17-07-2013 17:22:08

Harga Lahan di Kebon Melati Selangit!

JAKARTA- Kebon Melati, memang hanya sebuah nama kelurahan dalam struktur wilayah Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Akan tetapi, "kasta" kelurahan ini kian melambung ketika tersiar kabar PT Intiland Development Tbk akan mengembangkan properti multifungsi seluas lebih kurang 6 hingga 10 hektar.

Kebon Melati menjadi pembicaraan karena di kawasan ini, Intiland bakal menggarap apartemen, hotel, perkantoran dan ruang ritel senilai Rp 400 miliar secara bertahap. Realisasi dari rencana strategis tersebut dilakukan tahun 2014 mendatang.

Corporate Public Relation Intiland Development Prananda Herdiawan mengatakan proyek terbaru ini merupakan properti mixed use dan high rise (memiliki ketinggian tertentu yang dapat dikategorikan sebagai tall building).

"Lahan yang sudah diokupasi Intiland merupakan bank tanah perseroan (land bank) yang sudah dimiliki sejak lama," jelas Prananda kepada Kompas.com, di Jakarta, Selasa (16/7/2013).

Jelas, kabar ini memicu spekulan tanah memainkan harga setinggi mungkin. Saat ini harga pasar yang berlaku sekitar Rp 45 juta hingga Rp 50 juta meter persegi. Sementara nilai jual obyek pajak (NJOP) yang dirilis secara resmi oleh Direktorat Jenderal Pajak, terendah mencapai Rp 18,9 juta dan tertinggi Rp 22,6 juta per meter persegi. Angka ini berlaku untuk ruas-ruas jalan tertentu seperti Jl Kebon Kacang Raya, Jl Tanjung Karang, Jl Talang Betutu dan Jl Kebon Melati Raya.

Di ruas Jl Kebon Kacang Raya, sudah berdiri properti multifungsi seperti Thamrin City (dahulu Jakarta City Center). Sementara berdekatan dengan Thamrin City, terdapat mega properti Grand Indonesia dan Plaza Indonesia serta gedung-gedung perkantoran macam UOB Tower.

Ketersediaan lahan kosong di Jakarta untuk pengembangan properti multifungsi memang terbatas. Defisit ini yang kemudian memicu harga lahan meroket tajam.

Menurut Direktur Keuangan Plaza Indonesia Realty, Lucy Suyanto, tingginya permintaan yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan mengakibatkan harga terus melambung. Hal tersebut juga berakibat pada tingginya harga properti.

"Tak heran jika saat ini harga properti di Jakarta ada yang tembus angka Rp 75 juta hingga Rp 100 juta per meter persegi. Keraton at The Plaza yang kami bangun sudah mencapai Rp 73,5 juta per meter persegi. Padahal tahun lalu masih berada pada kisaran Rp 51 juta per meter persegi," ujar Lucy. (Hilda B Alexander) (kompas.com)

About REI

Tunas yang baru tumbuh tak seketika menghasilkan buah ranum untuk dipanen. tunas akan dihadapkan pada kepastian tentang nasibnya: mati, tumbuh kerdil, tumbuh liar, atau berkembang menjadi pohon rindang yang banyak memberi manfaat kepada kehidupan.  [selengkapnya]

Agenda

Berita

Liputan Utama

Pelemahan Rupiah Goyang Industri Properti?
Mata uang rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (US$) beserta mata uang dunia lainnya sejak bulan Agustus 2013. Sejumlah sektor ekonomi Indonesia pun mengalami goncangan. Apakah sektor properti termasuk yang terkena dampaknya?

Liputan Utama

Catatan Awal Tahun KPR Bersubsidi
Mirisnya, tahun lalu, realisasi target penyaluran KPR FLPP itu jauh panggang dari api.

Liputan Utama

Teguh Satria: Kebijakan Perumahan Tidak Didukung Menkeu
Kebijakan perumahan yang diluncurkan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) saat ini tidak didukung oleh Menteri Keuangan.
Realestat Indonesia, Rukan Simprug Indah JL. Teuku Nyak arief NO.9B, Kebayoran Lama Jakarta - Selatan , Telp.021-72789105(hunting), Fax.021-72789155 Email : dpprei@yahoo.com, Website : rei.or.id
DPP REI - Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia © 2008-2012. AllRight reserved