KAWASAN

Suplai Rumah di Bawah Rp 600 Juta di Depok Menurun

Administrator | Selasa, 05 Juni 2018 - 10:32:17 WIB | dibaca: 32 pembaca

Foto: Istimewa

Hasil survei Rumah.com Property Index menunjukkan bahwa suplai rumah seharga di bawah Rp600 juta di Depok stagnan cenderung mengalami penurunan sebesar 0,9% pada kuartal kedua 2017 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Country Manager Rumah.com, Wasudewan mengatakan, suplai rumah di bawah Rp 600 juta cenderung menurun karena kecenderungan harga properti di Depok mengalami peningkatan pesat. Apalagi, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok telah mengeluarkan peraturan penetapan luas tanah minimal, yakni 120 meter persegi.

“Peraturan ini sebenarnya banyak diprotes oleh pengembang, tetapi Pemkot Depok mengambil keputusan ini untuk menjaga keseimbangan kawasan,” kata dia dalam laporan risetnya, baru-baru ini.

Disebutkan kawasan Depok sebenarnya lebih banyak menyerap pasar kelas menengah, tetapi dengan luas lahan 120 meter persegi menyebabkan banyak pengembang kesulitan memasang harga yang sesuai untuk kelas menengah.

Hunian di bawah Rp 600 juta yang ada di Depok kini berupa stok lama atau proyek lama yang disetujui sebelum keluarnya peraturan penetapan luas lahan atau hunian baru yang berada di perbatasan Depok-Bogor seperti Sawangan dan Pondok Rajeg, dengan harga lahan yang masih terjangkau.

Berdasarkan daftar perumahan baru Rumah.com, perumahan baru di Depok yang berada dekat pusat kota (Margonda dan sekitarnya) kini dibanderol mulai Rp 800 juta, seperti di Cipayung Royale Residence.

Sementara itu, rumah yang dibanderol di bawah Rp 600 juta berada di sekitar Sawangan atau kawasan lain yang berbatasan dengan Bogor, seperti Agathis Residence, yang dibanderol mulai Rp 500 jutaan.

Sedangkan untuk perumahan kelas menengah-bawah, masih dapat diperoleh di sisi barat dan selatan Depok antara lain Sawangan, Cinangka, Pengasinan, Citayam, Bedahan, Cipayung, dan Bojongsari.

Rumah.com Property Index juga menunjukkan bahwa harga rumah di Depok di bawah Rp 600 juta pada kuartal kedua (Q2) 2017 berada pada harga Rp 5,9 juta per meter persegi atau naik 4,29% dibanding kuartal sebelumnya. Harga rumah tapak di Depok mengalami kenaikan cukup signifikan pada kuartal kedua 2017, setelah sebelumnya terkoreksi tajam. Kenaikan ini mengindikasikan pemulihan setelah pada kuartal sebelumnya (kuartal pertama) mengalami penurunan hingga 5,48% secara kuartalan.

Menurut Wasudewan, bagi first time buyer, Depok adalah lokasi yang cukup ideal di samping mengukur pada penghasilan yang masuk kelas menengah. Misal pasangan muda dengan pendapatan bulanan sekitar Rp 10 juta per bulan.

“Pembeli yang telah memiliki rumah dan membeli rumah kedua atau ketiga dan seterusnya di Depok kebanyakan adalah orang yang telah mapan di sana. Rumah berikutnya yang mereka beli biasanya untuk anak-anak mereka, sehingga orang tua dan anak tersebut bisa tetap berdekatan,” papar dia.

DAYA TARIK INFRASTRUKTUR
Wasudewan memperkirakan pembangunan jalur tol Depok-Antasari (Desari) serta masuknya developer besar ke Depok seperti Agung Podomoro Group yang mengembangkan proyek bernilai triliunan boleh jadi masih akan meningkatkan pamor Depok.

Daya tarik Kota Depok sebagai kawasan hunian juga diamini CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda. Menurut dia, hadirnya infrastruktur jalan tol Cinere - Jagorawi (Cijago) dan Depok-Antasari (Desari) diprediksi mendorong pertumbuhan properti di Depok. Kenaikan nilai tanah di kawasan ini diperkirakan mencapai sekitar 20% setiap tahunnya.

“Kehadiran jalan tol di Depok membuat harga lahan di kawasan ini terdongkrak menjadi demikian tinggi terutama wilayah Margonda, jalan Juanda dan sekitarnya sehingga di koridor ini pembangunan harus vertikal, sedangkan untuk landed kini bergeser ke arah lebih jauh ke selatan, yakni Sawangan dan Bojonggede,” kata Ali.

Dia menambahkan, kalau pada era tahun 2003 proyek apartemen di koridor Margonda hanya menyasar pasar sewa mahasiswa, maka dalam beberapa tahun terakhir ini pasar properti di kawasan itu sudah akan menyasar kelas menengah di segmen keluarga muda. RIN