ARSITEKTUR

Setiap Tahun, Bangunan Hijau di Indonesia Meningkat 50%

Administrator | Selasa, 19 Maret 2019 - 13:51:36 WIB | dibaca: 106 pembaca

Foto: Istimewa

International Finance Corporation (IFC), anggota kelompok Bank Dunia, telah bekerjasama dengan Green Building Council Indonesia (GBCI ) untuk mengembangkan sertifikasi EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies). Sertifikat ini akan diberikan kepada bangunan-bangunan hijau (green building) di Indonesia.

Dalam laporan IFC yang diluncurkan November 2018, yaitu ‘Climate Investment Opportunities for Cities’, disebutkan bahwa potensi investasi yang terkait iklim adalah sebesar US$ 29,4 triliun di enam sektor urban di negara-negara berkembang.

Keenam sektor tersebut adalah transportasi publik, pengelolaan dan pengadaan air, pengolahan limbah, kendaraan listrik, energi terbarukan dan bangunan gedung hijau.

“Dari keenam sektor tersebut, bangunan gedung hijau memberikan potensi paling besar, yaitu US$ 24,7 triliun atau lebih dari 80% dari total potensi investasi yang ada,” kata Yanu Aryani, Konsultan EDGE Indonesia.

Menurut dia, Jakarta termasuk salah satu kota yang dianalisa secara mendalam. Dalam laporan tersebut juga menyebutkan bahwa potensi bangunan gedung hijau di Jakarta adalah sebesar US$ 16 miliar atau sekitar 50% dari total potensi investasi terkait iklim di Jakarta yang mencapai US$ 30 miliar.

Lebih lanjut Yanu menuturkan, IFC dan GBCI mengembangkan sertifikasi EDGE dengan tujuan mendorong investasi bangunan gedung hijau di negara-negara berkembang atau emerging market.

“Di Indonesia, EDGE diluncurkan pada Juni 2015 bersama dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) sebagai partner lokal, dan saat ini, lebih dari 50 sertifikasi EDGE yang telah dikeluarkan di Indonesia,” ungkap Yanu.

Dia mengatakan, EDGE adalah sistem sertifikasi bangunan hijau yang membuktikan bahwa membangun dengan menerapkan praktik-praktik yang bertanggung jawab secara lingkungan di negara berkembang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip bisnis.

Ada tiga manfaat dari bangunan hijau, baik di sisi pengembang, konsumen, dan perbankan. Bagi pengembang, bisa meningkatkan penjualan. Bagi konsumen, dapat menurunkan pengeluaran.

Sementara bagi perbankan, bisa mengurangi angka kredit macet disebabkan pengeluaran konsumen lebih hemat. Di Amerika Serikat, imbuh Yanu, pengurangan kredit macetnya bisa mencapai 33%.

“EDGE sendiri memiliki software khusus yang dapat diunduh secara gratis. Tak hanya gedung bertingkat, rumah tapak pun bisa dihitung efisiensinya. Standar green building untuk rumah tapak yakni bisa menghemat penggunaan energi, air, dan material bangunan setidaknya 20%,” tutur Yanu.

Di Indonesia sendiri, kesadaran akan pentingnya bangunan hijau butuh tujuh tahun hingga sampai tahap saat ini. Yaitu ketika banyak pengembang mulai sadar akan pentingnya bangunan hijau.

Ivan Gautama, EDGE Certification Manager mengatakan pada awal perkembangannya di Indonesia, pentingnya masalah penghijauan hanya terbatas ada tanaman atau Ruang Terbuka Hijau (RTH). Padahal, di negara lain, bangunan hijau sudah ada sertifikasi dan juga menejemen yang jelas.

“Khususnya di Jakarta, sudah sangat peduli, apalagi sudah ada Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta. Sehingga kesadaran didukung dengan aturan,” kata Ivan kepada Majalah RealEstat.

DKI Jakarta telah menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 38 yang diimplementasikan pada 2013, mengenai bangunan gedung ramah lingkungan, atau gedung hijau. Jakarta merupakan kota pertama yang menerbitkan regulasi tersebut di Indonesia. Dalam aturan tersebut terdapat berbagai syarat suatu bangunan bisa dikatakan ‘green building’.

Berdasarkan data PT Sertifikasi Bangunan Hijau, dengan bangunan hijau, masyarakat bisa menghemar hingga 170 juta kWh setiap tahunnya, 1,3 juta m3 setiap tahunnya, dan 151 ribu ton emisis karbon CO2 per tahun. Dari data tersebut, masyarakat juga mulai sadar, kalau pendapat bangunan hijau itu mahal juga mulai terkikis.

Bahkan masyarakat yang tinggal di apartemen dengan konsep green building sudah mulai merasakan penghematan air dan juga listrik.

Sayangnya, di Indonesia belum ada data resmi berapa banyak bangunan baru yang mulai mengusung bangunan ramah lingkungan.

Namun, Ivan menyebutkan setiap tahun kenaikan peminat atau pengembang yang ingin melakukan registrasi bisa mencapai 50% dibandingkan pengembangan pada tahun tahun sebelumnya.

“Meski kenaikan sudah baik, tapi kendala tetap ada yaitu awarness dari pemiliki gedung dan juga masyarakat yang akan tinggal. Karena itulah kami terus juga melakukan sosialisasi,” tegas Ivan.

Saat ini Jakarta menjadi daerah yang paling getol agar bangunan baru yang dibangun adalah bangunan ramah lingkungan. Selain itu ada pula di Bandung dan Semarang, serta akan disusul dengan Surabaya.

Namun, secara kemajuan, Bandung menjadi lokasi paling maju dalam mendorong bangunan hijau, apalagi Gubernur Jawa Barat berasal dari praktisi yang sangat mengerti. Bahkan memberi insentif bagi pengembang yang membangun dengan konsep green building.

Ke depan, sertifikasi EDGE ini juga akan menyebar ke Bali dan juga Yogyakarta dengan target sertifikasi bangunan-bangunan tinggi seperti hotel.

Dukungan Pengembang
Dukungan dan kesadaran terhadap bangunan hijau juga mengemuka dari kalangan pengembang. Developer berharap program sertifikasi EDGE ini mampu mendorong pertumbuhan pembangunan gedung sehingga menggunakan sumber daya secara efisien.

Salah satunya adalah proyek Samara Suites, apartemen besutan Synthesis Development yang sudah mengantongi sertifikasi EDGE. Dengan sertifikasi EDGE, menunjukkan bahwa apartemen yang berada di kompleks Synthesis Square, Jalan Gatot Subroto Jakarta ini telah mengoptimalkan rancangan bangunannya sehingga efisien dalam penggunaan listrik, air, serta bahan bangunan.

Julius Warouw, Managing Director Synthesis Development memaparkan, dengan konsep green yang diterapkan, Samara Suites juga makin nyaman dihuni dan memiliki nilai lebih sebagai sebuah investasi.

“Kami harapkan program sertifikasi EDGE ini mampu mendorong pertumbuhan pembangunan gedung sehingga menggunakan sumber daya secara efisien,” tutur Julius.

Samara Suites berhasil melakukan penghematan listrik sebesar 31%, penghematan air 35%, dan penghematan material 48%. Penghematan energi itu antara lain bisa didapat dari bukaan jendela yang lebih kecil, penggunaan lowe coated glass, insulation roof, dan lampu hemat energi.

Penghematan air diperoleh dari penggunaan keran dan shower hemat air serta double flush closet. Sedangkan penghematan material bangunan diperoleh dari penggunaan autoclaved aerated concrete alias beton ringan.

Julius juga mengatakan Indonesia memiliki laju pertumbuhan kota tercepat di Asia lebih dari 4%. Migrasi ke kota menyebabkan permintaan bangunan di wilayah metropolitan semakin tinggi.

Gedung-gedung di Indonesia saat ini ditengarai mengonsumsi 30% energi dan pada 2030 angka ini diperkirakan meningkat hingga 40%. Pasalnya, pada saat itu sekitar 71% penduduk Indonesia diprediksi akan tinggal di kota besar.

“Bangunan hijau dapat membantu kota-kota di Indonesia tumbuh secara berkelanjutan. Hingga sepertiga dari konsumsi energi dan air yang dipakai gedung-gedung di Indonesia dengan mudah bisa dikurangi melalui desain dan pengelolaan gedung yang lebih baik,” ucap Julius.

Misalnya berapa rasio jendela dibandingkan tembok di gedung tersebut, bagaimana sirkulasi udara, hingga penggunaan lampu dan pendingin ruangan.

Insentif Khusus
Indonesia Green Building Program Leader IFC, Sandra Pranoto mengatakan dukungan pemerintah masih belum menyeluruh, sehingga masih diperlukan insentif khusus bagi pengembang.

“Saat ini, baru Kota Bandung yang menyebutkan insetif bagi bangunan hijau yang tertuang dalam peraturan walikota (Perwal). Namun hingga saat ini insentif belum diterapkan sehingga developer masih menunggu langkah pemerintah kota,” kata Sandra seperti dikutip dari Bisnis Indonesia.

Insentif yang dikeluarkan oleh Perwal Bandung, yaitu apabila sudah memenuhi persyaratan green building, pengembang berhak mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Namun apabila melebihi persyaratan, ada dua jenis insentif, yaitu penambahan luasan lantai atau pemotongan pajak bumi dan bangunan (PBB). (Teti Purwanti)