak berat sudah bisa diselesaikan dan dibangun kembali sebanyak 7.000 unit pada tahun ini. Namun yang masih tersisa adalah pembangunan kembali mesjid-mesjid yang rusak berat. Menurut Waled, ada 23 mesjid yang hancur saat gempa, dan baru lima mesjid yang sudah dibangun kembali oleh pemerintah daerah.

“Kita bangun dengan APBD, tetapi memang anggaran sangat terbatas. Siapa tahu dengan kehadiran keluarga besar REI ada donatur yang tergerak hatinya untuk membangun kembali mesjid-mesjid di Pijay, membangun kembali rumah-rumah Allah,” harap Waled.

Setelah sambutan-sambutan, dilakukan penandatanganan batu prasasti peresmian sekolah oleh Ketua Umum DPP REI dilanjutkan dengan peninjauan ke dalam kelas dan diakhiri jamuan makan siang di kediaman Wakil Bupati Pijai, Waled Said Mulyadi. Selepas Shalat Zuhur, rombongan REI pun kembali berkonvoi menuju Banda Aceh. (Rinaldi)