Kilas Berita

Tiga Faktor Ini Pengaruhi Minat Milenial Beli Properti

Administrator | Selasa, 07 Mei 2019 - 09:31:07 WIB | dibaca: 147 pembaca

Foto: Istimewa

Pelaku usaha harus memahami selera milenial dalam memasarkan produknya. Setidaknya ada tiga faktor yang menjadi pertimbangan milenial sebelum membeli rumah tinggal, yakni akses, pembayaran, dan konsep. Demikian menurut analisis praktisi pemasaran properti.

Ketua Umum DPP Asosiasi Real Estat Broker Indonesia (AREBI) Lukas Bong mengungkapkan cara pandang generasi milenial berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya dalam membeli properti terutama tempat tinggal. Kalau generasi sebelumnya hanya mempertimbangkan faktor lokasi, lokasi dan lokasi – maka generasi milenial tidak lagi menjadikan lokasi sebagai alasan utama.

Menurut dia, kelompok milenial tidak terlalu keberatan dengan lokasi rumah yang sedikit jauh dari tempatnya beraktivitas, asal aksesnya mudah. Itulah kenapa hunian di kawasan Serpong menarik minat milenial, meski jaraknya cukup jauh dari Jakarta. Akses transportasi massal seperti MRT dan LRT justru kini menjadi senjata ampuh untuk menarik minat kaum milenial.

“Kalau aksesnya mudah, kemudian milenial akan melihat konsep hunian dan desain interior dari rumah tinggal yang ingin dibeli. Mereka lebih suka hunian yang nyaman, simple dan instragramable. Unik, itu jadi daya tarik sekarang. Saya kira pengembang harus sudah melirik kepada tren ini,” papar Lukas dalam sebuah diskusi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selanjutnya yang menjadi perhatian generasi milenial adalah harga dan cara pembayaran. Misalnya soal harga uang muka (down payment/DP), bunga hingga besaran cicilan KPR atau KPA. Daya tarik lain seperti cash back, bonus dan hadiah pun cukup ampuh menjadi daya tarik.

Berdasarkan data BI pada 2014 hingga 2017, pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) justru didominasi generasi milenial.

Manajer Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Bayu Adi Gunawan mengatakan, dominasi generasi milenial yang meminati KPR tersebut cenderung meminati hunian berupa rumah tapak (landed house) dan rumah susun (apartemen).

“Pengajuan KPR yang berusia muda meningkat. Tipe hunian yang mereka minati adalah 22/70 untuk rumah tapak maupun rumah susun,” jelas Bayu. Usia rata-rata generasi milenial yang mengajukan KPR di kisaran 26-35 tahun. Adapun jumlah penggunaan fasilitas KPR ini lebih besar dibanding kelompok masyarakat usia 36-45 tahun. Hal tersebut, mencerminkan anak-anak muda saat ini sudah mulai meninggalkan gaya hidup dan beralih kepada investasi.

Untuk itu, BI pada Agustus 2018 memutuskan untuk melonggarkan LTV, salah satunya bertujuan agar semakin memudahkan generasi milenial untuk mendapatkan hunian impiannya.

Menyinggung mengenai tren pembelian properti saat ini, diakui Lukas Bong, di segmen menengah atas pembelian masih didominasi pembelian secara tunai atau tunai bertahap kepada developer. Sedangkan pembelian secara KPR tidak terlalu signifikan.

“Ternyata (untuk menengah atas) cukup banyak yang bayar cash di developer, ini menarik karena tidak melalui instrumen kredit perbankan,” ungkap dia.

Kondisi berbeda terjadi di segmen menengah bawah, dimana instrumen KPR dan KPA justru mendominasi. Generasi milenial, menurut Lukas, masih di segmen pasar ini sehingga tawaran suku bunga dan besaran cicilan menjadi faktor penting.

Momentum Tepat
Lukas menilai saat ini adalah merupakan momentum yang paling tepat untuk membeli dan berinvestasi di properti. Karena dari sisi harga masih belum mengalami kenaikan signifikan bahkan cenderung stagnan. Di samping itu, banyak pengembang yang menawarkan promo menarik ditambah bunga bank yang cukup rendah sehingga membuat harga properti lebih terjangkau. “Biasanya kalau pasar sudah membaik pasti harga properti naik kembali. Jadi ini kesempatan tepat bagi yang ingin investasi,” kata dia.

Dijelaskan, properti saat ini masih menjadi kebutuhan primer. Kondisi itu terlihat dari peningkatan transaksi pembelian properti yang cukup signifikan. Menurut Lukas, properti masih dapat diandalkan sebagai instrumen investasi. (Rinaldi)