SEPUTAR DAERAH

Terpilih Secara Aklamasi

Toni Bangun Kembali Komunikasi dengan Stakeholder

Administrator | Kamis, 22 November 2018 - 16:15:40 WIB | dibaca: 25 pembaca

Lewat kesepakatan bersama (aklamasi), Toni, akhirnya terpilih menjadi Ketua Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPD REI) Kepulauan Riau periode 2017-2020. Dia memastikan akan melakukan perubahan signifikan dalam kepengurusan REI Kepulauan Riau. Salah satunya memperbaiki pola komunikasi di internal maupun eksternal organisasi.

"Kami akan jalin kembali hubungan yang baik dengan stakeholder terutama dengan pemerintah daerah. Kalau selama ini kami jarang diikutsertakan dalam agenda-agenda pemerintah daerah di bidang perumahan dan permukiman baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, maka ke depan komunikasi akan kami perbaiki,” kata Toni, usai terpilih dalam Musyawarah Daerah (Musda) V REI Kepri di Hotel Aston Tanjungpinang, pertengahan Maret 2018. Toni menggantikan Yasinul Arief yang masa kepengurusannya sudah berakhir sejak medio 2017.

Menurut penganut gaya hidup vegetarian tersebut, komunikasi adalah kunci mengurai benang kusut yang terjadi di internal REI Kepri. Pihaknya akan membuat skema publikasi seluruh kegiatan REI Kepri sehingga masyarakat dan pemerintah daerah bisa mengetahui semua informasi yang dilakukan pengurus. Dia juga berharap seluruh anggota REI Kepri dapat bahu membahu bersama demi kemajuan organisasi.

“Jangan hanya mengkritik. Kita butuh tim yang bersedia bersama-sama bekerja untuk membesarkan organisasi yang kita cintai ini,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP REI, Djoko Slamet Oetomo mengimbau agar Toni dapat mengemban amanah kepercayaan yang melekat pada jabatan Ketua REI Kepri. Menurut dia, sudah sepatutnya seorang pemimpin harus dapat menampung dan memformulasikan solusi permasalahan bisnis yang dihadapi anggota.

”Harus dipelajari dan diselesaikan setiap permasalahan anggota, agar tidak ada lagi permasalahan dihadapi para developer yang bergabung di REI Kepri,” ucapnya.

Djoko Slamet Oetomo mengimbau agar developer harus mampu menghasilkan gagasan yang baru agar produk properti yang ditawarkan dapat diterima pasar. Pengembang, kata dia, juga harus mampu melahirkan ide, konsep, gagasan, desain dan kawasan yang memiliki nilai tambah sehingga produk-produknya dapat diterima secara baik.

Genjot Pariwisata
Kondisi alam yang elok menjadi salah satu andalan Provinsi Kepulauan Riau yang sebagian besar wilayahnya merupakan lautan.

Potensi pariwisata bahari di kawasan yang berdekatan dengan Singapura ini sudah tidak usah diragukan lagi.

“Pariwisata bahari di Kepri seperti yang ada di Lagoi sudah sangat kesohor hingga ke mancanegara. Hanya saja, pertumbuhan sektor pariwisata di sini masih belum ditunjang pengembangan infrastruktur yang memadai,” kata Toni.

Padahal, saat ini Pemprov Kepri mematok target kunjungan satu juta wisatawan mancanegara, khususnya yang berasal dari Tiongkok. Mengapa Tiongkok menjadi target? Toni menjelaskan bahwa masyarakat etnis Cina yang bermukim di Kepri memiliki kedekatan emosional yang masih terjaga dengan kerabat di Tiongkok.

Dia menjelaskan ketika era perang saudara di Tiongkok, banyak warganya eksodus ke negara lain, termasuk ke Indonesia. Kepri menjadi salah satu daerah tujuan para pengungsi perang tersebut. Namun belakangan, di era pemerintahan orde baru sebagian besar pengungsi itu dipulangkan ke negerinya. Sedangkan sisanya masih bermukim di Kepri hingga saat ini.

“Sebagian kerabat saya juga ada yang ikut dipulangkan ke sana. Nah itu mengapa ikatan emosional warga Tiongkok dengan Kepri masih kuat sekali,” ujar Toni.

Sejumlah anggota REI Kepri, sudah melirik potensi tersebut. Namun dia juga mempersilakan apabila ada pengusaha anggota REI dari daerah lain yang ingin mengadu peruntungan di wilayahnya.

“Kami ingin menawarkan kepada kawan-kawan REI dari wilayah lain untuk ikut meramaikan investasi properti pendukung sektor pariwisata di sini,” kata dia.

Adapun program kerja tiga tahunan REI Kepri, lanjut Toni, antara lain mengupayakan penyelesaian permasalahan disharmoni hubungan antara anggota dengan bank penyalur kredit properti. Selain permasalahan itu, kendala bidang perizinan lahan maupun izin lainnya serta perpajakan juga turut menjadi fokus kegiatan yang akan dijalankan.

“Untuk jangka menengah, kami ingin mengikat pihak ketiga melalui perjanjian kerjasama terkait berbagai aspek. Salah satu yang tengah disiapkan adalah perjanjian nota kesepahaman dengan Dinas Perumahan dan Permukiman Penduduk Provinsi Kepri guna memastikan pemberlakuan kemudahan perizinan seperti beleid yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2016 tentang Pembangunan Perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR),” ungkap Toni.

Sedangkan program jangka panjang yang ingin ditempuhnya, beber Toni, adalah memastikan proses regenerasi anggota berjalan optimal. Regenerasi merupakan hal mutlak yang harus dilakukan demi menciptakan kepengurusan REI Kepri yang lebih matang dan dewasa.

Dalam tiga tahun ke depan, menurut Toni, pihaknya menginginkan lahirnya seorang pemimpin REI Kepri yang memiliki wawasan yang luas dan mampu membesarkan organisasi pengusaha real estat di daerah tersebut. (Oki Baren)