TOPIK UTAMA

Tahun ini Jadi Titik Balik Pasar Properti?

Administrator | Rabu, 08 November 2017 - 15:26:21 WIB | dibaca: 406 pembaca

Siklus properti diprediksi sudah pada titik terbawah dan bersiap naik. Namun pergerakan siklus ini perlu ditopang oleh kebijakan pemerintah yang lebih pro-bisnis.

Pasar properti saat ini disebut-sebut sudah berada di posisi turning point, setelah melambat sejak 2013. Indonesia Property Watch (IPW) memperkirakan industri properti nasional akan bergerak naik di semester kedua tahun ini. Banyak isu-isu strategis yang dikeluarkan Pemerintah untuk menggenjot pasar properti sejak 2016 diharapkan sudah berimbas di 2017.

Direktur Eksekutif IPW, Ali Tranghanda menyebutkan potensi pasar paling besar masih berada di segmen menengah karena sekitar 40% penduduk Indonesia berpenghasilan Rp 5 juta hingga Rp 20 juta per bulan. Dia menambahkan, secara normal siklus properti memang sudah saatnya untuk mulai meninggalkan titik terendah akibat kejenuhan pasar.

“Kita bisa melihat ke belakang ketika pasar properti mulai bergaung di tahun 2009, yang naik terus sampai 2013. Nah, ada waktu empat tahun untuk pasar properti ini mencapai puncaknya. Dan siklus kenaikan itu bakal terjadi di 2017, kemungkinan momennya di semester kedua ini,” papar Ali.

Dia berkeyakinan tahun ini merupakan fase upswing dimana minat pasar mulai bergairah disusul oleh penjualan dan persaingan yang meningkat. Fase upswing ialah waktu yang tepat untuk berinvestasi.

“Jangan tunggu sampai di titik puncak. Saat pasar properti capai fase seperti sekarang ini pada 2013, banyak orang yang terlena dan tidak siap,” ungkap Ali.

Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Mary Octo Sihombing dalam satu diskusi yang sama mengemukakan optimisme pasar properti di Indonesia terlebih di Jabodetabek akan terus bertumbuh.

Menurut dia ada beberapa kondisi yang dibutuhkan untuk mendorong bergeraknya sektor properti antara lain kondisi makro ekonomi yang kondusif, tingkat suku bunga kredit dan stabilitas nilai tukar, daya beli dan investment confidence, serta pembangunan infrastruktur.

“Fundamental ekonomi kita bagus, sementara pertumbuhan ekonomi secara bertahap diperkirakan akan mencapai 6% pada 2019. Ini tentu modal kuat untuk pertumbuhan sektor properti,” papar Mary Octo.

Dukungan lain yang memengaruhi pasar properti adalah political stabilitation, dimana tahapan pilkada di 100 lebih daerah yang baru saja berlangsung berjalan lancar dan aman. Hal ini, kata Mary Octo, cukup bagus karena membawa efek situasi yang lebih kondusif, sehingga membawa kepercayaan terhadap pasar properti.

Digalakkannya Program Sejuta Rumah (PSR) oleh pemerintah juga menjadi peluang bagi developer. Dengan backlog perumahan yang mencapai lebih dari 11 juta unit, diakui dia, kebutuhan hunian menengah bawah masih cukup besar.

Dengan kebutuhan rumah sekitar 800.000 unit per tahun, dan pasokan setiap tahunnya hanya berkisar 300.000 unit hingga 400.000 unit, dipastikan kebutuhan hunian di Indonesia masih terbuka lebar.

Kalangan pengembang pun tampaknya menaruh asa pasar properti akan lebih membaik di semester kedua tahun ini.

Direktur Pemasaran PT Alam Sutera Realty Tbk, Lilia Sukotjo, menjelaskan dengan kondisi makro ekonomi Indonesia yang membaik, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2017 yang mencapai 5,01 persen, dia meyakini penjualan properti membaik pada paruh kedua 2017.

Selain itu, bonus demografi dan infrastruktur yang mulai terbangun akan mulai terasa akan membuat beberapa sektor seperti kesehatan, pendidikan, transportasi, perumahan, dan juga e-commerce. “Seharusnya sih dalam 4-5 bulan ke depan pasar properti akan naik lagi, terutama untuk segmen hunian mengingat kebutuhannya yang masih besar,” ujar Lilia.

Dia menambahkan, infrastruktur yang terbangun secara merata juga akan memunculkan kebutuhan properti secara merata.

Hal senada diungkapkan Presiden Direktur Paramount Land, Ervan Adi Nugroho. Menurut dia, di semester kedua tahun ini kemungkinan penjualan akan lebih baik. Indikasi paling mudah bisa dilihat dari semakin gencarnya pengembang beriklan di media massa. Kondisi itu tidak terlihat pada 3-4 bulan sebelumnya.

“Itu yang paling mudah deh. Ini berarti pengembang mulai optimis pasar properti akan lebih bagus. Siklus (melambat) ini sudah cukup lama, sudah lebih dari tiga tahun. Jadi seharusnya sih saat ini waktu untuk properti take off kembali. Asal jangan ada gejolak politik saja,” ungkap dia.

Direktur Properti dan Komersial PT Wika Realty, Agung Salladin, juga menyampaikan harapan pasar properti bakal membaik di semester kedua 2017. Banyak faktor positif yang mendukung, dari suku bunga KPR rendah, meski diakuinya pasar harus lebih didorong terutama dengan menyediakan produk dengan konsep menarik dan harga terjangkau.

“Di semester pertama ini sudah terlihat peningkatan permintaan, yang diharapkan makin kuat di semester kedua terutama pasca Lebaran,” ungkap Agung.

Komitmen pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur, ungkap Managing Director PT Megapolitan Developments, Tbk, Ronald Wihardja, pun membawa pengaruh baik dalam mendorong pasar properti terlebih segmen hunian. Dia yakin di paruh kedua tahun ini penjualan akan lebih menggeliat.

Megapolitan adalah salah satu pengembang yang akan merasakan bonus pembangunan infrastruktur yang segera terbangun yaitu tol Cinere-Serpong. Menurut dia, prinsip dasar properti adalah lokasi, semakin mudah aksesnya maka konsumen semakin minat.

STAGNASI HARGA

Sementara itu, pengamat properti dari Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan, stagnansi pasar saat ini salah satunya disebabkan harga jual properti di Indonesia terutama di Jabodetabek yang sudah naik cukup tinggi sehingga makin sulit dijangkau mayoritas konsumen. Kondisi itu memengaruhi penjualan pengembang.

Selama ini, ungkap dia, pasar properti di Jabodetabek mayoritas didominasi investor, dibanding pengguna (end user). Kondisi sekarang, kebanyakan investor justru lagi tiarap. Mereka menahan pembelian, atau menaruh dananya di investasi lain. Bahkan tidak sedikit investor yang saat ini melepas asetnya. Fakta itu turut menahan laju penjualan properti.

“Investor tahan diri, sementara end user enggak beli karena harga properti masih mahal, masih di atas normal,” ungkap Anton.

Setidaknya, menurut dia, industri properti butuh waktu 1-2 tahun ke depan untuk men-judge harga mencapai level ideal, sehingga sesuai dengan daya beli masyarakat. Kendala lain, harga jual tanah yang terus melambung akibat ulah para spekulan. Land cost di Indonesia cukup tinggi. Ini juga membuat harga properti naik tidak terkendali.

Di tengah situasi itu, Anton menyarankan pengembang mengkoreksi harga jual. Meski keuntungan berkurang, namun yang terpenting penjualan bergerak. Segmen apartemen khusus mahasiswa diprediksi cukup bagus pasarnya, karena memiliki target pasar riil.

“Untuk mengatasi keadaan tersebut (stagnasi pasar), butuh kreatifitas dan inovasi dari para pengembang dan perbankan,” saran Anton. RIN/TPW