TOPIK UTAMA

Tren Positif Bisnis Kawasan Industri

Administrator | Senin, 12 November 2018 - 13:53:29 WIB | dibaca: 38 pembaca

Foto: Istimewa

Sejak medio 2017 permintaan lahan industri telah menunjukkan peningkatan yang positif. Tren penjualan pengembang kawasan industri pun terus bertumbuh, meski belum mencapai kondisi seperti 2011. Ibarat orang tidur, pasar kawasan industri baru mulaimenggeliat.

Data konsultan riset properti Colliers International Indonesia memperlihatkan puncak penjualan lahan industri di Jabodetabek terjadi pada 2011 dengan realisasi penjualan lebih dari 1.200 hektar. Kemudian turun di 2012 menjadi 600 hektar dan terus merosot hingga level terbawah pada 2016 yakni sekitar 200 hektar.

Namun, ungkap Ferry Salanto, Associate Director Colliers International Indonesia, tren penjualan lahan industri cenderung membaik sepanjang 2017 dengan realisasi di atas 200 hektar.

“Sementara di tahun ini kemungkinan masih akan bertumbuh, meski masih jauh sekali dibandingkan kondisi 2011 atau 2012. Kami prediksi pertumbuhan (permintaan) tidak lebih dari 10 persen,” ungkap Ferry.

Pertumbuhan permintaan investor terhadap lahan industri juga diaminkan oleh Head of Research & Consultancy PT Savills Consultants Indonesia, Anton Sitorus. Menurut dia, prospek 
pengembangan kawasan industri di Indonesia semakin membaik, namun sayangnya tidak dibarengi dengan kesiapan pasokan.

”Permintaan ada, tapi pasokannya yang enggak ada. Sekarang pasokan justru banyak di luar Jabodetabek seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Makassar,” ujar Anton.

Menurut dia, kawasan industri yang unggul dapat dilihat dari fasilitas yang tersedia baik di dalam maupun di luar. Terlebih jika kawasan industri mendapat dukungan penuh dari pemerintah sehingga dapat berjalan dengan baik dan akan menunjang konektivitas di kawasan tersebut seperti melalui infrastruktur jalan, waterplan, hingga lokasi yang dekat dengan pelabuhan.

Country Head Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia Todd Lauchlan menyebutkan sejumlah investor dari beberapa negara Asia seperti Jepang, China, Hongkong, dan Singapura mulai menunjukkan minat cukup tinggi untuk berinvestasi khususnya di sektor logistik. Selain mengincar lahan industri, investor juga membidik kawasan pergudangan siap pakai.

Proyeksi JLL, pasokan baru pergudangan modern hingga 2021 diperkirakan mencapai 500 ribu meter persegi.

Adapun lokasi pergudangan dan kawasan industri yang masih menjadi favorit investor adalah di timur Jakarta dengan Bekasi dan Karawang sebagai penguasa pasar. Pasokan pergudangan dan kawasan industri di kedua wilayah ini berkontribusi sekitar 66 persen. Sementara 28 persen lainnya dipenuhi pergudangan dan kawasan industri barat Jakarta di wilayah Serang, dan Cilegon.

“Meski permintaan terus tumbuh dengan peningkatan harga sewa, namun realisasi investasi akan sangat tergantung aktivitas politik khususnya memasuki tahun politik,” ungkap Todd.

Kondisi Teranyar
Hampir seluruh konsultan properti memprediksi pasar kawasan industri dan pergudangan bakal “berlari” lebih kencang di 2018. Benarkah demikian?

Di kuartal I 2018 penjualan lahan industri di Jabodetabek diakui masih sedikit. Menurut Ferry Salanto, kondisi itu masih wajar dan tidak bisa menjadi acuan buruknya kondisi bisnis lahan industri. Dijelaskan, di awal tahun investor biasa masih wait and see.

Selain itu, data yang dimiliki oleh Colliers juga belum mencakup data keseluruhan, karena beberapa kawasan industri baru bisa mengelurkan data dua pekan pasca kuartal ditutup.

“Memang ada beberapa kawasan yang penjualan cukup baik, namun belum sebesar biasanya seperti ModernCikande, Bekasi Fajar, dan KIIC,” papar Ferry.

Berdasarkan data Colliers, hingga kuartal I 2018, ModernCikande telah menjual lebih dari 3,5 hektare lahan, Bekasi Fajar seluas 2,5 hektar, KIIC lebih dari 2,3 hektar, CCIE seluas 0,8 hektar, Krakatau Industrial Estate Cilegon 0,5 hektar, Besland Pertiwi 0,2 hektar, dan terakhir Griya Idola seluas 0,1 hektar.

Terkait harga, Ferry mengungkapkan sementara beberapa kawasan industri hanya melakukan penyesuian harga di Bogor dan Sentul. Kedua kawasan itu memang masih bisa memberikan harga yang cukup tinggi, mengingat stok lahan di kedua kawasan tersebut sangat terbatas dan juga persaingan yang cukup rendah.

Berdasarkan harga, kawasan Bogor menjadi daerah yang harganya melambung paling tinggi. Pada 2006, harga lahan industri di Bogor hanya US$ 50 permeter persegi, kemudian naik tertinggi pada 2012 mencapai US$ 180 per meter persegi, dan di kuartal I 2018 harga kawasan industri di Bogor lebih dari US$ 270 per meter persegi.

Sementara itu, di Bekasi yang merupakan daerah dengan harga yang juga cukup tinggi sejak 2014 memberikan harga tawar yang bertahan di kisaran US$ 230 per meter persegi. Disusul Tangerang dengan harga US$ 170 per meter persegi yang bertahan sejak semester II 2017. Harga tertinggi kawasan industri di Tangerang pernah mencapai US$ 200 per meter persegi pada 2016.

Adapun sektor-sektor yang masih aktif mengisi kawasan industri pada kuartal I 2018 adalah otomotif sebesar 48%, material bangunan 18%, industri baja 7%, kimia 7%, minyak dan gas 5%, dan sisanya lain-lain.

Sementara untuk pergudangan modern, menurut data JLL, hingga kuartal I 2018, stok tersedia mencapai 1,3 juta meter persegi dan permintaan terus meningkat. Harga sewa gudang berada di kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 80 ribu rupiah per meter persegi. Dengan pertumbuhan sewa hingga akhir tahun diprediksi 5% hingga 6%. (Rinaldi/Teti Purwanti)